
Kekalahan adalah penghinaan terbesar bagi Euros terutama kalah dari Hans, ia tau Hans adalah bagian dari dunia bawah walau pun begitu dia tetap seorang dewa dan kekuatannya setara dengan Alfred raja para dewa. Tidak sedikit pun terbesit dalam hari Euros jika ada orang lain yang bisa mengalahkan kesatria sucinya selain Hans.
Sementara itu di sisi lain pada tempat yang sama, Liana, Yoluta, dan Casey sudah sadar. Mereka mendapatkan pertolongan dari klinik seorang ahli ramuan tua, klinik yang jauh dari keramaian pusat ibu kota. Berbeda dengan mereka, Elena masih belum sadarkan diri setelah hampir tiga jam.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hans pada Damian yang duduk sendiri di teras klinik, ia menjauh dari yang lain.
"Apa pun yang aku pikirkan tidak ada hubungannya dengan mu," jawab Damian dengan ketus.
"Entah kenapa aku merasa kau berpikir hal yang sama dengan ku, tentang tanda pada dahi Elena. Tanda itu jelas bukan tanda Alden, itu tanda gabungan antara Alden dan Rani jadi kemungkinan besar Elena bukanlah reinkarnasi Alden melainkan putri mereka."
Bugh!
Damian memukul tembok klinik hingga meninggalkan bekas retakan. Tatapan tajam yang ia tujukan pada Hans, seolah mengatakan jangan bicara sembarangan.
"Aku heran kenapa kau marah. Wajah Elena sangat mirip dengan Rani, aku saja yang tidak terlalu dekat dengannya bisa mengenali putrinya pada pertemuan pertama. Aku juga … Ugh!"
Yoluta melayangkan tinju tepat ke wajah Hans, pukulan keras secara mendadak itu membuat Hans jatuh ke lantai. Yoluta melakukan apa yang tidak bisa Damian lakukan, ia sangat berani.
"Kau adalah Dewa kematian walau pun sama-sama berasal dari dunia bawah, kita tidak dekat. Urusan Raja Monster tidak bisa ada campur tangan dari orang seperti mu, saat tuan kami meminta dukungan perang kau langsung menolak bahkan pergi tanpa menoleh ke belakang. Lalu kenapa sekarang kau peduli pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mu."
"Kalian mau menutup mata dari kebenaran sampai kapan?" tanya Casey. Ia keluar dari dalam klinik dengan wajah berlinang airmata, "Aku telah bersama tuan lebih lama dari kalian berdua, jadi aku tahu bahkan sangat tahu Elena bukanlah tuan kita. Aku tahu itu semua pada hari kedua aku bertemu dengannya, aku berpikir dia sangat mirip dengan ratu. Tapi aku diam saja, lalu keyakinan ku semakin kuat saat dia memanggil ku melawan Hydra. Kekuatan gelap yang sama dengan tuan, wajah yang mirip dengan ratu. Jika putri mereka lalu siapa lagi? dewa kematian adalah orang asing, jika dia saja sadar lalu kenapa kalian tidak?"
"Itu masih belum pasti," bentak Yoluta.
"Tidak. Itu sudah dipastikan."
"Diamlah, Casey."
"Kau yang harus diam, karena yang akan bicara adalah aku. Lari dari kenyataan pahit tidak akan membuatnya menjadi manis, justru hanya akan menambahkan kepahitannya. Aku melihat tanda yang Alma bicarakan ada dipundak Elena, tanda gabungan Rani dan Alden. Aku juga yakin wanita dalam tahanan dewa angin itu bukan putri Rani yang sebenarnya karena kekuatannya sudah bangkit. Tapi, bukan kekuatan gelap."
"Hahahahah. Lalu bagaiama itu bisa terjadi? apa mereka tertukar? jawablah jika ucapan mu memang benar," tantang Yoluta membuat semua terdiam. "Jangan lupa Elena juga berkekuatan suci, kekuatan suci yang ia dapatkan karena dia adalah keturunan dewa menyebalkan sih Euros itu. Putri kita bangkit dengan kekuatan suci itu karena dia tinggal selama 23 tahun di dunia atas, apa kau juga tidak ingat saat dia lahir kekuatan gelapnya sudah disegel oleh ratu kita. Sedangkan kekuatan Elena gelap saat ini sudah bangkit perlahan, anehnya lagi bahkan kekuatan itu dirantai, siapa yang merantainya? tentu saja kekuatan suci Euros dalam tubuhnya, itu semua Euros lakukan agar jiwa tuan kita yang masuk ke dalam tubuh Elena tidak bisa bangkit."
"Siapa saja bisa memiliki wajah yang mirip, Elena mirip dengan ratu kita itu bukanlah hal yang istimewa. Apalagai kekuatan gelap sekuat yang Alma katakan itu, tidak bisa di kendalikan oleh petarung pemula jika bukan karena bantuan jiwa raja kita. Aku akan percaya Elena putri tuan ku hanya jika tuan ku sendiri yang mengatakannya. Jadi berpikirlah dengan baik," tambah Yoluta. Ia kembali ke dalam klinik untuk memastikan keadaan Elena.
"Aku tidak ingat apa pun," ucap Elena setelah ia sadar, hal itu membuat mereka yakin jika Elena hanyalah reinkarnasi bukan putri dari Alden.
Namun tidak dengan Hans, ia tidak bisa mengabaikan kenyataan jika dua orang berwajah mirip bahkan sangat mirip disebut kebetulan. Setelah Elena sadar mereka tidak pergi ke mana pun lagi, mereka hanya mampir ke kedai makan untuk mengisi perut sebelum berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
"Kau tidak makan?" tanya Elena pada Hans. Hanya dia yang tidak masuk ke dalam kedai.
"Aku tidak ingin makan. Kau masuk dan makanlah," jawab Hans.
"Tidak ingin makan belum tentu tidak lapar. Menahan lapar itu tidak baik untuk kesehatan kata ibu ku."
"Sungguh? kau punya ibu yang baik."
"Aku merasa kau punya masalah yang terpendam, ceritakan saja pada ku. Aku tidak akan membocorkannya."
"Aku tidak tahu ini layak di ceritakan atau tidak. Aku bertemu seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan wajah teman ku, aku berpikir dia tidak mungkin teman ku karena teman ku itu sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dan terbesit dalam pikiran ku mungkin saja orang itu adalah anak dari teman ku. Tapi ada yang menentang pemikiran ku itu, dia bilang siapa saja bisa memiliki wajah yang mirip. Aku menerima ucapannya hanya saja hati ku berkata dia pasti anak teman ku, ini menjadi dilema dalam hati ku."
"Banyak orang berkata ikuti apa yang hati mu katakan karena apa yang dikatakan oleh hati itu murni, bahkan selalu saja itu benar. Jangan terlalu memikirkan apa yang orang lain katakan karena mereka sendiri belum tentu benar. Setiap orang benar dengan cara, pemikiran, serta posisinya masing-masing. Kau hidup bukan untuk orang itu jadi kau bebas berpikir, itu hak mu." Elena mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Ra-Rani," batin Hans melihat bayangan Rani dalam diri Elena.
"Apa kata mu? aku wanita bodoh karena menikah dengan raja monster. Dasar orang tidak waras, aku mencintai pria itu lalu apa masalahnya dengan mu jika kami menikah. Dia memilih ku bukan kau, bahkan aku merasa tidak ada pria yang akan memilih wanita berotak dangkal seperti mu. Semua orang bisa mengikuti kata hati mereka, karena hanya dengan itu mereka bisa bahagia menjalani hidup. Jangan pikirkan kata orang lain karena semua orang merasa dirinya benar dengan cara, pikiran, dan posisi mereka masing-masing. Kalian tidak akan bahagia jika membiarkan ucapan orang lain membelenggu hidup kalian," ucap Rani menjelaskan apa pendapatnya didepan wanita-wanita yang menentang pernikahannya dengan Alden, saat itu Hans tidak sengaja berada dalam kerumunan para wanita itu saat menjalankan misi.
"Aku yakin kau adalah putrinya," batin Hans tersenyum bahagia.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘