The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 32 Masalah daging.



Beberapa saat yang lalu saat serigala itu menerjang Elena seketika sebuah kubah warna hitam membungkus mereka, Elena jatuh pingsan dan jiwa seorang pria tampan bertelinga runcing muncul dari dalam tubuh Elena.


"Beraninya kau." Teriakan pria itu membuat pimpinan serigala petir berlutut, "Kau mau menyerang putri ku? jawab aku!"


"Maafkan saya yang buta ini, tuanku. Saya tidak mengenali putri anda bahkan setelah bertatapan langsung dengannya, maafkan saya. Tolong ampuni saya." Serigala itu memohon ampun dari pria tersebut.


"Putri ku saat ini hanyalah manusia biasa. Kekuatan ku dalam tubuhnya belum bangkit, jadi wajar kau tidak mengenalinya.  Waktu ku tidak banyak maka aku akan ampuni diri mu. Akan tetapi ingatlah satu hal, kenyataan dia adalah putri ku harus kau rahasia kan dari siapa saja. Ingat itu!" ancam pria itu.


"Saya bersumpah." Pimpinan serigala mengambil sumpah yang besar, pria itu tersenyum dan menyentuh kepala sang serigala agar dia juga pingsan. 


"I-itu?" pria itu tercengang saat melihat lingkaran mantra muncul di atas mereka.


"Sial! Kau masih belum menyerah juga rupanya Euros, kau masih menargetkan dia karena berpikir dia adalah reinkarnasi ku. Suatu saat nanti keberadaannya akan membuat kalian takut. Aku yakin putri ku akan membalas dendam ku kepada kalian semua," batin pria itu menesteskan airmata. 


Sementara itu Yoluta bertarung dengan Rafael, sedangkan Casey melawan pembuat lingkaran mantra. Pria itu tersenyum melihat siapa yang bertarung di udara, ia memberikan bantuannya dengan menarik tombak di punggung Yoluta dari bawah. Yoluta terkejut karena tiba-tiba saja tombak itu pergi ke bawa.


Namun saat ini fokusnya tidak berada di sana, prioritasnya adalah melawan Rafael. Saat tombaknya sudah di tangan pria itu, ia menyalurkan kekuatannya ke dalam tombak lalu ia melempar tombak tersebut tepat ke arah Rafel.


"Kekuatan ini." Yoluta dan Casey merasakan kekuatan penguasa monster dalam tombak yang melesat menusuk tubuh Rafael sampai ke langit, para pengikut Rafael seketika mundur mengikuti Rafael. 5 menit kemudian tombak itu kembali ke punggung Yoluta.


Pria itu tersenyum lalu ia berubah menjadi kabut hitam dan masuk ke dalam tubuh Elena lagi, dalam sekejab kekuatan gelap itu pergi bersama pemiliknya.


"Irene." Liana berlari mendekati Elena yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Bagaimana keadaan nona ku?" tanya Salamander pada Liana.


"Dia hanya pingsan," jawab Liana.


"Ap-apa yang terjadi? kenapa serigala dan wanita itu juga pingsan?" tanya wanita yang tadinya ingin Elena selamatkan.


Liana menatapnya dengan tatapan tajam, dari tadi Liana merasa ada yang aneh dari wanita itu, sejak tadi dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dibalik jubahnya.


"Biar ku lihat apa yang kau sembunyikan." Liana memaksa wanita itu membuka jubahnya.


"Jangan! lepaskan aku! apa yang kau lakukan? hentikan!" Wanita itu berusaha menutupi apa yang dia sembunyikan.


"Aku akan membantu." Leon juga ikut menggelitik wanita itu.


Wanita itu berusaha menahan tawa sayangnya dia gagal sampai bayi serigala yang menggemaskan dari balik jubah wanita itu. Rupanya dia adalah seorang bandit, awalnya dia menyerang sarang serigala petir bersama dengan rekannya. 


Karena serigala petir terlalu banyak maka semua rekannya telah tiada di serang kawanan serigala, ia masih selamat karena bayi serigala itu bersamanya. Liana mengikat wanita itu agar bisa dia  di serahkan ke kesatria keamanan kota, Liana juga menyembuhkan luka pada pimpinan serigala tersebut tidak lupa ia meletakan bayi serigala itu di samping induknya.


"Selamat tinggal," pamit Liana pada bayi serigala.


Liana menggendong Elena lalu mereka kembali ke kota, mereka tidak mengambil satu pun jasad kawanan serigala perit dan sebagai permintaan maaf mereka memakamkan semua jasad itu sebelum pergi di bantu oleh Salamander. Salamander tidak mengantar mereka karena Liana telah memintanya untuk kembali ke dunia spirit.


Setelah Liana pergi cukup jauh Casey bersama Yoluta baru saja sampai di tempat mereka. Namun mereka tidak menemukan siapa pun di sana, selain bayi monster bersama induknya.


"Ini salah mu, master sudah pergi. Kita terlambat," keluh Yoluta menyalahkan Casey sebagai alasan mereka terlambat.


"Kita harus mengobati luka mu dulu. Bagaimana bisa aku biarkan kau pergi dengan luka sebesar itu? kau bisa lumpuh seumur hidup jika kita biarkan lukanya," jelas Casey.


*****


Keesokan harinya Liana dan Elena mendapatkan bayaran 5 koin emas setelah membawakan seekor monster beruang bertanduk, itu monster level D yang cukup menguntungkan.


"Aku akan ke pasar membeli daging segar." Elena berbelok ke arah pasar, Liana hanya menggelengkan kepalanya karena Elena selalu saja berpamitan saat sudah pergi.


"Leon harus mandi sebelum cuaca dingin lagi," batin Liana bergegas ke penginapan.


Penginapan mereka hanya membayar 15 koin perak selama 3 hari 3 malam untuk satu kamar. Pegawai tidak menyediakan makanan, dan pelayanan penuh sebab mereka memakai kamar kelas rendah. Semua serba bayar tidak terkecuali, untuk mandi. Itulah kenapa Liana harus bergegas karena saat hari semakin gelap maka air semakin dingin, penyewa kelas rendah tidak di sediakan air hangat bahkan harus mengantri untuk waktu yang lama. 


Sebagai juru masak hari ini Elena sangat teliti untuk memilih bahan masakan, ia pernah salah memilih sampai membuat Leon diare.


"Ini dia." Elena meraih daging yang masih berwarna merah. Tapi bukan hanya Elena, ada juga pria yang meraih daging itu. Dia tidak lain adalah Casey.


"Maaf, ini milikku. Aku yang pertama melihatnya," ucap Casey mengambil daging tersebut.


"Tunggu!" Elena memegang daging itu juga, "Ini milikku, aku yang pertama meraihnya."


"Hei! kau jangan memaksa ku atau akibatnya akan buruk. Lepaskan daging ini." Casey menarik daging itu sekuat tenaga, Elena pun melakukan hal yang sama.


"Perempuan, aku tidak memukul mu karena kau perempuan ketahuilah di mana posisi mu. Perempuan yang tinggal dengan ku sangat sangar, aku harus kembali untuk memasak daging atas perintahnya. Lepaskan," desak Casey.


"Aku punya anak yang suka makan daging, anak-anak butuh daging segar pada masa pertumbuhan mereka jadi ini milikku. Lepaskan," balas Elena tidak mau kalah.


"Kau …." Casey menangkat tangannya, Elena memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat drama.


"Kau jahat,"  teriak Elena agar menarik perhatian orang-orang.


"Hei! ada apa ini?" tanya pemilik kedai menghampiri Elena dan Casey.


"Pria ini, tuan." Elena menunjuk Casey, "Dia menampar ku hanya karena dia mau merampas daging ini dari ku. Rasanya sakit sekali."


"Ti-tidak. Itu tidak benar," jawab Casey membela dirinya.


"Bohong. Jelas-jelas tadi kau mengangkat tangan mu untuk menampar ku ulang, selama ini aku tidak pernah bertemu dengan pria seburuk diri mu." Elena menambahkan bumbu airmata ke dalam dramanya.


Pemilik kedai melepaskan tangan Casey dari daging itu, lalu ia memberikannya pada Elena, "Ambilah ini. Kau bawa saja, tidak usah bayar anggap saja sebagai permintaan maaf ku."


"Terima kasih," jawab Elena mengambil daging itu, dan pergi dari kedai dengan wajah berlinang air mata. Saat berada di luar kedai Elena berbalik menatap Casey.


"Terima kasih berkat mu aku mendapatkan daging segar yang gratis," ucap Elena menggunakan bahasa bibir. Amarah Casey langsung memuncak. Casey mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lengah, baru 2 hari di dunia manusia dia sudah di bodohi oleh manusia apalagi seorang perempuan.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘