
Damian bersama para tetua dari kastil penguasa monster mengantar kepergian Yoluta dan Casey, mereka berdua akan pergi menemui Elena.
sementara itu Elena bersama Liana dan Leon telah pergi ke kota yang lain, mereka berniat pergi sampai keluar dari perbatasan dan masuk Kekaisaran Barat.
"Kita mampir sebentar?" tanya Elena pada Liana seraya menunjuk kedai makan.
"Boleh," jawab Liana.
Mereka pun masuk ke kedai itu lalu mengambil tempat duduk dekat dengan jendela, mereka meletakan barang mereka di samping meja.
"Aku akan ke sana sebentar." Elena pergi sebentar keluar kedai.
Elena pergi ke guild petualang untuk mencari misi yang cocok dengan peringkatnya, ia naik peringkat E berapa hari yang lalu.
"Huft. Bayaran hanya 50 perak? apa tidak bisa lebih?" batin Elena melihat misi peringkat E.
Karena tidak mendapatkan bayaran yang cukup Elena memutuskan kembali lagi, dia lebih memilih melakukan misi gabungan dengan Liana karena peringkat Liana lebih tinggi darinya.
Setelah makan mereka pergi mencari penginapan untuk menyimpan barang-barang, setelah itu mereka pergi berburu.
"Apa tidak masalah langsung pergi berburu?" tanya Elena pada Liana.
"Tentu saja. Di sini banyak monster jadi kita langsung berburu saja, kota ini terkenal karena banyak sekali monster. Bayaran setiap monster tidak akan pernah bisa kau bayangkan," jawab Liana. Ia sangat berpengalaman dalam berburu.
Mereka berjalan masuk semakin dalam ke hutan, hutan itu sangat sepi saking sepinya sampai terasa aneh.
"Kyaaaa." Teriakan seorang wanita dari jarak yang tidak jauh, Elena bersama Liana langsung berlari ke sana.
"Menjauh dari ku. Jangan mendekat dasar kalian hewan menjijikan. Siapa pun tolong aku," teriak wanita itu saat dirinya di kepung oleh serigala petir.
"Sial! itu monster peringkat D, jika hanya satu aku bisa mengalahkannya. Tapi kalau ada lebih dari 10, bagaimana kita menyelamatkan wanita itu?" tanya Liana. Ia mulai mencari akal untuk menyerang.
"Kau ambil dia dulu." Elena menurunkan Leon dari pundaknya dan memberikan Leon pada Liana.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Liana memegang tangan Elena.
"Tentu saja menyelamatkan wanita itu, mana mungkin aku menyerahkan diri ku untuk di makan oleh mereka," jawab Elena.
"Bodoh!" Liana memukul kepala Elena, "Mana mungkin keahlian elemental angin mu mempan pada monster tingkat menengah, kau harus ingat sekarang kau masih level dasar tingkat 12. Aku saja yang Level misteri tingkat 1 harus berpikir sebelum bertindak."
"Menurut mu bagaimana aku bisa melempar Abigail yang level misteri tingkat 4 itu. Jangan memandang remeh aku," balas Elena penuh rasa percaya diri.
Liana terpaksa melepaskan tangan Elena dan membiarkan dia pergi, dalam hatinya masih cemas dengan Elena. Namun melihat seberapa besar tekad Elena, Liana harus mengalah.
"Hei!" teriak Elena membuat dirinya menjadi perhatian serigala petir itu.
"Memanggil Salamander, memanggil Gnome," Elena memanggil 2 spiritnya.
"Ayo anak-anak, kalahkan mereka," perintah Elena. Tapi dia hanya mendapatkan tatapan tajam dari 2 spirit tersebut, Elena menjadi bingung karena hal itu.
Salamander langsung menerjang para serigala itu, sedangkan Gnome hanya duduk dengan santai.
"Masalah monster tingkat rendah ini, Salamander saja sudah cukup membuat mereka menjadi daging panggang. Tapi kenapa aku juga di panggil?" sinis Gnome membuat Elena tersenyum canggung.
"Kalau begitu kau, selamatkan saja wanita itu. Tolong yah," pinta Elena. Gnome menghela nafas. Tapi ia tetap pergi, sekesal apapun mereka dengan Elena mereka selalu menurut.
"Irene itu … seorang pemanggil?" Liana baru terkejutnya padahal sudah 15 menit berlalu.
Elena yang sedang duduk langsung berdiri melihat Gnome menghilang, Salamander sendiri langsung memperkuat perlindungannya.
"Dia adalah pemimpinnya," telepati dari Salamander pada Elena.
Elena sudah tahu dari ukuran tubuhnya, kekuatannya, serta mahkota yang ada di kepala serigala itu. Tapi tetap saja Elena marah besar karena serigala itu menyerang Gnome dari belakang, entah ada di mana dia sejak tadi sampai melakukan serangan dadakan seperti pengecut.
"Apa yang kau tunggu?" teriak wanita itu pada Elena, "Cepat selamatkan aku, apa kau jadi bodoh saat melihat serigala itu? cepatlah!"
"Hah? apa kau pikir nona ku adalah pelayan mu? dasar sombong," geram Salamander.
Elena merasa ada yang aneh dari wanita itu. Para serigala tadi tidak menyerangnya padahal jarak mereka sangat dekat, lalu sekarang pemimpin mereka tidak menyerang wanita itu.
Sejak tadi pemimpin mereka mungkin memang ada di sini. Pasukannya jelas terlihat marah pada wanita itu. Tapi mereka tidak menyerang mungkin karena perintah dari pemimpin mereka, lalu setelah Gnome mendekati wanita itu dia langsung menyerang. Serangannya seperti perlindungan yang jelas bukan untuk wanita itu, pikir Elena.
"Salamander, buat dia sibuk. Aku ada rencana," perintah Elena melalui telepati.
Salamander langsung menyerang pemimpin serigala petir, sementara Elena berjalan pelan-pelan menuju wanita itu. Namun pemimpin serigala menyadari langkah Elena, ia pun langsung berbalik meninggalkan Salamander dan berlari menuju Elena.
*****
Yoluta duduk sambil memainkan tombak di tangannya sementara Casey, dia memantau wilayah dari atas tebing dengan tubuh berkeringat dingin.
"Bagaimana Casey apa kau sudah menemukan posisi pasti dari Kota Danau Biru itu?" tanya Yoluta membuat Casey merinding.
Sejak tadi mereka selalu salah masuk kota karena Casey tidak terlalu ingat wilayah di dunia manusia, dia sudah cukup lama tidak keluar dari dunia bawah. Yoluta yang kesal mulai mengancam Casey dengan tombak.
"Ca se y," panggil Yoluta membuat Casey semakin takut.
"Mungkin kita harus ke timur," ucap Casey asal menebak, sekarang ia harus menenangkan Yoluta dulu.
"Baiklah ayo kita ke … akh!" Yoluta meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Yoluta itu …." Casey menunjuk kekuatan gelap dalam jumlah besar dari arah timur.
"Ayo ke sana." Yoluta menahan rasa sakit di kepalanya.
Casey langsung merangkul pinggang Yoluta lalu membentangkan sayapnya, dalam waktu 1 detik Casey membawa Yoluta terbang menuju lokasi dari kekuatan gelap itu.
"Di sana!" Yoluta menunjuk sebuah tempat yang terdapat kubah hitam.
Tiba-tiba saja turun cahaya hijau dari langit yang menyambar Casey, spontan ia langsung menghindar. Namun, kaki Yoluta terkena sedikit sambaran cahaya itu. Tidak lama kemudian dari langit turun 7 pria memegang pedang, satu di antara mereka memakai jubah yang indah.
"Siapa kalian? berani sekali kalian menyerang ku," ucap Casey berusaha menahan amarahnya.
Pria berjubah itu hanya tertawa, ia memberikan isyarat pada 6 pria lain untuk pergi. Mereka pun pergi lalu membuat lingkaran mantra untuk menyegel kekuatan gelap Elena, melihat lingkaran mantra itu Casey langsung terbang mendekati mereka. Namun sayangnya, ada yang menghalangi jalan Casey.
"Aku adalah putra dewa angin, Rafael. Tugas ku menghalangi kalian mendekati calon avatar ayah ku. Kalian berasal dari dunia bawah yang hina, maka jangan berani menodai dunia manusia. Atau aku akan mengantarkan kalian langsung ke neraka, tuhan menciptakan kalian untuk ke neraka maka aku dengan senang akan menjadi kusir kematian untuk kalian menuju ke sana. Aku benar kan?" cemooh Rafael membuat amarah Yoluta membara.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘