The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 95 Penculikan Jolycia.



Teng teng teng


Semua murid akademik di minta untuk berkumpul, Leon dan Elios meninggalkan kelompok anak-anak pengosip itu. 


Mereka pergi ke lapangan utama untuk mendengar pengumuman dari kepala akademik, kepala akademik memberikan tugas kesekian untuk para kesatria senior. Ada beberapa kelompok yang terpilih untuk di kirim ke daratan agung, penguasa menara mengatakan mereka membutuhkan kesatria tambahan dengan gaji yang lumayan.


"Kita akan bertemu dengan kakak, Elios." Leon memeluk Elios dan tidak sabar menanti hari keberangkatan mereka.


*****


Saat kaki Elena menginjak dunia atas, ia merasa flu yang tadi semakin parah mulai meringan. Hidungnya tidak lagi tersumbat, dan dia bisa bernafas dengan baik.


Mereka pergi ke kediaman raja para dewa menggunakan kereta angin, jaraknya dari portal sangat jauh untuk sampai ke kediaman raja para dewa.


Sesampainya di sana Elena dan Kavana di sambut oleh kediaman yang sangat besar sekaligus indah, para pelayannya berpakaian mewah dan rapi bahkan tidak terlihat seperti pelayan. Mereka berjalan dengan anggun tidak seperti pelayan biasa.


"Kau pergi ke taman saja, ingat jangan buka cadar mu atau kau akan menularkan flu di kediaman raja dewa," pesan Kavana. Elena hanya mengangguk kemudian ia berlari menuju taman.


"Indahnya," gumam Elena melihat semua bunga di taman itu.


Kavana pun melanjutkan perjalanannya menuju aula utama, di sana asisten Alfred sudah menunggunya. Ia mengantar Kavana ke ruang tamu di mana Alfred sedang duduk menunggu, melihat Kavana pria yang akrab dipanggil raja dewa itu tersenyum ramah.


"Duduklah." Alfred mempersilakan Kavana duduk berhadapan dengannya.


Kavana mengangguk, ia pun duduk lalu meletakan barang yang ia bawa di atas meja, "Saya tidak akan menyita banyak waktu anda yang berharga, jadi ini barang kiriman tetua agung."


"Terima kasih." Alfred memberikan isyarat pada asistennya, asistennya pun mengambil barang itu dan ia meletakannya diatas nampan perak yang ia pegang.


"Kau datang berdua dengan seorang wanita, di mana dia?" tanya Alfred pada Kavana.


"Dia sedang flu. Saya memintanya menunggu di taman sebelah barat," jawab Kavana. Alfred teringat jika taman barat adalah taman pribadi Jolycia.


"Ada baiknya biarkan saja manusia itu ke sana, agar Jolycia bisa bicara dengannya. Siapa tahu nanti dia akan tenang dan tidak membuat masalah setelah bertemu teman sebaya dengannya," batin Alfred.


Sementara itu di sisi lain saat mengedarkan pandangannya, Elena tidak sengaja melihat wanita cantik duduk di gazebo sambil minum teh. Elena terpesona melihat kecantikan serta keanggunannya wanita yang mirip dengan boneka itu, wanita itu nyaris sempurna di mata Elena.


"Selamat pagi," sapa Elena kepada wanita yang tidak lain adalah Jolycia.


"Selamat pagi, apa kau pelayan baru yang datang hari ini?" tanya Jolycia membuat Elena tertawa, "Apa ada yang lucu?"


"Tidak ada, maafkan saya. Saya adalah murid dari menara agung yang memiliki janji temu dengan raja dewa, senang bertemu dengan anda. Karena sedang flu jadi saya tidak masuk ke dalam kediaman, ada teman saya yang menggantikan saya untuk itu."


"Pergilah. Ini bukan tempat yang bisa kau datangi sesuka hati mu, ini tempat yang lebih buruk dari penjara."


"Kenapa anda berkata seburuk itu saat anda sendiri terlihat bahagia di sini?"


"Bahagia apanya? aku setiap hari menangis sampai tidak ada airmata lagi yang tersisa, siapa pun tidak akan mengerti itu. Pergilah orang asing dan jangan datang lagi!"


"Orang asing? saya punya nama. Perkenalkan saya Elena Abraham." Elena memperkenalkan diri dengan etika bangsawan, mendengar nama Elena saat itu Jolycia tanpa sadar berdiri dan melepaskan cadar Elena.


Elena dengan cepat mengambil cadarnya dari tangan Jolycia, "Apa yang anda lakukan? jika anda tertular bagaimana?"


Saat ingin memakai cadarnya kembali Elena dikejutkan dengan Jolycia karena tiba-tiba wanita itu meneteskan air mata, "Apa anda baik-baik saja? apa saya melukai anda? maafkan saya." 


"Syukurlah kau datang, aku sudah menunggu mu sejak lama. Elena." Jolycia memeluk Elena dengan erat.


Sesaat kemudian ia menarik Elena pergi ke ruang khususnya, di sana ia menceritakan semua yang ia alami karena Alfred disertakan bukti bekas luka di tubuhnya.


"Tolong aku." Jolycia menggenggam tangan Elena dengan tangan gemetar dan berkeringat dingin.


"Saya sangat ingin menolong anda. Tapi inu kediaman raja dewa, tidak mudah keluar dari sini tanpa pengawasannya," balas Elena.


"Apa kita harus menyusun rencana dulu? apa kau punya rencana?" tanya Jolycia pada Elena.


"Bagaimana jika bertukar? saya bisa menjadi anda untuk sementara, lalu anda pergilah dengan teman saya keluar dari dunia atas. Soal saya anda tidak perlu khawatir. Ini ide yang bagus kan?" usul Elena yang langsung mendapat penolakan dari Jolycia.


"Wajahnya sangat mirip Rani, jika kami bertukar maka dia akan menderita. Rani, pasti akan sedih. Walau pun aku tidak menyebut nama Rani padanya, dia tidak akan mengerti seperti apa pria itu yang mengurung ku bukan karena aku cantik, melainkan karena aku putri wanita yang dia cintai. Bagaimana ini?" batin Jolycia.


"Itu ide yang buruk. Karena kau tidak akan mudah lepas darinya," jawab Jolycia membuat Elena harus memutar otaknya untuk mencari rencana.


"Memanggil Hydra." Elena memanggil Hydra keluar, Hydra yang saat itu sedang merawat tanamannya muncul dengan pakaian kotor.


"Apa nona? aku sangat lelah." Hydra meregangkan otot tangannya.


"Bawa wanita ini ke tempat mu," perintah Elena membuat Hydra terkejut.


"Tapi …."


"Jangan membantah. Menurut saja, cepatlah!" desak Elena.


"Baiklah. Ayo nona manis." Hydra memegang tangan Jolycia.


"Tunggu." Jolycia mengambil botol dari dalam laci. Setelah itu barulah ia memegang tangan Hydra, Hydra pun membawa Jolycia pergi bersamanya melalui lingkaran pemanggil.


"Yosh, ayo pergi." Elena memakai cadarnya lalu keluar dari ruangan itu diam-diam.


"Elena, kau harus baik-baik saja," batin Jolycia.


Alfred merasakan ada kekuatan gelap berasal dari kediaman Jolycia, kekuatan gelap monster yang Alfred rasakan itu berasal dari Hydra. Tanpa menunggu lama Alfred bergegas ke taman barat bersama dengan kesatria suci serta Kavana.


"Gawat. Alfred semakin mendekat, aku harus melakukan sesuatu untuk Elena," batin Alden. 


Alden memegang tangan Elena lalu ia berteleportasi ke taman sebelah timur, Elena yang tidak bisa melihat Alden sangat terkejut karena ia bisa berpindah tempat dalam sekejab. Namun ia tidak khawatir, karena ia berpikir mungkin Jolycia yang membantunya berteleportasi.


"Cari nyonya kalian sampai ketemu!" perintah Alfred saat taman barat kosong. Tidak lupa Ia juga memeriksa seisi kediaman Jolycia.


"Ke mana? ke mana? ke mana perginya kau? siapa yang membawa mu? siapa?" teriak Alfred meremas selimut Jolycia.


"Berani sekali kalian penduduk dunia bawah yang kotor masuk ke kediaman ku dan menculik Jolycia. Apa kalian pikir raja dewa ini akan diam saja? aku tidak akan melepaskan kalian," batin Alfred melempar selimut itu ke lantai.


"Anu … raja dewa." Kavana mendekati Alfred, ia ingin membantu hanya saja ia tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang hilang.


"Kalian kembalilah dulu. Aku tidak ingin membicarakan apa pun, dan ingat apa yang terjadi di sini jangan sampai tersebar keluar. Cepatlah!" bentak Alfred membuat Kavana takut. 


Kavana pun bergegas mencari Elena setelah mereka bertemu, ia mengajak Elena keluar dari kediaman Alfred. Sementara itu Alden memperhatikan Elena yang mulai menjauh, ia sendiri belum bisa pergi karena masih ada yang harus ia lakukan. Alden bisa merasakan ada keberadaan Rani di kediaman Alfred.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘