The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 108 Yang mana gadis bernama Elena?



Beberapa hari kemudian pertandingan para bintang di mulai, sorakan banyak penonton memenuhi arena pertarungan saat itu. Para bintang agung menunjukan kehebatan mereka masing-masing. Namun para bintang pertapa sendiri tidak bisa dianggap remeh, pertandingan 1 lawan 1 sesuai posisi masing-masing bintang, sejauh ini dipimpin oleh bintang agung dengan 3 kemenangan.


Sampai tiba saatnya Elena melawan Ahza, pertandingan keduanya adalah yang paling ditunggu-tunggu semua orang. Banyak orang penasaran dengan kekuatan Elena, dan juga bagaimana cara Ahza mengalahkan seorang perempuan.


"Pertandingan di …."


"Tunggu sebentar!" Suara keras dari atas membuat perhatian semua orang tertuju ke langit. Di atas langit terlihat sebuah kapal terbang mewah turun sampai jaraknya tersisa beberapa meter diatas kepala semua orang, para tetua mengenal kapal itu adalah kapal milik raja para dewa, Dewa Kebijaksanaan Alfred.


"Bersiap menyambut Raja Dewa Alfred," teriak tetua pertapa selaku tetua paling tua disana.


"Kenapa dia bisa di sini?" batin Elios.


*****


Beberapa hari lalu


Grace pergi untuk mendapatkan apa yang Alfred inginkan, dan untuk mendapatkannya maka ia hanya perlu menemui seseorang.


"Kau di sini rupanya. Apa sengaja menunggu ku di sini, Rafael?" tanya Grace para pria yang berdiri dengan tatapan dingin.


"Kau sendiri yang datang menemuiku, jika kau masih ingin informasi dari ku maka jangan bertingkah," jawab Rafel dengan tegas.


"Tapi, apa ini akan baik-baik saja? kau sendiri tau ayah mu itu kan …."


Prang!


Rafael membanting vas bunga agar Grace bungkam, tidak peduli seperti apa sikap Euros padanya ia tetap tidak ingin mendengar hal buruk tentang sang ayah.


"Jahatnya." Grace tersenyum karena sikap Rafael tidak lagi manis seperti dulu saat bersamanya. "Jadi, bisakah kau beri informasi itu pada ku sekarang? aku sedang buru-buru."


"Tadinya akan langsung aku beri. Tapi sekarang tidak lagi, kau harus menukar informasi ini atau aku akan rugi."


"Rafael, jangan coba bermain dengan ku. Berikan informasinya atau akhir dari semuanya akan buruk bagi mu."


"Pikirkan dulu akhir mu di tangan raja dewa, barulah nanti kau berpikir tentang aku."


"Ck." Grace berdecak kesal sebab semuanya malah menjadi semakin rumit. "Katakan! apa mau mu?"


"Bukan sesuatu yang spesial, karena itu tidak lebih penting dari apa yang kau mau dariku. Aku hanya ingin memiliki bulan keemasan," jawab Rafael. Mendengarnya Grace menjadi sangat kesal.


Sebab, bulan keemasan adalah hartanya yang sangat berharga. Bulan keemasan adalah kristal berbentuk bulan setengah hancur, yang di kelilingi oleh para peri. Dalam bulan itu terdapat kekuatan para peri untuk menambah kekuatan Grace, hingga ia bisa menjadi sangat kuat sampai saat ini. Jika dia sampai kehilangan bulan itu maka bukan hanya rugi, ia juga akan mendapatkan kebencian dari para peri karena tidak menjaga hadiah dari mereka.


Apalagi bulan itu adalah jantung bagi para peri, untuk tetap terhubung dengan dunia atas melalui Grace.


"Kau sengaja mempersulit aku kan?" Grace menatap tajam Rafael.


"Kenapa? kalau kau keberatan maka lupakan saja. Aku minta hal lain, seperti jubah kebesaran mu, atau mahkota putri malu," jawab Rafael terlihat sangat santai.


"Beraninya kau menginginkan harta ku, aku tidak akan segan-segan menghabisi mu."


"Kau jangan egois. Ayah menganggap aku sebagai pengkhianat jika memberikan informasi ini, dia mungkin saja tidak akan mengakui ku sebagai putra lagi. Lalu dengan semua risiko itu kau ingin aku berikan informasinya secara gratis, apa kau bodoh? aku tidak memaksa, kalau tidak mau maka lupakan saja semuanya dan pergilah."


"Tentu saja," jawab Rafael membuat Grace lega, "Tapi ada tapinya, aku tidak menginginkan barang lain selain 3 barang tadi atau yang setara dengan itu."


"Anai ini benar-benar kurang ajar," batin Grace.


"Baiklah. Aku akan memberi mu mahkota putri malu sebagai ganti dari informasi tentang Elena, bagaimana? apa sudah puas sekarang?" tanya Grace lagi.


"Belum," jawab Rafael seraya mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya, "Sebelum ada janji darah maka aku tidak akan pernah puas."


"Menyebalkan." Grace melangkah ke dekat Rafael dan merebut cincin itu darinya, lalu Grace menusuk salah satu jarinya hingga berdarah.


"Sekarang katakan janji ini. Jika nanti kau sampai berniat buruk padaku menyangkut mahkota putri malu, maka tubuh mu akan meledak. Ulangi!" perintah Rafael.


Grace mengucapkan janji yang sama lalu meneteskan darahnya pada cincin itu, cincin itu mengeluarkan cahaya merah dan berubah menjadi rantai yang memasuki tubuh Grace dan Rafael.


Rafael pun memberikan Grace semua informasi tentang Elena, Grace menulis informasi itu dengan cepat. Tidak lama kemudian setelah menulis Grace pun pergi, ia berjanji akan mengantar mahkota putri malu pada Rafael besok.


"Kekuatan terbesar di samping raja dewa sudah aku tangani," ucap Rafael. Tidak lama keluar Hans dan Euros dari balik tembok.


"Bagus putra ku." Euros menepuk kepala Rafael, "Kali ini akan kita perlihatkan pada beliau, jika kita bukanlah anjingnya."


Grace memberikan informasi itu pada Alfred, tentu saja Alfred merasa sangat puas. Ia tidak sabar lagi untuk pergi menemui Elena.


"Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" tanya Alfred pada Grace.


"Dari seseorang yang mengetahui banyak hal tentang Elena, siapa lagi jika bukan putra dari Euros," jawab Grace.


"Secara gratis dia memberikan informasi itu pada mu?"


"Tentu saja tidak." Grace kesal bila mengingat ia harus menyerahkan mahkota putri malu pada Rafael, "Dia meminta sesuatu sebagai imbalan. Tapi itu tidak masalah bagi saya, karena apa yang penting bagi anda harus saya utamakan."


"Hahahahah.  Kau adalah  salah satu pengikutku yang paling setia, aku akan membuat mu menjadi pilar dunia atas. Para dewa elemen itu sudah tidak pantas mendapatkan gelar mereka, aku akan mencari cara menyingkirkan mereka. Setelah itu kalian para pilar dunia atas yang baru carilah cara untuk membuat pewaris mereka patuh pada kita, setidaknya para pewaris mereka masih berguna."


"Anda sangat murah hati. Para pilar dunia atas itu sudah mengkhianati anda, seharusnya anda membasmi para pengkhianat itu sampai ke akarnya."


"Untuk sekarang biarkan mereka hidup, setelah mereka tidak berguna lagi maka untuk apa kita pertahankan. Aku sendiri yang akan memenggal pewaris para dewa elemen, lalu mencari dewa elemen yang baru." Kepala Alfred dipenuhi rencana yang licik.


Setelah beberapa hari akhirnya Alfred memutuskan untuk berangkat bersama para pengikut setianya untuk menangkap Elena, ia akan melihat bagaimana jiwa Alden yang mengembara bisa melawannya.


"Pemandangan yang indah. Sungguh menyejukan mata," ucap Alfred saat kapal terbangnya telah berada tidak jauh di atas kepala semua orang.


"Sekarang, yang mana gadis bernama Elena? aku akan bermain dengannya sebentar sebelum menangkapnya." Alfred mengedarkan pandangannya ke bawah.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘