The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 88 Bermain cantik ala Arthur.



Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Ernest dan Sonia, jadi Sonia akan membuat acara yang mewah untuk mereka berdua. Saat waktu acara hampir tiba, Ernest keluar dari kamar tidur mereka tanpa mengenakan pakaian yang telah Sonia siapkan padahal Sonia sudah selesai berdandan rapi.


"Kau mau ke mana? ini sudah siang, sayang. Sebentar lagi para tamu akan datang," ucap Sonia yang mulai merasakan firasat buruk.


Ernest lalu menyentuh kedua pipi Sonia seraya berkata, "Sayang, hari ini aku lupa kalau aku akan janji makan siang dengan seseorang. Maafkan aku yah. Tapi tolong undur pesta ini sampai malam nanti, ku mohon."


"Tidak bisa begitu, Ernest. Aku sudah meminta mu kosongkan jadwal hari ini dari 3 hari yang lalu, kau jangan bersikap keterlaluan seperti ini. Pokoknya kau tidak akan pergi ke mana pun sampai pesta selesai."


"Sayang, cobalah untuk mengerti. Waktu janji tinggal satu jam lagi dan tidak bisa aku batalkan, ini menyangkut reputasi ku."


"Selalu saja begitu. 2 tahun terakhir ini kau mulai berubah, ada apa sebenarnya? apa kau diam-diam punya hubungan dengan wanita lain?"


"Sayang, ya ampun. Kau ini kenapa? aku tidak membatalkan acara hanya meminta pengunduran waktu, aku bekerja keras demi memenuhi kebetuhan hidup mu."


"Aku tidak mau. Hari ini adalah hari ku jadi kau harus tetap bersama ku seharian."


"Sayang, maafkan aku. Aku harus pergi, aku mencintai mu." Ernest mengecup pipi kanan Sonia kemudian lekas berlalu dari hadapannya.


"Kau pikir aku bisa kau bodohi. Kau pasti akan menemui kekasih gelap mu, aku tau itu," batin Sonia.


Sonia menunggu Ernest pergi lalu ia mengikut kereta Ernest dari belakang dengan kereta sewaan, tempat tujuan Ernest sangat jauh dari pusat ibu kota bukan hanya itu kereta kudanya berhenti di depan gang sempit lalu Ernest turun dan masuk ke dalam gang itu dengan berjalan kaki.


"Janji apa yang kau buat di tempat kumuh seperti ini," batin Sonia. Ia tetap mengikuti Ernest dari belakang. Tiba-tiba Ernest berbelok, Sonia juga berbelok ke arah yang sama. Namun seorang pria menabrak Sonia dari arah yang sama, ia membuat Sonia kehilangan jejak Ernest.


"Maafkan aku, nona. Apa kau terluka?" tanya pria itu seraya membantu Sonia berdiri.


"Sial! apa kau buta arah?" tanya Sonia dengan raut wajah kesal karena gaunnya kotor dan ia kehilangan Ernest.


"Aku tadi tidak melihat mu, maafkan aku. Tapi nona apa kau sedang mencari seseorang?"


"Ya, aku sedang mencari ayah mu. Apa kau puas?"


"Tolong jangan marah lagi nona, aku kan sudah minta maaf tadi bahkan 2 kali."


"Maaf apa untungnya bagi ku? kau merusak segalanya, benar-benar sial sekali, tch!" Sonia berdecak kesal.


Pria itu membuka jasnya lalu ia menutupi Sonia dengan jas itu, "Nona, bisakah kita pindah tempat dulu?"


"Kenapa? apa kau ingin menjebak ke suatu tempat lalu mengancam ku?" tanya Sonia yang masih saja diselimuti amarah.


"Semua pria yang lewat menatap mu dengan tatapan tidak baik. Tidak baik bagi wanita biasa tetap ada di gang ini, ayo!" Pria itu menuntun Sonia secara paksa keluar dari gang tersebut, ia mengajak Sonia masuk ke dalam keretanya.


"Jadi nona, apa yang membawa mu ke gang itu? itu gang menuju rumah bunga, kau akan dianggap buruk jika berada di sana. Kau tidak tahu akan itu?" tanya pria itu pada Sonia.


"Wanita yang menarik. Aku suka dia," batin pria terpesona dengan Sonia.


"Kenapa menatap ku? apa wajah ibu mu terlihat di wajah ku?" tanya Sonia. Namun, hanya ditanggapi dengan senyuman oleh pria di depannya.


"Apa pasangan mu selingkuh?" tanya pria itu, Sonia menghela nafas lalu mengangguk, "Dia tunangan mu kah atau hanya keka …."


"Suami ku yang berselingkuh," potong Sonia. Raut wajah pria di depannya seketika berubah.


"Bagaimana jika kau ikuti saran ku, nona? ini cukup ampuh bagi wanita. Pria seperti suami mu itu tidak usah kau perjuangkan lagi, kau hanya akan merasa lelah. Wanita cantik seperti mu bisa bermain cantik juga kan?"


"Apa maksud mu?"


"Kenalkan nama ku Arthur. Aku datang ke sini dari Kekaisaran Barat, sebenarnya ayah ku berselingkuh dengan seorang wanita dari gang itu dan tadi aku pergi untuk melenyapkannya. Untuk menangani sikap kotor ayah ku, ibu ku bermain cantik dan membuatnya kehilangan semua yang dia miliki lalu hidup seperti pelayan ibu ku."


"Caranya?"


"Pria umumnya berselingkuh karena dia punya uang, wanita juga hanya mau menjadi simpanan pria yang memiliki kekayaan. Akan bagaimana jadinya pria itu jika dia tidak punya apa pun? coba bayangkan."


"Aku bisa membayangkannya. Hanya saja membuat suami ku yang seorang bangsawan terhormat tidak punya apa pun lagi, sama saja dengan menggali kuburan ku sendiri."


"Tidak, nona. Di saat itulah permainan cantik akan bekerja. Suami mu akan jatuh miskin sementara kau tetap pada posisi mu sebagai duchess, kau mau tahu caranya?"


"Katakan saja! jangan banyak bertanya, kau mau memberitahu ku atau tidak? aku tidak mau buang-buang waktu dengan mu."


"Baiklah, kau bisa bersikap manis pada suami mu. Apa pun yang akan dia lakukan, harus kau setujui seolah kau tidak merasakan apa pun. Lalu saat dia sedang pada masa bahagianya, ambil alih semua yang merupakan miliknya. Saat pria bahagia dia akan menjadi buta, buat dia menanda tangani surat penting atas namanya atau kepemilikan harta atas namanya menjadi atas nama mu. Saat semuanya sudah selesai maka tunjukan padanya, lihat bagaimana dia akan tunduk pada mu," jelas Arthur itu. Sonia yang kesal kini tersenyum bahagia, senyuman itu membuat Arthur terpesona. Dia tidak akan menyangka setelah patah hati karena cintanya ditolak Elena 2 tahun lalu, ia akan jatuh cinta lagi pada wanita bersuami.


"Bagaimana? apa kau tertarik dengan itu? jika iya maka, bisakah aku menjadi teman mu?" Arthur ingin selangkah lebih dekat dengan Sonia.


"Sangat tertarik. Menjadi teman ku tidak semudah itu, untuk permainan cantik itu aku ambil sebagai permintaan maaf mu. Aku bukan wanita yang mau rugi," jawab Sonia, "Aku harus pergi."


"Kau akan mencampakan aku?" tanya Arthur, Sonia hanya tersenyum lalu ia turun dari kereta. Arthur hanya melihat Sonia pergi dari jendela keretanya, ia bahagia menatap punggung Sonia yang mulai menjauh.


"Ada baiknya kau meninggalkan pria itu lalu aku akan mendekati mu, mempertahankan pria itu rasanya tidak pantas. Aku yang akan menggantikan posisinya, dan aku akan membahagiakan mu. Wahai wanita yang mencuri hati ku," batin Arthur. Ia pun meminta kusir segera menuju penginapan terdekat, karena ia ingin tinggal di ibu kota lebih lama.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘