The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 102 Memanfaatkan kasih sayang Elena.



"Louis …." panggil Vanessa. Semua orang mendekati Louis setelah mendengar kebenaran dari Auretta.


"Anak bodoh! kau hampir membuat kesalahan yang besar." Vanessa memukul kepala Louis dengan keras.


Qinthia menginjak kaki Louis seraya berkata, "Aku akan membunuh mu jika kau berani berulah lagi."


"Calon adik ipar." Aaron merangkul pundak Louis, "Kalau kata membatalkan pertunangan itu keluar lagi dari mulut mu, maka jangan harap bisa menikahi Elena walau pun Elena memaafkan mu."


Liliana menjewer telinga Louis, "Sebagai pangeran aku tidak bisa menghukum mu. Tapi sebagai calon mertua bisa, kau berani sekali menyakiti Elena kami."


Setelah puas memarahi Louis mereka keluar satu persatu dari ruang istirahat, Liana juga menarik Luca untuk ikut dengannya entah apa yang akan terjadi pada Luca nanti. Kini tinggal Louis dan Elena dalam ruang istirahat tersebut.


"Apa sakit?" tanya Elena menyentuh pipi Louis yang tadi ia tampar.


Louis mendongkak menatap Elena lalu menggigit bibirnya untuk menahan rasa kesal akan kebodohannya, ia tidak punya keberanian menatap Elena.


"Maafkan aku. Ini salah ku, seharusnya aku tidak marah pada mu. Aku konyol sekali karena marah pada pria yang mencintaiku sampai ke dalam darah dan dagingnya, padahal jika aku ada di posisi mu maka aku pasti akan melakukan hal yang sama. Saat ada peluang bagi kita mengubah segalanya maka kita menggunakan peluang itu, dan aku malah bersikap egois karena marah pada mu. Sekali lagi maafkan aku," tutur Elena.


Louis menggelengkan kepala seraya menjawab, "Aku tidak pantas mendapatkan ucapan maaf dari mu, aku juga melakukan kesalahan terburuk hari ini. Maafkan aku juga, aku sangat menyesal."


Elena tersenyum lalu masuk ke dalam pelukan Louis, "Sepertinya aku mulai mencintai mu sedikit."


"Eh! itu mengejutkan. Aku sangat bahagia, wajah ku sampai terasa panas, bagaimana ini? seperti aku akan meledak."


"Louis, kau demam? suhu tubuhnya naik. Dasar bodoh! mana ada orang demam hanya karena itu." Elena tertawa melihat wajah Louis memerah sampai suhu tubuhnya terasa panas.


"Jangan menatap ku. Aku malu." Louis menutupi wajahnya membuat Elena semakin ingin menggoda pria itu.


*****


"7 kemenangan untuk Kemal," teriak wasit seketika sorakan dari para kesatria penggemar Kemal memenuhi lapangan latihan.


"Tch!" Leon berdecak kesal melihat Kemal yang melambaikan tangan kepada kesatria yang bersorak untuknya.


"Pria sialan! dia sok hebat, padahal kemampuannya hanya begitu. Jika saja aku jadi …."


Plak!


"Jangan asal membaca pikiran orang lain!" teriak Leon setelah memukul kepala Elios.


"Siapa bilang aku membaca pikiran mu? semua itu tersirat dari wajah mu," jawab Elios.


"Yo, Kalian berdua. Menurut kalian bagaimana pertandingan tadi?" tanya Kemal sengaja ingin pamer pada Leon dan Elios.


"Tidak buruk untuk dilihat," jawab Leon dengan nada mengejek.


"Benarkah begitu, Elios?" Kemal beralih pada Elios.


Elios menatap Leon yang melotot padanya dan menjawab, "Kau cukup hebat. Tapi, tetap tidak bisa dibandingkan dengan kami berdua karena semua lawan mu tadi terlalu lemah."


"Ya ampun, kesatria tadi adalah anak-anak bangsawan yang mendapatkan pelajaran khusus dari kesatria terkenal. Kalian berdua hanya 2 rakyat jelata yang beruntung masuk ke akademik kesatria, jadi jangan menghina kami," ancam Adelio. Dia adalah salah satu kesatria genius dari Akademik kesatria garuda emas, satu akademik dengan Kemal.


"Kalian benar," Timpal Jonas menghampiri mereka, "Mereka berdua ini tidak pantas disebut genius karena hanya rakyat biasa."


"Kalian jangan seperti itu. Walau pun mereka sudah menghina kita para bangsawan, kita tetap harus berbesar hati memaafkan mereka. Mau bagaimana lagi? mereka itu tidak mendapatkan pelajaran tata krama," tambah Kemal.


"Jonas, kita sama-sama berasal dari Akademik Seribu Bunga. Apa pantas bergabung dengan kesatria akademik lain untuk menghina rekan sendiri?" tanya Elios.


"Aku memang tidak mau bergabung dengan akademik lain untuk menjatuhkan rekan sendiri. Akan tetapi aku juga tidak sudi mengakui rakyat biasa sebagai rekan, itu hanya akan mengotori gelar bangsawan ku," ejek Jonas.


"Hei kalian!" Affandra sahabat Jonas juga bergabung untuk membully Leon dan Elios, "Jangan menganggu mereka. Ku dengar kakak mereka adalah murid bagian dalam menara bernama Liana Manley, apa kalian tidak familiar dengan nama itu?"


"Benarkan? hal seperti itu sudah biasa. Apa namanya untuk wanita seperti itu?" tanya Jonas.


"Wanita penggoda," jawab Kemal, Affandra, dan Adelio serempak.


"Apa kalian pikir setelah menghina kakak kami, kalian bisa lolos?" Elios menatap tajam mereka berempat.


"Kau bisa apa? melawan ku? ingatlah posisi mu rakyat jelata, kau hanya tikus kecil di hadapan seekor gajah. Jangan bertingkah atau gajah itu akan menginjak tubuh mu sampai remuk," ancam Kemal. 


Bugh!


Leon tiba-tiba menghantam tubuhnya sendiri ke tembok, melihat mereka semua menjadi bingung.


"Hei!" Adelio menarik tangan Leon dengan kasar, "Apa kau sudah gila karena malu?"


Leon tersenyum menatap Adelio, melihat itu Adelio merasa ketakutan dan menghempaskan Leon ke tanah.


"Hei! Bintang agung posisi dua ada di sini," teriak salah satu kesatria. Mendengar itu Kemal bersama yang lain merapikan diri mereka, mereka ingin meninggalkan kesan baik di mata Elena.


Saat Elena masuk ke dalam lapangan latihan, semua pria yang ada di sana terpesona dengan kecantikannya, keanggunan, serta raut wajahnya yang terlihat tegas.


Namun semua itu hanya sementara, saat matanya menemukan Elios dan Leon ia langsung berlari menghampiri mereka.


"Sayang." Elena menerjang keduanya dengan pelukan hangat, Elios dan Leon hampir saja jatuh karena berat tubuh Elena.


Elena melepaskan pelukannya dan memukul pelan kepala mereka berdua, "Apa ini? kalian sudah dewasa? hampir saja aku tidak mengenali kalian."


"Bohong. Jelas-jelas kakak langsung mengenali kami dalam sekali tatap," jawab Elios dengan wajah cemberut.


"Jika Liana tidak mengatakan kalian ada maka aku tidak akan pernah tau. Lama tidak bertemu aku sangat merindukan kalian." Elena mengacak-acak rambut keduanya.


"Mau bertanding sebentar?" tanya Elena membuat mata Elios berbinar, tidak dengan Leon yang tertunduk lesu.


"Ada apa?" tanya Elena mengangkat wajah Leon.


"Seluruh tubuh ku sakit," jawab Leon mulai meneteskan air mata


"Mereka memukul ku dibanyak tempat, rasanya sakit sekali," lanjutnya menunjuk Kemal bersama yang lain.


"Hah?" raut wajah Elena seketika langsung berubah saat menatap mereka berempat, "Berani sekali kalian menyentuh adik-adik ku yang polos. Ku beri kalian pelajaran terburuk atau nama ku bukan Elena."


"Memanggil Hrits." Elena memanggil Valkyrie kedua.


"Hrits di sini, apa keinginan anda, nona?" tanya Hrits berpose genit.


"Tunggu dulu!" protes Kemal, "Kami tidak menyentuhnya sama sekali, sungguh."


"Dia benar. Aku hanya mendorongnya pelan tadi karena dia bertindak tidak waras," lanjut Adelio.


"Bohong. Kalian menyakiti ku bahkan mereka menyebut Kak Liana wanita penggoda, hanya karena kami rakyat biasa. Menakutkan sekali," rengek Leon melebih-lebihkan aktingnya.


"Kakak." Leon memeluk lengan Elena, "Aku takut sekali."


Hirts dan Elena tidak bisa menahan amarah mereka, Leon memanfaatkan kasih sayang Elena untuk membuat para kesatria itu tau akibat dari menghina keluarga mereka.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘