The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 47 Festival panen.



Brak!


Ernest memukul meja lalu berdiri. Ia menumpahkan amarahnya pada Kenzi, "Kau sudah keterlaluan dan tidak masuk akal. Berani sekali kau mempertanyakan hubungan ku sementara kau sendiri hanyalah seorang pelayan. Kau bisa berdiri di sini karena majikan mu adalah teman ku, jika tidak aku sudah memotong lidah mu."


"Anda marah karena saya mengatakan kebenaran bukan? semua yang saya katakan masuk akal jadi itulah sebab anda marah pada saya," bantah Kenzi tidak mau kalah.


"Kau lihat ini!" Ernest beralih pada Galen, "Kau mengatakan Kenzi bukan pelayan mu melainkan teman mu, dan lihatlah sekarang! karena kau memberikan dirinya hak bicara kapan saja, dia menjadi tidak tau diri. Ini semua karena kau menyamakan status pelayan dan majikan, ada perbedaan besar antara baik hati dengan kebodohan."


"Teman macam apa anda ini? anda menghina teman anda sendiri apa itu layak?" tanya Kenzi pada Ernest.


"Galen, hentikan pria barbar ini atau amarah ku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang. Seharusnya kau tidak usah datang jika kau hanya bisa membawa masalah datang bersama mu," pungkas Ernest. Dengan perasaan kesal ia pergi meninggalkan Galen dan Kenzi.


"Apa yang kau katakan, Kenzi? dalam hal ini Elena lah yang bersalah karena terlalu bodoh. Ernest adalah pria yang baik hati, kau jangan ikut-ikutan salah paham karena pemikiran mu yang negatif itu. Aku membawa mu kemari bukan untuk membuat keributan," ucap Galen memarahi Kenzi.


"Dia itu bukanlah pria yang baik, dan anda tidak bisa mengatakan Nona Elena salah hanya karena ucapan dari pria itu. Pemikiran ku tidak negatif, karena semua yang aku katakan masuk akal. Apalagi pria itu sampai menghina mu, teman macam apa yang menghina temannya sendiri seperti itu?" tanya Kenzi.


"Jangan coba-coba mengadu domba aku dan Ernest hanya karena kau tidak suka padanya. Ernest tidak menghina ku, yang dia katakan benar. Dengan membawa mu aku telah membuat masalah untuknya, jika kau tidak suka ke mari maka jangan datang. Pulang saja aku tidak peduli lagi."


"Jadi sekarang kau mengusir ku?"


"Itulah yang terbaik, jika saja kau bisa menghormati teman ku sama seperti aku menghormati mu. Lupakan saja itu semua! sampai jumpa nanti." Galen melangkah pergi dari hadapan Kenzi saat itu juga.


*****


Setelah berjuang keras akhirnya Louis berhasil mendapatkan izin masuk ke daratan agung, ia juga mendaftarkan diri sebagai murid di sana.


"Aku datang, Elena." Louis tersenyum dan melangkah menuju portal.


Sementara itu di sisi Elena sibuk memisahkan herbal yang bagus, dengan herbal yang tidak bagus untuk di giling. Di pagi hari yang cerah ini para murid terbuang sibuk sama seperti biasanya.


"Selamat pagi semua," sapa Arthur pada semua murid terbuang. Ia datang membawa banyak bungkusan.


"Selamat pagi, Arthur. Apa yang membawa mu ke mari?" tanya Elena, ia meninggalkan pekerjaannya, tidak seperti yang lainnya mengabaikan Arthur.


"Aku bawakan kalian semua roti madu. Buatan sendiri," jawab Arthur menunjukan bungkusan di tangannya.


"Mari duduk." Elena mempersilakan Arthur duduk. Arthur menyerahkan bungkusan roti itu pada Elena lalu ia duduk, Elena pergi selama beberapa saat membawa bungkusan berisi roti itu ke dapur. la kembali tidak lama kemudian sambil membawa secangkir teh hangat.


Arthur tersenyum saat Elena meletakan cangkir teh itu di dekatnya, "Maaf sudah merepotkan, padahal kau tidak perlu sampai melakukan ini." 


"Kau sudah membawakan roti untuk kami maka secangkir teh saja tidak merepotkan. Terima kasih banyak," jawab Elena.


"Roti buatan ku jauh lebih enak," gumam Benton, mendapatkan tatapan tajam dari yang lainnya.


"Sebenarnya Irene, aku ingin mengajak mu keluar karena hari ini ada festival panen di alun-alun. Ada parade sampai ke menara, khusus hari ini murid luar serta penduduk Daratan Agung bisa masuk ke bagian dalam dan melihat menara dari dekat. Kau mau ikut dengan ku?"


"Kau mungkin ingin pergi bersama teman-teman jadi tidak masalah jika ingin menolak ku, aku hanya ingin pergi berdua saja dengan mu. Ta-Tapi, kau jangan salah paham aku tidak bermaksud jahat. Sungguh." Arthur tersipu malu saat mengatakan hal itu membuat Elena merasa dia sangat lucu.


"Aku sebenarnya tidak ingin menolak bahkan aku sangat senang jika kau memang ingin pergi dengan ku. Hanya saja malam nanti kami punya pekerjaan, jadi maaf yah."


"Bekerja di malam ini? padahal malam ini semua orang akan bersenang-senang, dan kalian malah bekerja. Ini tidak adil."


"Jangan merasa begitu, walau bagaimana pun juga kami ini masih murid terbuang. Festival ini juga menguras banyak tenaga, kalau pun pekerjaan kami selesai mungkin akan langsung istirahat."


"Begitu yah. Sayang sekali padahal aku ingin melihat ledakan bersama mu."


"Ledakan apa?"


"Maksud ku kembang api meledak di langit. Itu pasti sangat indah," tutur Arthur. Terlihat jelas dari wajahnya jika dia kecewa.


"Ya sudah. Maaf sudah menganggu mu, aku harus pergi masih banyak yang harus kami persiapkan. Sampai nanti." Arthur langsung pergi tanpa meminum teh yang Elena sajikan untuknya.


"Jadi … katakan kenapa kalian memberikan aku isyarat yang sama?" tanya Elena menatap mereka satu persatu.


"Bukannya kami iri dengan mu yang akan pergi bersenang-senang. Dulu ada juga yang seperti ini. Tapi dia malah di hukum dengan sangat berat, lalu di usir. Ada aturan kalau murid terbuang tidak bisa mengikuti acara suci seperti ini. Walau pun kami sangat sangat ingin melihat menara secara langsung dari daerah dalam," jawab Benton.


"Benar. Kata orang-orang di dalam menara ada jalan menuju dunia atas, para petarung dengan bintang agung saja yang bisa menginjakan kaki di dalam sana," tambah Gudytha.


"Sebenarnya aku juga ingin sekali. Tapi apalah daya ku itu hanya sebuah mimpi, mau jadi kenyataan pun masih tidak menentu. Menyebalkan," keluh Olaf, dia baru bergabung di tim penggiling hari ini.


Mendengar kata bintang agung Elena merasa ingin sekali mencapai posisi itu, karena posisi itu bukan hanya akan membawa keluarganya menuju tempat tertinggi melainkan tempat yang sangat tinggi dengan sejuta kehormatan.


Akan tetapi, itu tidaklah mudah karena rintangannya pasti akan sangat banyak. Saat ini ia hanya bisa fokus berlatih dulu sebelum menghadapi rintangannya nanti.


"Selamat pagi. Apa Irene ada di sini?" tanya Liana saat memasuki halaman belakang.


"Dia itu kan …." Olaf terkejut melihat Liana, sebab ada rumor jika seorang wanita cantik berbakat mengalahkan 2 senior di hari pertama dia masuk. Wanita itu tidak lain adalah Liana.


"Oh! Liana di sini." Elena melambaikan tangannya pada Liana. Melihat Elena ia langsung berlari mendekat dan melompat ke dalam pelukan Elena.


Semua yang ada di sekitar Elena lagi-lagi di kejutkan oleh Elena, kedatangan Liana saja sudah membuat mereka heboh apalagi saat tahu jika orang berbakat itu adalah teman Elena yang merupakan anggota murid terbuang.


*****


Bersambung


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘