
Setelah Sonia pergi dengan perasaan kesal, Jovanka bergantian masuk ke kamar Ernest.
"Aku sudah bilang jangan ma …." Ernest terkejut saat ia melihat Jovanka.
"Ibu." Ernest langsung berlari memeluk Jovanka, "Aku tidak kuat lagi bu. Aku mau Elena, dia harus menjadi milik ku. Apa ibu tau sikapnya pada ku sangat kasar tadi, itu membuat ku sangat kesal."
"Sedikit lagi. Ibu yakin jika sikapnya itu sengaja ia perlihatkan untuk menutupi perasaannya pada mu, mungkin di tempat umum dia kasar dan saat pulang dia akan menangis lalu menyesali segalanya," ucap Jovanka menenangkan putranya.
"Sial! rencana ku gagal. Elena sebenarnya apa yang kau pikirkan?" batin Jovanka, ia sendiri tidak habis pikir tentang sikap Elena.
*****
Kediaman Abraham dipenuhi oleh gelak tawa penghuninya, tawa itu bukan tanpa sebab. Mimi menceritakan semua kejadian di pasar pada penghuni rumah, yang membuat tawa banyak orang pecah.
Elena hanya melihat bagaimana keluarganya tertawa bahagia, ia sangat ingin melindungi tawa itu sampai nanti tanpa harus ada kekhawatiran diantara mereka.
"Akh!" Elena meringis kesakitan memegang dadanya, ia merasa seperti tertusuk oleh pedang yang tajam. Bahkan hawa panas keluar dari dalam tubuhnya.
"Sial!" Elena dengan langkah sempoyongan kembali ke kamar dan mengunci diri dalam sana.
"Huft huft huft sakit." Elena duduk sambil memegang dadanya, dan nafasnya mulai tidak normal. Ia mulai merasa ada yang tidak benar pada tubuhnya.
Sementara itu di sisi lain kastil penguasa monster di dunia bawah tanah mengalami guncangan hebat, ini adalah pertanda jika salah satu dari 9 rantai yang mengikat kekuatan gelap dalam tubuh Elena akan lepas.
Casey dan Damian tergegas-gegas menuju altar kebangkitan, di sana mereka melihat bagaimana tubuh Elena menyesuaikan dengan kekuatan gelap dalam tubuhnya.
"Ada apa ini?" tanya Yoluta yang baru saja masuk.
"Lihat!" Casey menunjuk kristal merah yang menampakan kondisi Elena. Walau pun gambar Elena tidak jelas karena kualitas kristal ribuan tahun lalu memang jelek. Namun, mereka bisa tau apa yang Elena rasakan.
"Ya ampun." Yoluta terkejut sampai menutup mulutnya saat melihat Elena yang mengerang kesakitan, "Bagaimana ini? kita harus di sana untuk membantu master."
"Kita bisa saja ke sana. Tapi, kediaman itu dilindungi oleh dewa angin yang brengesek itu. Masuk ke sana tidak akan mudah," jawab Damian.
"Bukankah dunia atas terlalu banyak ikut campur dengan urusan kita? mereka pasti akan menggunakan segala macam cara agar master tidak dikuasai kekuatan gelap. Lagi pula dari semua manusia di dunia, kenapa master harus berinkarnasi ke dalam tubuh keturunan dewa," geram Casey.
"Jika saja kekuatan gelap ini terbuka maka master kita bisa mengendalikan monster, bukan hanya itu saja master juga tidak akan melukai monster lagi lalu ia bisa menyingkirkan para spirit elemental. Master kita tidak butuh mereka sebagai familiarnya," lanjut Yoluta.
"Kita tidak bisa melakukan apa pun. Aku bisa bebas berkat darah master, dan untuk menemui master lagi aku tidak bisa. Master pernah memanggil Yoluta itu pun saat dia tidak sadar, saat ini kita tidak bisa bertindak gegabah. Seandainya master bisa meninggalkan kota yang penuh dengan berkah dewa itu, kita bisa mendapatkan kesempatan mendekati master. Entah apa yang para dewa itu rencanakan setelah melihat kondisi master saat ini," ucap Damian, ia juga merasa khawatir.
Sementara itu Elena masih merasa kesakitan. Dari jantungnya muncul urat berwarna hitam yang merayap ke seluruh tubuh Elena, hawa panas keluar dari kamar Elena sampai di rasakan oleh seluruh penghuni Kediaman Abraham.
Crak!
Rantai yang mengikat kekuatan gelap dalam tubuh Elena perlahan mulai bergerak, rasa sakit yang Elena rasakan juga semakin sakit. Ia terbaring bahkan sampai meremas bajunya sekuat tenaga.
Bugh
"Elena!" Carlos berteriak memanggil Elena dari luar kamarnya bahkan sampai menendang pintu kamar yang tidak mau terbuka.
"Uhuk uhuk uhuk. Panas." Liliana mulai batuk-batuk bahkan sampai sesak berada di dekat kamar Elena, ia merasakan panas yang tiada tara.
"Bawa ibu pergi dari sini," perintah Austin pada Qinthia, Qinthia mengangguk lalu ia menuntun Liliana keluar kediaman.
"Panas sekali. Tangan ku memerah padahal hanya menyentuh gagang pintu saja, apa ada api yang menyala di dalam sana?" tanya Aaron pada ayah dan kakaknya.
"Jika itu api maka seharusnya sudah menyebar. Ini aneh, ada yang tidak benar di dalam," jawab Austin.
Tiba-tiba hawa panas itu menghilang seiringan dengan itu Austin langsung mendobrak pintu kamar, saat mereka masuk tidak jauh di depan pintu Elena terbaring dalam keadaan kacau.
Liliana memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Elena. Tapi tidak ada masalah apa-apa dengan tubuh Elena, bahkan saat dia sadar anehnya dia tidak ingat apa yang terjadi.
Austin bersama yang lainnya tidak lagi khawatir untuk hal itu. Tapi mereka tetap akan menyelidiki hal itu, ada banyak kekhawatiran di hati mereka yang tidak mereka tunjukan di depan Elena.
Mereka mengirim Elena untuk tinggal di Kota Telaga, di sana wilayah kekuasan Keluarga Abraham yang di penuhi pegunungan tempat nenek Elena tinggal. Elena tidak suka pergi ke kota itu karena ia ingin berpetualang, maka dari itu di tengah perjalanan Elena meminta kusir berhenti sebentar.
"Tolong ambilkan aku air di sungai, kalau bisa beberapa buah juga. Aku ingin makan dan minum sesuatu yang menyegarkan," pinta Elena pada Mimi.
Mimi mengangguk lalu keluar dari kereta sambil membawa guci perak. Saat Mimi sudah jauh dari kereta, Elena membuka gaunnya lalu memakai celana dan kemeja.
Tidak lupa ia mengemas barang-barang yang ia perlukan ke dalam tas, saat Mimi kembali Elena bersiap dengan obat bius. Begitu Mimi masuk kereta Elena langsung membiusnya sampai ia pingsan.
Elena membuka pakaian Mimi lalu memakainya, barulah ia memakaikan pakainnya pada Mimi. Setelah itu Elena turun dari kereta.
"Kusir. Jalankan saja keretanya, aku di minta oleh nona pergi ke suatu tempat. Kita akan bertemu di gerbang kota. Jangan lupa jaga nona baik-baik, bawa keretanya dengan pelan karena nona sedang tidur. Itu saja, pergilah!" perintah Elena pada sang kusir.
Kusir itu pun memacu kereta kuda menuju Kota Telaga, setelah kereta itu menghilang dari pandangannya Elena langsung membuka pakaian Mimi dan pergi ke arah yang lain.
"Aku tahu ini salah. Tapi aku yang akan memutuskan ke mana aku akan pergi, maafkan aku yah nenek," batin Elena.
Elena merasa bersalah. Namun ia sangat penasaran seperti apa nanti reaksi Mimi atau nenek saat tahu yang sebenarnya, mereka mungkin akan marah lalu mencari dirinya.
Sayangnya mereka telah masuk ke dalam permainan Elena, dia tidak akan di temukan sampai dia ingin bertemu dengan mereka. Perjalanan Elena kali ini bertujuan memperkuatkan kekuatannya sambil mengumpulkan pendukung untuknya, dia juga akan mencari orang-orang kesetiaan Ernest di masa depan mereka ada di Kekaisaran Barat dan Ia akan merebut orang-orang itu.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah penting😘