
Sonia duduk sambil melihat undangan yang di tawarkan dari banyak tempat untuknya, Sarah dan Daran juga ikut memilihkan.
"Aku tidak mau ini semua." Sonia melempar undangan yang ada di tangannya ke atas meja.
"Kenapa memangnya? lihat dari semua tempat yang ada, kau mendapatkan undangan langsung dari menara. Kau di sana bisa saja menjadi kesatria kan atau pejabat. Upahnya juga sangat besar, setidaknya mereka melupakan reputasi mu yang sudah rusak lalu mengirim undangan ini. Jangan sia-sia kesempatan yang sudah ada di depan mata," jelas Sarah.
"Kalau ayah, ayah suka dia masuk ke pusat penelitian karena dia punya bakat yang bagus. Bagaimana menurut mu, nak?" tanya Daran pada Sonia.
"Kalian bisa diam atau tidak? kepala ku sakit sekali, aku benar-benar tidak mau bekerja di sana. Aku mau ada di samping Ernest, setelah penghalang hubungan kami akhirnya pergi jadi mana mungkin aku juga pergi," jawab Sonia membuat Daran sedih serta Sarah marah.
Plak!
Sara menampar Sonia membuat wanita itu kesal, "Kau berani menampar ku? dasar tidak tau diri."
"Kenapa kau marah? apa seorang kakak menampar adiknya itu salah? jika saja kau tau sopan santun maka tangan ku tidak akan melayang ke wajah mu. Dasar tidak berguna," hina Sarah.
"Bola ap …." Sonia berniat menyerang Sarah sayangnya, kekuatan Sarah cepat lebih kuat darinya.
"Panah api." Sarah menyerang lebih dulu membuat Sonia tertusuk panah apinya, yang mengakibatkan luka bakar parah di bagian pundak Sonia.
"Kekuatan mu baru sampai Lever dasar tingkat 12 sedangkan aku Level misteri tingkat 2. Bagaimana bisa kau mengalahkan oranng yang berada 2 tingkat di atas mu," ejek Sarah, Sonia hanya bisa memalingkan pandangannya saja.
"Ayo ayah." Sarah mengajak Daran pergi bersama dengannya.
"Sial." Sonia memukul tembok untuk melampiskan amarah.
"Kenapa setelah Elena pergi aku tetap tidak bahagia? kenapa? apa salah ku pada mu, tuhan? kenapa dari semua orang harus aku yang menderita? ini bukan akhir yang aku mau," teriak Sonia yang menangis sejadi-jadinya.
Saat itulah barulah Ernest menampakan diri, ia berlari mendekati Sonia lalu memeluknya, "Maafkan aku, Sonia. Maaf karena telah mengabaikan mu, aku dibutakan oleh amarah ku sampai aku tidak sadar jika ada orang yang sangat peduli pada ku yakni diri mu, Sonia."
"Huwaaa." Sonia menangis dalam peluka Ernest, "Aku berpikir kau membenci ku. Syukurlah tidak Ernest, syukurlah."
Setelah itu Sonia pingsan karena luka di pundaknya, Ernest menyeringai lalu membawa Sonia pergi bersamanya.
*****
Tak tak tak
Nyonya besar Abigail Abraham dari tadi terus memukul kipas ke tangannya membuat suasana ruang tamu jadi tegang, tidak ada satu pun dari anggota keluarga yang berani bicara atau mengangkat kepala.
Abigail Abraham terkenal sebagai wanita pemarah, tidak ada yang bisa melakukan kesalahan sekecil apa pun jika menyangkut dirinya karena dia akan memarahi orang itu 7 hari 7 malam. Dulu saat Tuan besar Abraham masih hidup maka dialah yang akan menenangkan amarah Abigail. Namun setelah ia tiada, amarah Abigail kembali membakar banyak orang, dan amarah itu terkendalikan saat Elena lahir.
Jadi jika Elena tidak ada maka semua keluarga Abraham tidak ada yang berani bicara pada Abigail bahkan hanya untuk bergerak, seperti saat ini.
"Mimi." Panggil Abigail membuat Mimi terkejut dan langsung menyahut, "Katakan pada mereka apa yang terjadi."
"Baik." Mimi dengan patuh langsung berdiri, "Begini saat itu nona ingin minum air, jadi saya pergi mengambil air untuk nona di sungai. Saat saya kembali ke kereta tiba-tiba ada seseorang yang memukul kepala saya menyebabkan saya pingsan. Saat saya sadar saya telah terbaring di kursi kereta dengan pakaian milik nona."
"Duduklah!" perintah Abigail pada Mimi, Mimi pun langsung menurutinya.
"Sesuai keinginan Ibu," jawab Austin bersama Liliana.
Tak!
Abigail menutup kipasnya lalu ia beranjak pergi dari ruang tamu menuju kamar yang telah Liliana siapka, setelah dia pergi barulah yang lainnya bisa bernafas lega.
"Maafkan saya nyonya, tuan, dan tuan muda. Kalau saja saya tidak lalai maka nona tidak akan melarikan diri," ucap Mimi.
"Ini bukan salah mu," balas Liliana memeluk Mimi, "Kali ini semua masalah berasal dari Elena, entah dari mana dia belajar untuk melarikan diri."
"Kau benar, ini tidak seperti Elena yang kita kenal. Aku sendiri tidak yakin, entah bgaimana bisa anak itu bisa hidup di luar sana. Kita akan memulai pencarian secepatnya atau kediaman kita akan hangus," lanjut Austin.
"Nenek bahkan tidak ada rasa sayang sedikit pun pada kita, dasar Elena," keluh Aaron.
"Adik, bukankah Qinthia akan datang? jika dia bertemu dengan nenek maka …." Carlos menatap jam dinding membuat Aaron tersadar.
"Sial! dia akan datang jam 9 dan itu sudah jam 9 tepat. Ayo!" ajak Aaron pada yang lainnya, ia pergi lebih dulu ke depan.
Sesampainya di sana mereka sudah terlambat, mereka melihat Qinthia berjalan bersama Abigail ke lantai atas. Semua orang kembali tegang membayangkan apa yang terjadi di sana nanti.
*****
Orang-orang yang ada di dalam bangunan tua itu mengalir keluar, ada 5 orang pria dewasa bersama seorang anak kecil berusia kisaran 7 tahun.
"Kena kau." Elena mengangkat anak itu.
"Dapat." Slyph menemukan kantong uang dengan lambang kuda milik keluarga Abraham dari dalam pakaian anak tersebut.
"Kau berani mencuri uang ku, apa kau ingin aku hukum?" ancam Elena membuat anak itu berkaca-kaca.
"Hei!" seorang pria mengancungkan jari telunjuknya pada Elena, "Berikan kantong itu pada ku, itu milik ku. Anak ini hanya mencuri barang-barang milik keluarga ku, jadi kau jangan coba-coba mengambil barang ku."
"Kau juga akan di hukum karena telah menyerang ku. Karena kau adalah wanita maka aku berikan kau hukuman yang indah, yakni menjadi selir ku," lanjut pria itu membuat Elena geram. Amarah karena uangnya di curi belum hilang sekarang sudah di tambaj dengan amarah yang lain.
"Pria itu bohong. Aku memang mencuri kantong uang kakak ini, ini bukan milik mu. Kau saja yang selalu memeras ku," balas anak itu.
"Tutup mulut mu. Pencuri mana yang mengakui kejahatannya, itu pasti bohong. Kau ingin menipu ku."
"Diamlah!" teriak Elena, ia melempar anak kecil itu pada pria yang ada di depannya.
"Ambil saja dia. Aku tidak punya urusan lagi dengannya, lalu terserah apa kata kalian. Kantong ini milik ku jika kau punya nyali maka rebutlah," tantang Elena. Tanpa berpikir panjang Elena berbalik hendak meninggalkan wilayah itu. Namun, ia tidak tahu jika pria itu melakukan penyerangan dari belakang.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘