
Setiap orang yang pernah bertemu dengan Rani selalu bahagia, mereka pasti akan nyaman berada di sisinya. Ia punya banyak cara membuat orang kesal, juga membuat orang bahagia. Siapa saja yang bertemu dengannya pasti akan selalu mengingat wajah Rani jika bukan sebagai ahli ramuan yang hebat, maka sebagai gadis cantik yang nakal.
"Aku akan pergi berburu. Sampai jumpa." Rani pergi setelah memberikan tugas rumah pada Damian.
"Jika begini maka aku akan pulang besok. Harus pulang," batin Damian mempercepat kerjanya.
Tidak lama hari sudah petang, semua pekerjaan Damian selesai. Ia tinggal menunggu Rani kembali. Beberapa menit kemudian suara Rani menyanyi mulai terdengar, Damian pun bergegas keluar dari rumah.
"A-apa ini?" teriak Damian melihat Rani menarik ekor monster ular merah raksasa dalam keadaan sudah mati.
"Makan malam," jawab Rani dengan santainya.
"Yang sebelah apa lagi?" tanya Damian melihat tangan kiri Rani seperti memegang kaki seseorang.
"Oh ini, pasien baru." Rani mengangkat kaki orang itu setinggi mungkin. Ia meninggalkan ular merahnya di halaman rumah, lalu ia menarik pasiennya itu masuk ke dalam rumah.
Melihat siapa orang itu Damian terkejut setengah mati, ia berlutut lalu menangis di samping pasien baru Rani yang tidak sadarkan diri.
"Rani, apa yang kau lakukan? dia ini adalah tuan ku, dia Alden raja para monster dan kau malah menyeretnya dari kaki sampai ke sini. Setidaknya tunjukan rasa hormat mu," tutur Damian.
Bukannya merasa bersalah Rani malah mengusap kepala Damian dan berkata, "Sudah sudah sudah, jangan menangis karena iri pada tuan mu. Kemarin juga kau ku seret dengan cara yang sama jadi jangan sedih."
"Jika kau sudah selesai bersedih maka cepat pisahkan tulang, dan kulit ularnya dari daging. Aku harus akan segera memasak setelah mengobati tuan mu ini," ucap Rani seraya menyeret Alden lagi ke ruang perawatan.
"Huwaaa. Bunuh saja aku," teriak Damian karena ucapannya malah tidak dianggap serius oleh Rani. Oleh karena itulah, Rani menetap dalam ingatannya dan dalam ingatan setiap orang dengan berbagai sikapnya.
*****
"Damian," bisik Casey seraya memukul punggungnya.
"Hah? apa? kau memukul ku?" tanya Damian yang kesal karena punggungnya yang baru saja sembuh di pukul lagi.
"Aku tahu aku cantik, bahkan sangat cantik. Tapi itu bukan berarti kau bisa menatap ku terus, tangan ku lelah. Mau kenalan tidak?" tanya Elena yang sudah sejak tadi mengulurkan tangannya pada Damian, Elena melewati Hans karena sedari tadi Hans juga hanya menatap wajahnya saja.
"Maaf. Aku Damian, salam … eh!" belum sempat Damian menjabat tangan Elena, Elena sudah menarik tangannya dan berbalik pergi.
"Hans, sadarlah!" Vivian menepuk wajah Hans membuat pria kematian itu tersadar, "Mana hadiah untuk Elena?"
"Belum sempat aku pilihkan," jawab Hans kebingungan, karena tadi ia ingat yang ada di hadapannya bukan Vivian melainkan Elena.
"Tch! tidak berguna," Vivian berdecak kesal seraya pergi memilih hadiah itu sendiri.
Setelah itu mereka ramai-ramai pergi ke lapangan memanah, di sana harus membayar uang masuk lalu bisa berlatih sesuka hati. Pengawas hanya mengawas saja, jika ingin berlatih maka harus menyewa pelatih lagi.
Liana ingin sekali belajar memanah karena saat berburu dia tidak bisa menggunakan panah, dan busur panahnya saat itu malah rusak dipatahkan oleh para goblin.
Saat latihan akan di mulai tiba-tiba saja ada badai. Awan di langit mulai menghitam, dan petir berwarna keemasan tiba-tiba muncul di langit bahkan sampai petir itu sampai menyambar lapangan.
"Berlindung," Perintah Hans dan Damian kepada yang lain. Tidak lama kemudian 3 kesatria suci turun dari langit sambil membawa rantai emas penghukum.
"Hei! apa yang kalian lakukan? lepaskan mereka! mereka tidak melakukan kesalahan apa pun, kenapa kau merantai mereka? lepaskan!" teriak Elena, ia berusaha melepaskan rantai yang melilit tubuh Liana.
"Elena, sakit." Liana meneteskan airmata karena ia tidak kuasa menahan rasa sakit akibat rantai yang melilit tubuhnya dengan kencang.
"Aku lepaskan. Tunggu sebentar aku … akh!" Elena tersungkur di tanah saat para kesatria suci menarik rantai sekaligus mereka yang terlilit oleh rantai itu.
"Petir penghukum," ucap ketiga kesatria suci serempak. Rantai itu mengeluarkan cahaya emas ke langit kemudian petir dari langit menyambar Liana, Casey, dan Yoluta.
"Akh!" mereka berteriak kesakitan. Pemandangan itu membuat amarah Elena memuncak dan satu rantai yang mengikat kekuatan gelapnya terbuka lagi.
Hans mengeluarkan tombak kematiannya, ia terpaksa harus menunjukan identitas aslinya di sini.
"Ka-kalian … Beraninya kalian." Elena berteriak sangat kencang. Ia meneteskan air mata berwarna hitam dari matanya.
Kabut berwarna hitam menyelimuti Elena, rambutnya yang di kuncir telah lepas dan tanda ular hitam melilit mawar putih muncul di dahi Elena.
"Memanggil kegelapan." Elena memanggil sesuatu yang tidak bisa di panggil oleh orang biasa. Kegelapan adalah kekuatan terkuat penguasa monster, jika kegelapan di panggil maka tempat yang di injak oleh pemanggilnya akan di selimuti kegelapan. Kekuatan suci tidak bekerja di area itu, sebaliknya kekuatan gelap akan meningkat sampai ribuan kali lipat.
Para kesatria suci itu merasakan ada bahaya yang besar, mereka pun terpaksa harus menyerang Elena dengan rantai mereka walau pun Euros tidak mengizinkannya.
Rantai itu menyerang dengan sangat cepat dan formasi khusus kesatria suci. Namun tidak ada dari serangan itu yang berhasil mengenai Elena, kekuatan Elena saat ini sedang berada pada puncaknya.
"Ku pinjam!" Elena mengambil tombak milik Hans, Hans bahkan tidak menyadari tombak itu sudah hilang dari tangannya.
Elena melesat ke arah kesatria suci yang berada di tengah, lalu ia memukul kepala kesatria suci itu dengan tombak kematian sampai ia terhempas jauh dan formasi rantai mereka menjadi kacau. Tidak hanya sampai di situ saja, Elena melemparkan tombaknya ke arah kepala kesatria suci itu dalam sekejab kepalanya terpisah dari badan.
"Kembali!" Elena menarik tombak itu dengan kekuatannya agar kembali lagi padanya.
"Tersisa 2 lagi," ucap Elena tersenyum menatap dua kesatria suci yang tersisa.
"Katakan siapa yang memerintah kan kalian ke mari, lalu aku akan pertimbangkan untuk tidak menyakiti kalian. Cepatlah sebelum tombak ini lepas dari tanganku," ancam Elena.
"Tidak akan. Kami menjunjung tinggi sumpah kesetian kami, kami tidak akan tunduk para penghuni dunia bawah yang kotor seperti … akh!"
"Dia sangat menakutkan," batin Hans melihat Elena melempar tombaknya yang menusuk 2 kepala kesatria suci itu sekaligus.
"Tu-tuan ku … apa itu anda?" tanya Damian memberanikan diri. Elena menatapnya kemudian tersenyum manis, walau pun manis tetap saja terlihat menakutkan setelah apa yang ia lakukan.
Bugh!
Elena seketika langsung tumbang dan keadaan di sekitar mereka kembali seperti semula, Damian dengan cepat menggendong Elena sementara yang lainnya menggendong ketiga rekan mereka yang pingsan akibar petir penghukum. Barulah setelah itu mereka semua pergi dari sana sebelum ada yang datang.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘