The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 35 Wanita di balik jeruji besi.



Sonia merapikan puluhan gaun baru yang mahal ke dalam lemari pakaiannya, sudah lama sejak dia sembuh Ernest selalu memanjakannya dengan banyak kemewahan.


Dia bahkan mendapatkan kamar tidur utama di Kediaman Ransom, kamar tidur yang akan menjadi milik duchess selanjutnya.


"Apa ibu yakin setelah ini semua Elena akan kembali pada ku?" tanya Ernest, ia memperhatikan  Sonia dari lantai tiga. Sonia yang sibuk memerintah pelayan untuk merapikan kamarnya, tidak menyadari jika dia sedang di awasi.


"Ibu sangat yakin. Hanya butuh waktu 1 menit untuk jatuh cinta, dan butuh waktu seumur hidup untuk melupakannya. Jika memang Elena setuju menjadi tunangan putra mahkota, kenapa dia tidak datang pada malam pertunangannya? jawabannya mudah saja, karena dia tidak siap," jawab Jovanka.


"Lalu bagaimana jika nanti sampai pengumuman pertunangan kami, Elena tidak datang. Apa yang akan terjadi?"


"Saat pertunangan nanti dia masih tidak akan muncul maka kita umumkan pernikahan, entah dia percaya atau tidak dia pasti datang."


"Ibu harus ingat ini semua aku lakukan demi mendapatkan Elena ku kembali. Jika nanti aku harus di paksa menikah dengan Sonia, aku akan menikah. Akan tetapi posisi Elena tidak bisa diambil oleh Sonia, dia tidak akan menjadi duchess."


"Semua yang ku lakukan adalah untuk mewujudkan keinginan mu, dan aku juga tau dengan sangat baik Sonia tidak bisa menjadi duchess. Wanita rendahan itu hanya akan menjadi mainan kita untuk selamanya."


"Aku harap itu tidak akan berubah," ucap Ernest, ia pun beranjak pergi meninggalkan Jovanka.


Setelah Ernest pergi Jovanka turun ke lantai 2, melihat Jovanka datang Sonia tersenyum licik.


"Salam duchess," ucap para pelayan seraya membungkuk pada Jovanka.


"Kalian adalah pelayan ku, tanpa izin dari ku kalian tidak bisa membungkuk pada orang lain. Selain aku tidak ada di kediaman ini yang bisa memerintah atau pun mendapatkan salam dari pelayan ku," ucap Sonia dengan sengaja ingin mempermalukan Jovanka.


Jovanka membuka kipasnya dan berkata, "Mereka bukan pelayan yang kau bawa dari kediaman mu jadi, mereka tau siapa majikan mereka. Kau bahkan tidak punya gaun yang bisa kau bawa dari kediaman mu, apalagi pelayan. Menyedihkan."


Sonia tidak membantah atau sejenisnya, ia malah mengabaikan Jovanka dan meminta para pelayan kembali bekerja.


"Hentikan pekerjaan kalian," perintah Jovanka menepuk kipas itu ke tangannya, para pelayan pun berhenti bekerja.


"Pergilah!" lanjut Jovanka, tanpa menunggu lama para pelayan langsung pergi, "Kau begitu bangga tinggal lama di kediaman ku, bahkan sampai dimanjakan oleh Ernest. Sayangnya kau hanyalah tamu, hak memerintah tidak ada pada mu."


"Bibi, kau tidak bisa mengatakan apa pun karena waktu mu di kediaman ini tidak akan lama. Setelah aku dan Ernest menikah, kau akan ku kirim ke pengasingan. Kau bisa saja merencanakan banyak hal untuk membuat Elena kembali, sampai memanfaatkan diri ku. Kau pikir aku tidak tau akan hal itu? hahahaha, aku sangat tahu karena hanya orang berbisa yang bisa memahami satu sama lain. Jadi jangan mempermainkan aku atau semua kerugian akan kau tanggung," ancam Sonia. Ia menepuk pundak Jovanka, hingga akhirnya pergi.


Jovanka menutup kembali kipasnya dan mematahkan kipas itu, ia tidak tahu bagaimana bisa Sonia mengetahui rencananya.


*****


Hari ini Elena bersama yang lainnya akan pergi ke kota lain lagi, mereka sudah terlalu lama berdiam diri di satu kota selagi mengumpulkan banyak uang.


"Kakak, Leon bawakan surat kabar." Leon memberikan surat kabar pada Elena.


"Terima kasih, sayang." Elena menerima surat kabar itu, mereka membeli surat kabar untuk menjadi lap pembersih meja.


"Aku akan pergi membeli persedian makanan," pamit Liana, ia membawa Leon bersamanya.


Elena tidak mau ikut.  Ia sibuk merobek satu persatu kertas surat kabar, dan di letakannya pada bagian meja yang basah.


"Tidak mungkin." Elena terkejut membaca jika kaisar meresmikan pertunangan antara dia dan Louis, semua di lakukan dengan persetujuan Keluarga besar Abraham.


Di sana juga ada gambar sang nenek yang membuat Elena jadi semakin pusing di buatnya, ia tidak tahu apa alasan di balik pertunangan ini.


Elena pun membalikan halaman surat kabar, di sana ada berita yang lebih mengejutkan lagi sampai surat kabar itu jatuh dari tangannya


"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" batin Elena menyeka keringat di wajahnya. Berita tidak terduga itu membuat Elena cemas.


*****


Di dunia atas Euros sang dewa angin tengah di landa kekhawatiran yang besar, ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghentikan penduduk dunia bawah yang ingin merebut Elena dari mereka.


"Tehnya ayah." Rafael memberikan secangkir teh pada Euros.


"Aku tidak minta teh, ini bukan saat untuk minum teh. Bawa saja kembali," perintah Euros membuat Rafael sedih.


"Ayahanda tidak perlu khawatir lagi. Saat ini orang-orang dunia bawah belum melakukan pergerakan baru, entah apa yang terjadi. Tapi aku yakin mereka pasti belum menemukan Elena," tutur Rafael.


"Waktu terus berjalan, cepat atau lambat semuanya akan terungkap. Aku tidak mengerti, kenapa dia masih bisa memikirkan tentang berinkarnasi sementara putrinya ada di tangan kita. Apa rencana Alden sebenarnya? kenapa takdir membawa pria jahat itu kembali ke dunia ini?" keluh Euros.


Rafael langsung keluar dari ruang kerja Euros, ia memberikan nampan berisi cangkir teh pada pelayan sementara dirinya pergi ke penjara di istana penghakiman.


Dalam penjara itu ada seorang wanita cantik yang di rantai, sudah 20 tahun dia di tahan dalam penjara ini.  Ia menjadi tahanan sejak dia baru lahir ke dunia ini, selama itu belum sekali pun wanita itu keluar dari penjara.


"Kau datang lagi," ucap wanita itu melihat Rafael dari balik jeruji besi.


"Sial!" Rafael memukul jeruji besi tersebut, kekuatannya sampai menyapu wajah wanita itu, "Katakan pada ku apa rencana ayah mu? kau pasti tahu sesuatu, aku juga yakin dia sudah pernah datang menemui mu beberapa kali."


"Aku tidak tahu apa rencana ayah yang kau sebut itu. Aku bahkan tidak tahu ayah itu mahluk seperti apa."


"Bohong! kalian yang memiliki darah kotor selalu berbohong. Katakanlah selagi aku masih bicara baik-baik."


"Kau mungkin tidak tahu sejak usia ku 0 sampai 20 tahun, aku tidak pernah keluar dari sini. Semua yang aku katakan adalah yang aku pelajari selama ada di sini, lalu bagaimana bisa aku tau apa itu berbohong? tidak ada yang mengajari aku tentang berbohong itu," ucap wanita itu sejujur-jujurnya.


"Sial!" Rafael tahu wanita itu tidak berbohong. Namun dia tidak mau mengerti akan hal itu, karena dia ingin mendengar hal lain dari mulutnya. 


Sejak kecil Rafael melakukan banyak cara untuk mendapatkan perhatian sang ayah, hanya saja dia selalu gagal mendapatkannya. Tidak peduli seberapa keras Rafael berjuang, Euros hanya peduli tentang Elena dan Elena sepanjang waktu. Sejak Elena lahir semua perhatian Euros hanya tertuju pada Elena, dibandingkan anaknya sendiri.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘