The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 103 Siapa Elena?



"Nona, biar saya urus mereka untuk anda." Hrits mengepalkan tangannya menatap keempat pria di depan.


"Tenggelamlah dalam mimpi buruk." Hirts menggunakan kekuatan ilusinya untuk menjebak mereka. Mereka seolah berhadapan dengan monster level S yang akan merenggut nyawa mereka, semua kesatria di sana melihat seperti apa nasib Kemal bersama ketiga rekannya saat terjebak dalam ilusi itu.


"Ilusi ini akan bekerja selama 5 jam," ucap Hrits. Elena hanya tersenyum mendengarnya.


"Apa itu sakit, sayang?" tanya Elena melihat memar di tubuh Leon.


Elios yang tahu segalanya dengan cepat menengahi perbincangan mereka sebelum Leon berbohong lagi, "Kakak, dia itu kesatria genius di antara kesatria lain. Memar baginya adalah sebuah kehormatan, dia itu pria kan."


"Tapi …." Elena masih saja cemas.


"Lupakan saja. Kakak datang ke mari untuk apa? ayo kita bicara dengan nyaman di luar," potong Elios menarik Elena keluar dari lapangan di ikuti oleh Leon dan Hirts.


*****


"Aku apa? jangan berpikir lagi!" bentak Yoluta pada Damian. Ini sudah hari ke 5 Damian menggantung ceritanya.


"Setelah melahirkan Elena, Rani menyegel kekuatan gelap dalam tubuh Elena bersama dengan kekuatan avatarnya tepat setelah Elena lahir," jawa Elios. Ia datang bersama Aizen dan Amelia.


"Kau …." Damian mengepalkan tangannya karena Elios baru sekarang ke dunia bawah setelah ratusan tahun lamanya.


"Aku sebenarnya ingin menutupi kebenaran ini sesuai keinginan Alden. Akan tetapi, kebenaran sudah sampai di sini maka aku akan mengatakan kebenaran juga. Aizen dan Amelia juga sudah tahu kebenaran itu, aku membuat kesalahan dengan membukam mereka selama beberapa tahun agar kebenaran ini tidak sampai pada kalian," lanjutnya.


"Tuan? apa kau sudah bertemu dengan tuan?" tanya Yoluta dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Ya, di penginapan saat itu. 10 tahun lalu," jawab Yoluta.


"Dan aku mengetahui kebenaran itu saat Elena datang ke Lembah Naga 7 tahun lalu," jawab Aizen.


"Lanjutkan dulu apa yang kau jawab tadi. Setelah ratu menyegel kekuatan Elena apa yang terjadi?" Casey tidak sabar mendengar kelanjutan kisah itu.


"Dia memberikan Elena nama lalu memberikan Elena pada Damian, ia meminta Damian menjaga Elena dengan baik karena setelah disegel olehnya Elena tidak akan tumbuh. Usianya akan tetap sama sampai segel itu terlepas, lalu aku dan Rani pergi membantu Alden dalam perang," jelas Elios, berkat itu penggalan ingatan Damian menyatu dengan baik.


"Ah! itu benar. Saat itu aku membawa Elena menggembara untuk menghindari kesatria suci yang berusaha mencari keberadaan kami, semua baik-baik saja selama 500 tahun. Aku juga tidak menyangka saat itu para dewa berhasil menemukan keberadaan ku, aku melarikan diri dan tanpa sengaja menjatuhkan nona ke sebuah kediaman yang sedang merayakan hari lahirnya anak mereka," ungkap Damian.


"Jangan-jangan …." Vivian mulai mengerti apa yang terjadi selanjutnya.


"Setelah menyadari Elena jatuh aku kembali, dan menemukan bayi terbaring di halaman kediaman. Karena tergesa-gesa aku tidak mengenali bayi yang aku bawa, sampai aku tertangkap lalu terpisah dari bayi itu."


"Lalu segelnya bagaimana bisa lepas?" tanya Casey.


"Mungkin saja karena upacara pemberkatan. Saat bayi baru lahir mereka akan di berikan kekuatan setengah para dewa sesuai keturunan mereka, bisa saja segel Elena lepas saat kekuatan Euros masuk ke dalam tubuhnya," jelas Aizen.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan? bagaimana kita mengatakan kebenaran ini? Elena bukanlah putri keluarga Abraham yang asli, jika dia sampai tahu maka dia pasti akan hancur," ucap Yoluta membayangkan apa yang mungkin saja terjadi.


"Kita butuh rencana besar untuk ini. Tapi, kita sekarang sudah berada dalam masalah yang lebih besar. Kita tidak akan tahu kapan raja para dewa itu bertindak mencari Jolycia," ucap Damian.


Suasana menjadi tegang lagi karena mereka harus membuat 2 rencana sekaligus, jika salah satu gagal maka akibatnya tidak akan bisa mereka tanggung.


Kedatangan Alfred ke Kediaman Euros membuahkan kebahagian bagi para 4 pilar dunia atas, padahal mereka sudah berpikir Alfred akan membuang mereka setelah berbagai kejadian.


"Aku tidak akan berlama-lama, katakan saja pada ku. Siapa nama anak yang menjadi reinkarnasi Alden!" perintah Alfred.


Euros terkejut Alfred sudah tahu kebenaran yang dia sembunyikan, "Maafkan aku, raja. Anda mengetahui itu dari mana?"


"Kenapa? terkejut?" tanya Alfred. Ia mengangkat tangannya seiringan dengan itu tubuh Euros langsung mengambang diudara dengan leher tercekik.


"Kurang ajar kau pada ku. Beraninya kau!" Alfred mengarahkan tangannya ke arah tembok, tubuh Euros pun terikut ke arah yang sama dan membentur tembok kediamannya sampai hancur.


"Karena reinkarnasi itu keturunan mu maka kau menyembunyikannya dari ku, kau telah berkhianat pada ku. Aku tidak punya keturunan jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya ingin melindungi mereka, kau tahu kenapa? karena aku telah membunuh mereka semua, mereka pengkhianat. Ku berikan kau kesempatan kedua melihat kesetiaan mu selama ini, jika kau sampai mengkhianati ku lagi maka kau akan tiada dan Rafael akan menggantikan tempat mu," ancam Alfred membanting tubuh Euros ke lantai. 3 pilar lainnya hanya bisa tertunduk dengan wajah pucat pasi.


"Katakan! siapa reinkarnasi Alden? aku harus melenyapkan orang itu, cepat jawab!" bentak Alfred kepada ketiga pilar lain, ia tidak lagi bertanya pada Euros yang sudah hilang kesadarannya.


"Kami tidak tahu," jawab ketiganya serempak.


"Benarkah?" Alfred mengerakan tangannya kemudian berdiri mendekati ketiga pilar tersebut.


Alfred memeriksa ingatan mereka bertiga. Namun ia tidak menemukan apa yang ia cari, ketiga pilar itu tidak tahu identitas Elena lebih dari namanya.


"Elena yah, siapa Elena itu? dari keluarga mana gadis bodoh itu?" batin Alfred.


"Sapu tangan anda." Grace memberikan sapu tangan pada Alfred untuk membersihkan tangannya.


"Terima kasih. Aku punya tugas untuk mu, cari tahu siapa saja wanita bernama Elena dari keturunan Euros. Aku mau informasi itu secepatnya," perintah Alfred pada Grace.


*****


"Dasar! pergi ke mana Elios? apa dia memang sering menghilang begini?" tanya Elena pada Leon, Leon hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Selamat siang, Kak Elena. Apa aku bisa bergabung?" tanya seorang kesatria tampan berambut biru pada Elena.


"Dia kan Diven Stefano dari Akademik Kesatria Embun Surgawi, kenapa dia ke mari?" batin Leon merasa curiga.


"Maaf." Louis menyela pertanyaan Diven seraya duduk pada kursi yang masih kosong, "Kuris kosong sudah habis, kau bisa duduk di tempat lain. Tidak keberatan kan?"


"Siapa lagi ini? dasar tidak sopan," batin Leon menatap tajam Louis.


"Maaf yah," ucap Elena pada Diven, Diven hanya tersenyum dan pergi ke tempat lain.


"Tidak perlu buru-buru. Setidaknya aku tidak bodoh seperti Kemal dan teman-temannya itu, aku harus menjadi teman Leon agar dekat dengan Kak Elena. Jika aku dianggap sebagai adik olehnya maka nama baik keluarga kami akan meningkat dan aku akan hidup layaknya bangsawan sejati," batin Diven memiliki niat buruk untuk Elena.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak ane dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘