
Setelah merasakan kehadiran para saudarinya Dewa perang Ghaisan meninggalkan ruang kerja dan pergi istana Valkyrie, di sana ia melihat Valkyrie duduk dengan wajah sedih, mata sembab, dan tatapan kosong.
"Sayang," panggil Ghaisan mengalihkan pandangan Valkyrie ke arahnya.
"Kakak." Elsa meneteskan airmata kemudian dia berdiri dan berlari ke dalam pelukan Ghaisan.
"Ada apa?" tanya Ghaisan mengusap rambut panjang Elsa.
"Aku … aku tidak mau jadi Valkyrie lagi, aku mau pergi. Ku mohon kak, aku ingin kembali." Elsa merengek tidak seperti dirinya yang biasa dan itu sangat menganggu Ghaisan.
"Brunhilde, apa ini semua? ke …." Ghaisan tersentak dengan mata membulat sempurna melihat wanita paling tegas, dan kejam seperti Brunhilde meneteskan airmata.
"Kalian semua, sebenarnya ada apa? jelaskan pada kakak, bagaimana kakak bisa paham jika kalian diam saja?" Ghaisan jadi ikut sedih melihat mereka semua seperti ini.
"Kami semua tidak mau menjadi Valkyrie lagi, kami mohon lepaskan kami," pinta Brunhilde wakili semua adiknya.
Ghaisan tidak akan pernah menduga perkataan itu keluar dari mulut mereka. Pasalnya dulu saat Ghaisan tertekan oleh paksaan menikah dari para tetua agar posisi dewi perang tidak kosong, kesepuluh adiknya maju untuk membela Ghaisan bahkan mereka mengatakan jika posisi dewi perang hanya akan menjadi milik mereka.
Ghaisan sangat senang karena dengan demikian dia tidak perlu merasa cemas lagi, adik-adiknya adalah wanita yang luar biasa mereka tidak pernah tumbang bahkan menangis dalam situasi apa pun. Banyak halangan disaat-saat pertama merela mendapatkan gelar itu. Namun, para penghalang itu mereka tiadakan tanpa sisa.
Lalu tiba-tiba Valkyrie berubah, mereka yang menghabiskan banyak waktu untuk berlatih menjadi sering bersantai bahkan duduk bersama sambil mengobrol. Pemandangan itu menghangatkan hati Ghaisan, karena mereka jarang terlihat bersama jika bukan disaat penting.
Kebiasaan ini tidak terkesan aneh bagi Ghaisan sampai saat ini, saat airmata keluar dari mata mereka serta rasa sedih menyelimuti mereka. Dulu hal yang sama pernah terjadi saat kematian kedua orang tua mereka.
Elsa menarik Ghaisan untuk duduk ditengah mereka, mereka bercerita satu persatu tentang Elena. Mereka awalnya membuat kontrak hanya untuk mencoba saja, namun lambat laun kebersamaan dengan Elena membuat mereka tidak mau lepas darinya. Lalu hari ini hal itu terjadi, Elena melalukan itu untuk mereka agar mereka tidak merasakan sakit meninggalkannya.
"Jadi, kalian akan meninggalkan kakak sendirian demi putri raja monster itu?" tanya Ghaisan, sontak para Valkyrie terdiam. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Ti-tidak. Ka- kami …." Rota tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
"Ada surat ada surat ada surat." Merpati pembawa pesan Valkyrie berteriak masuk ke dalam ruangan tempat mereka berada sekarang.
Thurd mengusap airmatanya kemudian dia berdiri mendekati burung tersebut, ia membuka kontak surat dipunggung burung itu dan mengeluarkan kristal perekam dari sana.
"Kristal perekam tanpa pengirim," jawab Thurd menunjukan kristal itu.
"Coba hidupkan," ucap Ghaisan. Thurd memasukan kekuatan tenaga dalamnya ke dalam kristal, tidak butuh waktu lama kristal itu menyala.
"Hai," sapa Auretta melambaikan tangannya, "ini rekaman dari ku. Aku mengambilnya diam-diam."
"Nona." Valkyrie tersenyum melihat Elena yang sedang makan ada dalam rekaman itu, Auretta mengambil rekaman saat mereka istirahat didekat portal ke dunia bawah.
Setelah itu Auretta memberikan kode pada Alara, Ignatius, dan Admon.
"Sangat. Biasanya saat makan begini mereka akan bersama kita, rasanya ada yang kurang saat ini. Akan tetapi, aku tidak ingin menyusahkan mereka. Sulit bagi penduduk dunia atas berpihak pada orang dunia bawah apalagi Saron pernah mengatakan mereka punya kakak laki-laki, dia sangat penyayang, dan mencintai mereka dengan tulus. Jika tetap menjalin kontrak dengan ku akan membuat mereka jauh dari kakak mereka, maka aku yang akan terluka karena aku sendiri tidak mau menyakiti hati saudara ku. Jadi aku membuat mereka menjadi lebih mudah dengan meninggalkan mereka, aku tidak akan membuat mereka menjadi jahat dengan meninggalkan ku," jawab Elena menyentuh hati para Valkyrie.
"Tapi nona, jika nanti anda menjadi pewaris tahta raja monster lalu menghadapi situasi di mana anda harus melawan mereka bagaimana?" tanya Admon.
"Benar. Aku pernah dengar dewa perang tidak suka orang dunia bawah, dia juga setia pada raja dewa tanpa tau seperti apa raja dewa sebenarnya," tambah Ignatius.
"Mungkin aku memilih mati di tangan mereka jika suatu saat nanti perang tidak dapat dihindari," jawab Elena dengan santainya.
"Nona … apa yang anda katakan? bagaimana bisa anda mengatakan itu? huwa …." Gondul menangis sangat keras.
"Nona kejam, kami mana bisa melukai anda. Anda pikir kami ini apa? nona harus berubah," kesal Hrits.
"Nona memang begitu kan sejak pertama kita mengenalnya," ucap Brunhilde tersenyum.
"Tapi terlepas dari semua hal itu, aku ingin tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Melawan mereka, aku mana mampu." Elena tertawa kecil sambil mengaruk kepalanya, "Walau pun begitu bukan berarti aku akan melepaskan raja dewa, aku akan membalas apa yang ia lakukan selama ini. Tanpa rasa malu dia menipu semua orang yang percaya padanya, dan terus mengatakan kebohongan untuk mengelabui banyak orang."
"Sekian rekaman dari ku, sampai nanti yah kembar 10." Auretta mematikan rekamannya. Namun rekaman kecil itu cukup untuk mengobati rindu mereka, Brunhilde berniat membalas surat itu secepatnya.
Ghaisan tidak mengatakan apa pun lagi, setelah rekaman itu mati ia beranjak pergi dari sana.
"Chiko." Ghaisan memanggil kesatria bayangannya.
"Chiko di sini, tuan ku." Kesatria itu berlutut dibelakang Ghaisan.
"Cari tahu segalanya tentang Elena Abraham, dan selidiki apa saja kegiatan raja dewa akhir-akhir ini. Sepertinya kita akan berpindah pihak dalam waktu dekat," perintah Ghaisan.
"Kenapa mendadak tuan ku? apa kita akan memberontak?"
"Kata siapa? pemberontakan bukan gaya ku, selama ini aku hanya membantu raja dewa dalam perang bukan berarti aku adalah pengikut atau pelayannya. Dia hanya memimpin para dewa agar tidak salah jalan, dan terlepas dari itu semua dewa punya hak mereka masing-masing begitu juga dengan ku."
"Saya paham." Chiko langsung menghilang secepat kilat untuk memenuhi tugasnya.
Ghaisan menghentikan langkahnya saat cahaya matahari mengenai wajahnya, "Elena yah. Wanita itu sangat mementingkan Valkyrie tanpa mengetahu identitas asli mereka, aku sangat mengagumi anda putri raja monster anda sangat mirip dengan beliau. Beliau mungkin wanita yang penyayang dan lemah lembut, walau pun kau bukan putrinya aku akan tetap berpikir untuk memihak mu karena kau sudah mendapatkan apa yang sulit di dapatkan raja dewa. Aku harus berterima kasih pada perekam itu nanti."
Sepertinya hati Ghaisan telah direbut oleh Elena melalui Valkyrie, awalnya ia ragu dengan kepribadian Elena. Namun sekarang tidak lagi, karena rekaman itu sudah cukup menjadi bukti kepribadian Elena.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘