The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 42 Tujuan kedua Elena.



"Dia tidak kembali," batin Asya setelah menunggu Elios semalaman.


"Jadi benar wanita itu reinkarnasi penguasa monster, buktinya Elios tidak kembali. Pasti dia memilih berpihak pada monster itu dari pada dewa," gumam Asya. Asya langsung memakai jubahnya lalu meninggalkan gua tempat tinggalnya bersama Elios selama bertahun-tahun.


Asya kembali ke tempat suci yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya selama ini, kemarin dia terlambat datang. Tapi saat dia datang rencana mereka telah gagal, Asya pun pulang lebih awal dan menunggu Elios untuk membahasa rencana selanjutnya, sayangnya yang di tunggu tidak kembali.


Asya tau para dewa sudah tidak adil pada Elios. Namun Asya tidak mau Elios sampai memusuhi mereka, ia sampai tinggal di dalam gua itu demi memastikan Elios tidak kembali ke dunia bawah. Sekarang usahanya sudah gagal dan ia yakin akan hal itu.


*****


"Leon, kau tidak seharusnya seperti itu pada Elios. Tidak baik mempertanyakan niat seseorang, itu tidak sopan dan kakak tidak pernah mengajari itu pada mu. Sekarang kita keluarga jadi kita harus saling percaya," nasehat Liana pada Leon. Ia telah menyelamatkan Elios dari kecurigaan Leon.


Elena mengambil tombak itu dan memainkannya, "Tombak yang bagus, aku terima."


"Aku senang jika kakak suka hadiah ku," ucap Elios pura-pura tersipu malu.


Karena masalah sudah selesai mereka pergi ke kedai untuk sarapan bersama. Mungkin tidak ada lagi kecurigaan sedikit pun dari yang lain pada Elios kecuali Leon, dia masih saja memolototi Elios sampai ia puas.


Kini Elena ada dalam dilema yang besar karena tujuan ia datang ke mari sudah pergi. Tapi ia masih tetap ada pada tempatnya,  sekarang ia harus kembali untuk membuktikan diri pada Galen jika yang salah bukan dirinya melainkan Ernest. 


Hanya saja jika Elena kembali sekarang maka tujuan keduanya akan sia-sia, yakni membawa keluarganya ke puncak tertinggi lalu membalaskan dendam pada Ernest. 


"Lupakan tentang membuktikan diri mu Elena, kau harus mencapai puncak tertinggi. Lagi pula walau pun kau menjelaskan semuanya pada Galen, belum tentu dia akan percaya pada mu," ucap Elena pada dirinya sendiri.


Plak!


Elena memukul kedua pipinya seraya berkata, "Elena harus bisa."


Kemudian Elena pergi ke toko pakaian untuk memesan beberapa pakaian petualang yang tahan terhadap serangan tingkat sedang, setelah itu ia pergi memesan peralatan khusus untuk petarung.


Tidak butuh waktu lama akhirnya pesanan Elena selesai, ia di bantu oleh Casey membawa itu semua ke kamar penginapannya.


"Beratnya," keluh Elena terbaring di lantai.


"Apa isi kotak ini?" tanya Liana mengetuk-ngetuk kotak itu.


Elena bangun dan menjawab,"Tujuan perjalanan kita. Setelah membuka semua kotak ini, perjalanan kita sebagai petualang yang hidup berpindah-pindah akan berakhir."


"Woah. Apa kita akan membeli rumah besar lalu tinggal di sana bersama selamanya?" tanya Leon dengan tatapan berbinar.


"Dia memang anak kecil," batin Elios.


"Tidak. Karena Leon dan Elios tidak akan tinggal bersama kakak lagi," jawab Elena membuat Liana terkejut.


"Apa ini Elena? ke-kenapa kau mengatakan itu?" Liana menjadi sedih mendengar jika dia akan terpisah dari Leon.


"Leon bertanya pada kakak sebelumnya kapan kau akan menjadi kuat kan? maka setelah kotak ini kita buka maka Leon akan belajar menjadi kuat. Dan sebagai kakak, kau harus mendukung Leon karena dalam hidup seseorang harus maju, Liana." Elena menyentuh pundak Liana, airmata Liana menetes. Tapi dia tetap mengangguk, karena ia juga berpikir tidak selamanya Leon akan terus menjadi anak kecil yang akan setia mengikuti dia dari belakang.


"Ayo kita buka." Elena mengambil kunci untuk membuka gembok kotak tersebut.


Setelah kotak itu terbuka isinya membuat mata terpesona, barang-barang mahal kelas tinggi ada di depan mata mereka. Bahkan Casey yang tinggal bergelimang harta, tetap saja terpesona.


"Woah. Lihat Elios." Leon menarik Elios mendekati kotak senjata, "Pedang kayu yang bagus. Terlihat sangat kuat, pasti tidak akan patah untuk waktu lama."


"Ah! harus aku akui, desain pedangnya memang sedikit unik bahkan kayu yang di gunakan juga bukan kayu biasa. Senjata aslinya juga tidak berat sama sekali," batin Elios merasa kagum dengan senjatanya.


"Tentu saja ini semua unik, karena ini adalah desain dari masa depan. Aku hanya menyontek saja," batin Elena.


Mereka memakai pakaian dan  mengambil senjata mereka masing-masing. Lalu berdandan serapi mungkin, karena hari ini juga mereka akan berangkat ke tujuan akhir Elena untuk mencapai puncak.


"Sayang sekali kita harus berpisah di sini. Tolong jangan lupakan kami di masa depan," ucap Yoluta pada Elena dan yang lainnya.


Mereka harus berpisah karena Yoluta dan Casey tidak bisa berada di tempat tujuan Elena, di sana terdapat banyak orang-orang kuat yang mungkin akan menyadari identitas mereka jadi mereka akan kembali ke dunia bawah.


"Aku akan merindukan kalian." Liana berpelukan dengan Yoluta.


Salam perpisahan sudah selesai di ucapkan kini mereka berjalan kearah berlawanan, mereka terpisahkan oleh punggung mereka masing-masing. Tidak tahu kapan bisa bertemu lagi, walau pun demikian mereka berdoa pada tuhan agar tetap di pertemukan kembali.


"Ah! apa rencana kita sudah terbilang gagal?" tanya Casey menatap langit.


"Mungkin tidak, mungkin juga iya. Kita tidak bisa menahan master untuk menjadi lebih kuat, semakin kuat master semakin dekat dia dengan kita. Aku harap dunia atas tidak menghalangi langkahnya," jawab Yoluta menghela nafas berat.


"Kita pulang?" Casey mengulurkan tangannya pada Yoluta.


"Tentu saja. Tuan rumah sudah menunggu kita," jawab Yoluta memegang tangan Casey.


Casey membentangkan sayapnya lalu terbang jauh ke atas, mereka menuju portal dunia bawah.


Di sisi lain Elena dan Liana membawa Leon bersama Elios ke Akademik Kesatria, sebelumnya Elena telah mendaftarkan mereka tanpa mengatakan pada siapa pun dan semuanya terbongkar hari ini.


"Jadilah anak yang kuat lalu kita akan bertemu lagi. Kakak tidak mau bertemu dengan adik yang lemah nanti," ucap Elena memberikan Elios semangat.


"Hiks hiks hiks Le-ong hiks kaika akam hiks hiks." Liana terlalu banyak menangis membuat ucapannya jadi tidak jelas.


"Kakak, aku berharap ini menjadi momen yang mengharukan. Tapi kakak malah membuat pakaian ku basah," gerutu Leon sebab Liana menangis saat memeluknya.


"Kakak tau kau itu kuat, jadi tolong jaga Leon untuk kami yah," pinta Elena pada Elios dengan berbisik agar Leon tidak mendengarnya.


"Ya ampun. Aku bisa saja membuat kutukan ku lepas sedikit agar aku bisa tumbuh dewasa. Akan tetapi, aku tidak mau kau tinggal bersama anak pengganggu ini. Aku di sini untuk menjaga mu bukan dia." Elios berteriak dalam hati karena rencananya sekarang benar-benar hancur.


Leon menarik Elios masuk ke dalam akademik. Beberapa saat kemudian Elena bersama Liana sekarang telah berdiri di depan portal teleportasi yang akan membawa mereka ke salah satu daratan dunia bela diri yakni Daratan Agung, tempat menara Kekaisaran Barat berdiri sekaligus tempat orang-orang hebat terlahir sebagai petarung sejati yang akan di segani.


Baru saja satu kaki Elena dan Liana terinjak di dalam portal, suara teriakan Louis memanggil nama Elena membuat Elena berbalik. Dari kejauhan Louis berlari mengulurkan tangannya untuk menggapai Elena.


"Aku sudah mengatakan dengan tegas, aku tidak membutuhkan mu atau pun bantuan mu dalam kehidupan ini. Jangan mengambil langkah besar hanya untuk menggapai ku," batin Elena. Ia langsung menarik tangan Liana agar masuk lebih cepat ke dalam portal kemudian menghilang di dalam


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘