The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 107 Apa ini semua?



Yoluta membuat 2 cangkir kopi lalu membawanya ke rumah kaca, di sana ada Jolycia yang sedang sibuk menyiram bunga.


"Aneh bukan, bunga bisa tumbuh sumbur di dunia bawah," ucap Yoluta membuat pekerjaan Jolycia terhenti, "Mau kopi?"


Jolycia tersenyum. Ia meletakan selang air kemudian beranjak mendekati Yoluta dan menerima secangkir kopi yang baru saja ditawarkan untuknya, ini pertama kalinya Jolycia minum kopi.


"Rasa manis dan pahit yang pas. Nikmatnya." Jolycia kembali bersemangat karena secangkir kopi.


"Bisakah aku bertanya pada mu, Jolycia?" 


"Tentu saja, hal seperti itu tidak perlu minta izin."


"Kau benar. Baiklah, apa kau membenci Elena?"


"Kenapa tiba-tiba membahas Elena?"


"Jawab saja."


"Seharusnya aku benci karena dia merebut keluarga ku dan membuat aku menderita. Tapi aku tidak bisa membencinya, semua yang terjadi bukan atas keinginan atau pun di sengaja olehnya. Lagi pula dengan begitu aku bisa tau wajah asli para dewa."


"Jolycia, bagaimana jika nanti kau tidak pernah bisa kembali ke keluarga mu untuk selamanya?"


"Sebenarnya aku tidak tahu keluarga itu seperti apa karena aku tidak pernah merasakannya, bahkan keluarga yang aku lihat tidak indah sama sekali. Jadi bisa kembali atau tidak, apa itu penting?"


"Kau tidak tahu saja. Elena di dalam keluarga mu sangat bahagia, dia punya orang tua yang baik hati dan dua kakak laki-laki penyayang. Elena diperlakukan bagaikan harta tak ternilai dalam keluarga itu, dia tidak bisa lecet apalagi terluka."


"Benarkah? baguslah, setidaknya dia tidak perlu menderita. Elena itu hatinya murni, siapa saja yang berhati buruk didekatnya pasti akan berubah menjadi baik."


"Jolycia …."


"Aku sungguh tidak apa-apa Yoluta. Di sini sudah lebih dari cukup bagi ku, kalian sangat baik sama seperti Rani. Jika suatu saat nanti aku harus kembali ke keluarga ku, atau bertukar tempat dengan Elena. Akankah mereka mencintai ku sama seperti mereka mencintai Elena? aku tidak mau menderita lagi, penderitaan selama 30 tahun ini sudah cukup."


Yoluta spontan memeluk Jolycia, ia tidak akan menyangka jika wanita yang terlihat biasa saja akan sebijak ini.


"Yoluta, kopinya bisa tumpah." Jolycia panik sampai tidak berani bergerak karena takut kopi dalam cangkir tumpah mengenai Yoluta.


*****


"Elios bicara dengan siapa?" batin Elena seraya memegang gagang pintu.


"Kakak." Diven meraih tangan Elena sebelum Elena membuka pintu kamar Elios.


"Ada apa?" tanya Elena melepaskan tangannya dari gagang pintu.


"Sebenarnya …." Dive menyikap rambutnya ke belakang telinga sambil menatap mata Elena, "Aku memanggang kue untuk kakak, apa kita bisa makan bersama?"


"Hahahaha, kau ini. Tentu saja bisa, astaga kau sangat menggemaskan." Elena mencubit pelan pipi Elena.


"Tapi hanya kita berdua saja, yah?" Diven dengan ekspresi centilnya yang imut membuat Elena terpana.


"Ayo!" Elena langsung mengajaknya pergi. Diven menjadi bahagia, ia menuntun Elena dengan hati berbunga menuju ke dapurnya.


Setelah Elena pergi, Leon membawa Liana datang ke kamar Elios untuk mengambil barang penting. Liana sampai rela datang jauh-jauh karena barang itu. Saat pintu kamar terbuka keduanya disambut dengan teriakan Elios.


"Sudah ku katakan. Mengatakan kebenaran Elena adalah anak raja monster itu sangat sulit, akankah dia menerima kenyataan itu? jika sesuatu yang buruk terjadi padanya setelah itu siapa yang akan bertanggung jawab?" teriak Elios pada Teodore.


"Lalu? kita harus menunggu berapa lama lagi? apa sampai Elena mencapai usia tua?" tanya Teodore.


"Bukan seperti itu juga. Tapi setidaknya jangan sekarang, kita harus mencari waktu yang tepat."


"Jangan egois, Teodora. Yang akan terluka bukan hanya Elena, ada keluarganya dan keluarga ku juga. Jika Elena harus ke dunia bawah lantas bagaimana dengan saudaraku? bagaimana dengan Leon dan Liana?"


"Kenapa kau menjadi emosional? para manusia itu sejak kapan menjadi berarti untuk mu? ingatlah siapa diri mu! prioritas kita adalah Elena, dan hanya dia."


"Teodora, kau sangat buruk. Bagi Elena mereka lebih penting dari nyawanya, dan apa saja yang penting bagi Elena maka berarti sama untuk ku. Jaga ucapan mu atau aku akan membuat keponakan ku itu selamanya tidak akan tahu identitas asli dirinya sendiri."


"Elios …." Teodora mengeluarkan pedangnya karena tersulut emosi.


"Apa semua ini?" tanya Leon. Kehadiran dia dan Liana membuat keduanya terkejut bukan main.


"Kalian sejak kapan?" tanya Elios. Suaranya terdengar gemetar.


"Sejak tadi. Sebenarnya kau siapa Elios? dan apa identitas asli Elena?" tanya Liana.


Teodora maju kehadapan Liana, "Jangan ikut campur, manusia. Sebaiknya kalian lu …."


"Berisik!" Elios membuat Teodora pingsan dengan kekuatannya.


"Tolong tutup dan kunci pintunya Leon," pinta Elios pada Leon, Leon menganguk kemudian melakukan apa yang diminta padanya.


Setelah itu mereka bertiga duduk dilantai. Elios menghelas nafas menatap wajah penuh kesedihan dari Liana dan Leon.


"Terjadi insiden buruk 30 tahun lalu yang membuat Elena dan Jolycia tertukar. Jolycia adalah putri asli keluarga Abraham, sementara Elena adalah putri sahabat ku bernama Rani. Dia manusia luar biasa sekaligus ratu para monster," ungkap Elios.


"Jadi kau …." Leon dengan tatapan penuh kecurigaannya itu membuat Elios tertawa.


"Ya, aku Paman Elena. Dewa petir yang terbuang, Elios. Aku mengetahui kebenaran ini saat kita bertemu pertama kali, apa kalian ingat?" tanya Leon, kedua mengangguk pelan. "Saat itu aku bertekad akan selalu berada disamping Elena untuk melindunginya."


"Melindungi dari siapa?" tanya Liana.


"Raja para dewa yang telah melenyapkan kedua orang tua Elena, itu pun karena obsesinya pada Rani. Sampai sekarang obsesi itu masih ada bahkan semakin memburuk, dia sampai ingin menikahi Jolycia karena dia berpikir Jolycia adalah putri dari Rani. Aku hanya bisa cerita intinya saja, bisakah kalian rahasiakan? aku tidak mau Elena terluka nanti, kebenaran ini terlalu besar baginya," ucap Elios.


"Tentu. Kita bersama akan melindungi rahasia ini sampai waktu yang tepat tiba," jawab Liana.


"Ma-mau bagaimana lagi, karena ini permintaan orang tua apalagi untuk Kak Elena maka aku akan setuju," tambah Leon.


Bugh!


Elios memukul keras kepala Leon, "Siapa yang kau bilang orang tua? aku ini tetap Elios adik mu."


"Be-benarkah? tidak akan pernah berubah kan?" tanya Leon penuh rasa harap.


"Itu sudah pasti. Lagi pula jika jadi adik mu akan terbukti aku ini awet muda," jawab Elios sengaja ingin pamer.


"Dasar kakek tua," ejek Leon membuat Elios kesal, alhasil terjadilah kejar-kejaran antara keduanya sampai keluar kamar.


Liana sendiri memutuskan kembali ke penginapan setelah ditinggal pergi oleh Elios dan Leon, dalam melangkah Liana sampai tidak bisa fokus.


"Woah! Liana," teriak Elena memanggilnya, Liana pun menoleh ke tempat suara itu berasal. Tidak jauh ia melihat Elena ada digedung asrama kesatria, tepatnya dilantai 2 ada ia melambaikan tangan pada Liana.


"Apa yang terjadi pada wanita itu jika dia tahu segalanya," batin Liana membalas lambaian tangan Elena.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘