The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 91 Kembali ke menara.



Melihat Alma tertawa lepas menjadi pemandangan yang aneh bagi Baal dan Blake, mereka tidak pernah melihat Alma tertawa sampai demekian rupa.


"Maafkan Alma. Tapi ini semua tepat seperti yang dia katakan, akhirnya Alma sadar jika semua yang terjadi selama ini penyababnya itu tidak lain adalah diri Alma sendiri. Maaf karena membuat kalian cemas, sungguh demi apa pun Alma paling mencintai kalian berdua," ucap Alma membuat Baal dan Blake terharu.


"Jadi, siapa dia itu?" tanya Blake, ia tidak mau melewatkan topik utama kedatangan mereka.


"Duduklah." Alma mempersilakan keduanya duduk, lalu ia meletakan semua surat di atas meja beserta kotak penyimpanan suratnya. Semua di mulai dari cerita Alma saat pertama kali dia ke dunia manusia dan bertemu Elena.


"Kau beruntung bertemu dengan wanita sebaik Elena itu, harus kakak akui rasanya sangat mengesalkan karena ada yang lebih dulu menggendong mu dari pada kakak. Tapi jika kau bahagia maka apa yang lebih penting dari itu, salah kakak juga karena mengabaikan mu selama ini," tutur Blake tersenyum pilu.


"Ini bukan salah kakak. Elena, sudah menjelaskan semuanya pada Alma." Alma menggenggam tangan sang kakak, "Elena pernah bercerita, dulu kedua kakaknya pertama diam-diam menguping pembicaraan di pesta teh yang Elena selenggarakan. Di sana para gadis muda membicarakan kriteria pria idaman mereka, dan Elena mengatakan dia sangat menyukai pria berhati lembut yang penuh dengan perhatian. Lalu keesokan harinya kedua kakak Elena yang sangat sibuk dengan jadwal mereka, mulai banyak waktu luang dan memberikan Elena sejuta perhatian padahal pada awalnya mereka tidak demikian."


"Lalu, apa yang spesial dari itu?" tanya Baal yang tertawa dibuat-buat seperti sedang menutupi sesuatu.


"Elena mengatakan jika hadir seorang anak perempuan cantik diantara anak laki-laki, anak perempuan itu akan saudaranya jaga bagaikan permata begitu juga dengan ayah mereka. Saudara akan berusaha terlihat seperti pria sempurna di mata saudarinya, lalu ayah ingin terlihat luar biasa di mata putrinya. Mereka juga akan berusaha mencari tau apa yang putri atau saudari mereka inginkan, lalu berusaha keras untuk memenuhinya. Maka dari itu Elena meminta Alma berpikir, pernahkah Alma mengatakan sesuatu tentang kakak atau ayah pada orang lain," jawab Alma menatap mata Baal dan Blake.


"Dan terbesitlah sebuah penggalan ingatan di waktu Alma berusia 5 tahun, ayah dan kakak pasti ingat saat Alma mengatakan pada pengasuh jika Alma suka kakak yang sedikit kejam. Namun diam-diam perhatian, itu keren. Lalu ayah yang terlihat dingin dan nyatanya sangat peduli, itu menakjubkan. Alma ingat dengan baik, setelah hari itu kalian berdua berubah sepenuhnya. Apa itu karena ucapan Alma?" tanya Alma. Wajah keduanya seketika langsung memerah.


"Sudah Alma duga." Alma tertawa kecil melihat wajah mereka, "Pengasuh Alma mengatakan juga. Di hari saat kakak memarahi Alma karena mengganggu istirahat kakak, malamnya kakak datang saat Alma sudah terlelap membawakan Alma kue lalu meninggalkan kecupan manis di dahi Alma. Tidak hanya malam itu, bahkan kakak sampai memotong kedua tangan pengasuh kakak karena marah saat kakak tahu jika dia ingin menghukum Alma. kakak setiap malam datang membacakan dongeng untuk Alma walau pun Alma sudah tidur."


Alma melepaskan genggaman tangannya pada Blake lalu ia beranjak ke sisi Baal. Ia memeluk sang ayah dan berkata, "Ayah juga. Saat Alma keluar dari ruangan ayah karena marah ayah mengabaikan Alma yang membawa penghargaan dari akademik, ayah menghukum kakak saat itu dengan 100 cambukan sampai kakak tidak bisa keluar dari istananya selama 1 bulan. Lalu ayah diam-diam memasang penghargaan Alma pada bingkai, dan ayah pamerkan kepada semua pengikut setia ayah. Alma menyesal karena baru mencari tahu tentang itu semua saat Elena menyadarkan Alma. Padahal kalian bukan tidak peduli melainkan ingin terlihat sempurna di mata Alma, Alma sungguh menyesal karena telah membenci kalian."


Baal berusaha membendung airmatanya. Namun ia tidak bisa, ia memeluk Alma erat-erat untuk menyembunyikan wajahnya yang berlinang airmata. Begitu juga sang kakak, ia menangis karena kesalah pahaman selama bertahun-tahun akhirnya bisa mereka luruskan.


"Aku tidak peduli kau akan menjadi rekan kami suatu saat nanti atau tidak, reinkarnasi penguasa monster. Semua yang terjadi hari ini berkat diri mu, suatu saat jika kita bertemu aku Blake van Scott akan bersumpah menjadi pengikuti setia mu hingga akhir hidupnya," batin Blake.


*****


Setelah pergi dari menara selama 10 hari, Elena pun kembali lagi ke menara kali ini tidak dengan perasaan sedih atau pun pemikiran yang aneh. Orang pertama yang ia temui setelah kembali adalah Liana, ia meminta maaf pada Liana hanya karena pemikirannya yang sempit ia malah membuat Liana khawatir. Namun Liana tidak marah sama sekali pada Elena, ia hanya cemas dengan keadaan Elena dan sekarang ia baru bisa bernafas lega setelah melihat ada kebahagiaan tersirat dari wajah Elena.


Keduanya membuat janji untuk makan malam bersama, setelah itu Elena memutuskan kembali ke kamarnya. Ia masih harus menyiapkan diri untuk ujian ulang, karena pada ujian sebelumnya ia sudah gagal.


Saat jarak kamar Elena tersisa beberapa meter lagi ia mengerutkan dahinya karena melihat Louis duduk sekitar 2 meter dari kamarnya, ia merasa Louis duduk di sana memang untuk menunggunya.


Dan benar saja saat Elena semakin dekat, Louis langsung berdiri dari tempatnya duduk. Seolah tidak sabar menunggu lebih lama Louis pun berjalan menghampiri Elena, "Kau habis dari mana saja? aku menunggu mu setiap hari di sini."


"Menunggu untuk apa? padahal kau bisa bertanya tentang aku pada Liana, tidak perlu menunggu seperti ini. Atau kau perlu sesuatu yang sangat mendesak dari ku?" tanya Elena penasaran.


"Sial! Elena sudah kembali dari luar dan aku malah tertidur, bisa gawat kalau dia bertemu dengan Louis lalu kesalah pahaman diantara mereka lenyap. Itu tidak baik untukku," batin Kavana berlari sekuat tenaga menuju asrama putri.


Beberapa hari lalu ia ingin menemui Elena. Namun ia terpaksa harus bersembunyi karena melihat ada Louis dan Liana di depan pintu kamar Elena, ia sempat mendengar pembicaraan mereka yang mengatakan Elena pergi keluar menara karena kecewa dengan Louis yang mengabaikan dirinya apalagi sampai membawa wanita lain dari luar.


Kavana mendapatkan ide bagus dari perkataan Liana saat itu, ia berniat tidak akan membiarkan Elena bicara dengan Louis agar kesalah pahaman diantara mereka tidak bisa diluruskan lalu Elena akan membenci Louis. Dengan begitu ia akan berada di sisi Elena untuk merebut hatinya. Kavana tidak tahu saat itu Liana hanya mengerjai Louis.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘