The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 28 Keadilan penguasa kota.



"Minumlah." Ernest membantu Sonia minum dengan penuh kasih sayang, Sonia merasa seakan melayang dengan perlakuan istimewa ini.


Setelah Sonia minum Ernest meletakan cangkir di atas meja dekat ranjang. Lalu ia berdiri dari tempat duduknya, "Aku akan ambilkan makanan."


"Tunggu." Sonia memegang tangan Ernest sebelum Ernest melangkah pergi, "Apa arti dari semua ini?"


Ernest tersenyum kemudian menjawab, "Tidak ada arti khusus. Aku hanya memperlakukan mu dengan layak, kau pantas mendapatkan ini. Selama 4 tahun sejak kejadian hari itu, yang dihina dan terluka di sana bukan hanya aku. Tapi kau juga, kau mengalami banyak kejadian buruk selama 4 tahun terakhir sementara aku malah mengabaikan mu bahkan merasa kau adalah penyebab semua hal buruk itu."


"Ernest, aku tidak pernah menyalahkan mu apa pun yang kau lakukan pada ku. Aku tidak akan meninggalkan mu tanpa mendengar penjelasan dari mu terlebih dahulu, aku tidak seperti Elena yang pergi begitu saja," ucap Sonia menunjukan sebesar apa cintanya untuk Ernest.


"Itulah kesalahan ku. Aku menderita untuk wanita yang pergi tanpa memperdulikan aku, lalu aku mengabaikan wanita yang tanpa aku sadari selalu ada dalam hidup ku. Aku segalanya bagi mu maka dari itu Sonia. " Ernest berlutut dengan satu kaki lalu mencium punggung tangan Sonia, "Tetaplah bersama ku seperti yang selama ini kau lakukan."


"Ya." Sonia meneteskan air mata lalu memeluk Ernest dengan erat.


"Aku akan bertunangan dengan mu, entah dengan atau tanpa izin dari ibuku. Karena aku akan memberikan kau semua kebahagian di dunia ini," ucap Ernest membuat Sonia semakin bahagia.


"Aku tidak akan meminta maaf pada mu karena sudah menyakiti mu Sonia. Ini semua aku lakukan demi cinta ku, jika kau memang rela melakukan apa saja demi aku maka lakukan ini juga demi aku. Mungkin aku akan berpikir untuk memberi mu cinta atau tidak," batin Ernest dengan raut wajah yang dingin.


*****


Keesokan harinya pria berengsek itu memerintahkan kesatria untuk mencari Liana dan Leon, para kesatria menemukan mereka berdua di penginapan saat Elena tidak ada di sana. Mereka berdua lalu di seret atas perintah adik dari penguasa kota.


"Kakak. Dua orang ini adalah pencuri, anak kecil itu mencuri dari ku lalu di bantu oleh seorang petualang. Aku yakin mereka bekerja sama membayar petualang itu sampai memukul ku," tuduh Eros.


"Itu tidak benar. Kakak pria itu sengaja memeras kami, dia juga ingin kakak ku agar mau menikah dengannya. Karena kakak ku menolak dia menuduh aku mencuri, dan berusaha menangkap ku sebagai sandera agar nanti kakak ku bisa patuh padanya. Itulah niatnya," ucap Leon yang mendapatkan tatapan tajam dari penguasa kota.


"Wah." Eros menepuk tangannya, "Lihat itu kak. Anak kecil ini sudah di latih oleh kakaknya untuk berbohong, kejam sekali."


"Kau membuat ku kecewa Liana. Kau menolak lamaran Eros dengan tegas saat itu, lalu kau meminta adik mu mencuri dari Eros bahkan sampai mengajarinya berkata bohong. Aku sangat percaya pada mu, apa ini balasan dari rasa percaya itu?" tanya Odelia pada Liana. Namun Liana diam saja, ia tidak bisa mengatakan apa pun.


"Aku tidak mencuri. Jangan menuduh kakak ku," teriak Leon pada Odelia.


"Dasar anak kurang ajar. Lebih baik ajari adik mu sopan santun dari pada kau ajari dia berbohong. Kau mengatakan kau tidak mencuri, lalu kalian dapat uang dari mana menginap di penginapa mewah? dapat uang dari mana?" desak Eros. Liana bingung mau menjawab apa, tidak akan ada yang percaya padanya bahkan jika dia berkatan jujur.


"Kau di mana Irene," batin Liana ketakutan.


Deg!


Tekanan besar yang menakutkan di rasakan oleh serigala besar Odelia, serigala bernama Hugo itu langsung berdiri dengan posisi waspada menatap ke arah pintu aula utama kediaman Kalandra.


"Ada apa Hugo?" telepati Odelia pada Hugo. Ia merasakan kegelisahan Hugo karena hubungan kontrak di antara mereka.


Krek!


Saat pintu aula terbuka dan Elena melangkahkan kakinya ke dalam aula, seketika bayangan gelap penguasa monster muncul di belakangnya. Karena suasana hati Elena sedang buruk, kekuatan gelapnya bangkit walau hanya sedikit.


"Apa ini? kenapa bisa muncul di sini?" batin Hugo ketakutan, ia sampai melangkah mundur.


"Wanita ini … dia bukan orang biasa, Hugo sampai menjaga jarak darinya. Ini tidak benar," batin Odelia. Ia pun langsung berdiri dari atas tempat duduknya, kemudian melangkah mendekati Elena..


"Siapa kau? kenapa kau bisa masuk ke kediaman ku tanpa izin dari ku?" tanya Odelia yang menunjukan kekuasaannya pada Elena. Kekuatan tenaga dalamnya sengaja ia keluarkan sengaja untuk menekan Elena.


"Kau …." Elena menyentuh pundak Odelia lalu mendorongnya ke samping, seketika Odelia langsung terhempas ke dinding.


"Jangan menghalangi jalan ku," tegas Elena menatap Odelia dengan tatapan tajam.


"Kakak." Leon berlari memeluk kaki Elena, Elena yang di selimuti kekuatan gelap menatap Leon seakan ia ingin menelan Leon hidup-hidup.


"Ada yang tidak beres dari Irene. Leon, kembalilah. Oh tidak, bagaimana ini?" batin Liana ketakutan. Ia juga merasakan kekuatan menyeramkan dari Elena.


"Leon." Elena langsung memeluk Leon, ekspresi dingin yang menakutkan dari Elena langsung hilang dalam sekejab, Liana sendiri terkejut melihatnya.


"Apa kau terluka? sakit bagian mana? katakan pada kakak siapa yang jahat pada mu? apa dia yang menidas kalian?" tanya Elena pada Leon. Namun tatapannya tertuju pada Eros, Eros langsung merinding karena tatapan itu.


"Ah! sakit sekali." Odelia mengerakan badannya yang kesakitan.


"Penguasa kota itu membuat kakak Liana menangis, lalu Tuan Eros menunduh ku yang tidak-tidak bahkan menghina kakak tanpa bukti," jawab Leon pada Elena, ia menunjuk Odelia dan Eros.


Elena meninggalkan Leon dan mendekati Odelia, "Kau menuduh keluarga ku tanpa bukti, bahkan kau menyeret mereka kemari tanpa rasa hormat. Apa begitu sikap seorang penguasa kota? apa kau tidak tau ucapan satu pihak saja tidak bisa di jadikan bukti? lalu bagaimana cara mu memberikan keadilan?"


"Setahu ku Liana tidak ada keluarga selain adiknya Leon, jadi kau jangan mengatakan omong kosong. Lalu aku tidak meminta pengawal untuk menyeret mereka, apa kau ada bukti atas perkataan mu? dan tentang cara ku memberikan keadilan itu pantas. Buktinya adalah luka di wajah adik ku," jelas Odelia yang tidak mau di salahkan.


"Kau itu hanya seorang penguasa kota. Siapa pun keluarga Liana, apa urusannya dengan mu? mungkin dulu hanya Leon sekarang mereka berdua adalah keluarga ku. Perlu kau tahu yang memukul adik mu adalah aku, karena dia menipu ku setelah mencuri kantong uang ku dia malah mengatakan kantong ini miliknya. Ini kantong uangnya kau buktikan sendiri apa ini milik kalian atau tidak." Elena memperlihatkan kantong uang miliknya, hal itu membuat Eros ketakutan.


"Lambang ini …." Odelia menatap Elena dan kantong itu secara bergantian.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘