
Dalam perjalanan pulang Elena berpikir jika nanti ucapannya dianggap serius oleh Louis, apa mungkin Louis akan menyerahkan gelarnya sebagai putra mahkota? tapi, Elena yakin itu tidak akan mungkin karena semua orang selalu berjuang untuk mendapatkan posisi tertinggi.
Sesampainya di kediaman Abraham Elena disambut oleh para pelayan bersama kedua orang tuanya, ada beberapa pelayan yang menangis karena mereka sangat merindukan sosok Elena.
Liliana membuat pesta teh untuk merayakan kembalinya Elena, mereka semua duduk bersama di gazebo.
"Sebenarnya ibu sudah mengatur sebuah pertunangan untuk mu," ungkap Liliana pada Elena membuat semua yang ada di gazebo terkejut.
"Pertunangan untuk Elena? tapi kenapa?" tanya Austin.
"Aku tidak benar-benar melakukan. Sebenarnya ada rumor yang beredar jika kelak Elena tidak bisa menikah dengan siapa pun, banyak tuan muda takut untuk mengajukan pertunangan karena Elena adalah bekas kekasih Ernest. Anak nakal itu mengancam mereka dengan posisinya," jawab Lilana.
Prang!
Carlos meremas cangkir sampai pecah, dia terlihat sangat kesal.
"Kakak, tanganmu berdarah," ucap Elena meraih tangan Carlos.
"Penyembuhan ringan." Carlos menyembuhkan luka di tangannya hanya dalam sekejab, ia adalah petarung dengan keahlian ganda.
"Lalu sekarang bagaimana? apa adik kita tidak bisa menikah hanya karena beberapa kata dari pria nakal itu? jika semua pria di kekaisaran ini takut pada Ernest maka, kirim saja Elena ke luar negeri. Dia bisa menikah dengan pria mana pun yang dia mau di sana, adik ku tidak harus menikahi pria lemah yang takut dengan ancaman," ucap Carlos.
"Kenapa harus keluar negeri? kita bisa membuat Elena menikah dengan salah satu pangeran kan?" timpal Qinthia.
"Jangan konyol, itu urusan ku kalian tidak usah khawatir. Menikah atau tidak itu keputusan ku," jawab Elena.
"Aku mau istirahat." Elena berdiri dari tempat duduknya dan pergi.
Suasana gazebo menjadi hening setelah Elena pergi, perlahan mereka pergi satu persatu dari sana sampai tempat itu kembali kosong.
*****
Louis mendapatkan sambutan hangat dari pemaisyuri serta kaisar dan pangeran kedua, mereka sangat senang bisa bertemu Louis setelah sekian lama.
Untuk merayakan kembalinya Louis mereka membuat jamuan khusus hanya untuk keluarga kerajaan, di mana tata krama dan etika tidak perlu mereka gunakan.
"Sekarang usia mu sudah dewasa, ayahanda dan juga ibunda mu sudah terlalu tua. Karena usia mu sudah 21 maka ayahanda berencana akan memberikan posisi pewaris tahta tunggal pada mu, tidak lama lagi usia mu akan mencapai usia itu. Ayah naik tahta diusia 25 tahun, lalu kakek mu pergi ke desa untuk menikmati hari tua bersama nenek mu. Upacara penobatan akan terjadi 4 tahun lagi jadi siapkan diri mu, mulai dari sekarang kau harus mengikuti rapat-rapat penting bersama ayahanda sembari belajar," ungkap Cedric membuat Louis tersendak.
"Kakak, apa kau baik-baik saja? tidak baik tersendak disaat kita membicarakan hal yang baik," ucap Luca menepuk pelan pundak Louis.
"Apanya yang baik? hari ini aku ingin mengatakan jika aku ingin menyerahkan posisi putra mahkota pada mu," jawab Louis membuat semuanya terkejut.
"Mungkin ini bodoh bagi mu ibunda. Tapi aku tidak mau posisi ini, aku ingin hidup sebagai bangsawan. Setelah aku berpikir di akademik selama ini, akhirnya aku sadar jika posisi sebagai putra mahkota tidak aku inginkan," jelas Louis.
"Kelak aku hanyalah pangeran tertua bukan putra mahkota. Tolong hormati keputusan ku." Louis menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada, kemudian ia beranjak dari ruang makan.
"Aku akan mengejarnya." Vanessa pergi menyusul Louis.
"Louis tunggu! tunggu ibunda!" panggil Vanessa berlari mendekati Louis.
"Berhenti!" Vanessa mencekal tangan Louis agar ia berhenti melangkah.
"Apalagi ibunda?" tanya Louis.
"Ibunda tidak tau apa alasan mu mengatakan hal itu. Tapi ibu mohon tarik kembali ucapan mu itu, semua yang kau katakan itu tidaklah benar. Permaisyuri pertama yakni ibumu selalu berharap kau menjadi kaisar di masa depan, jika bukan untuk ibunda maka terima posisi itu demi ibu kandung mu."
"Ibunda, kau juga berharap Luca menjadi orang hebat di masa depan kan? bahkan saat Luca belum lahir, kau selalu berdoa dia akan menjadi pemimpin yang adil. Lalu kenapa kau menolak posisi itu diberikan pada Luca? aku ingin ibunda bahagia dengan terwujudnya harapan itu."
"Itu hanya sebuah harapan, jika terwujud maka ibunda akan sangat senang. Tapi jika tidak, ibunda juga tidak akan kecewa. Ibunda hanya gadis desa biasa, yang mendapatkan keberuntungan sampai bisa dicintai oleh ayahanda mu. Ibunda juga adalah orang yang merebut banyak cinta dari ibu mu. Apa kau tidak membenci ibunda? masyarakat kita mengutuk ibunda. Apa kau juga ingin Luca merebut posisi mu dan dikutuk seperti itu?"
"Permaisyuri Vanessa Ashraf, aku membenci mu bahkan sangat membenci mu. Kau mendapatkan cinta yang seharusnya menjadi milik ibu ku. Tapi disisi lain aku tahu cinta itu tidak pantas di dapatkan oleh wanita kejam seperti ibu ku, dia selamanya tidak pantas dicintai bahkan aku tidak pernah mendapatkan sosok ibu dari ibu ku sendiri. Sekarang aku tanya padamu, apa kau tidak membenci ibu ku? dia adalah orang yang merebut masa kecil Luca."
"Aku bohong jika aku berkata tidak. Aku juga sangat membencinya, bahkan sampai saat ini rasa itu tetap sama. Tapi kau dan ibu mu berbeda, aku tidak harus melampiaskan kebencian ku pada mu.Ā Mari lupakan tentang itu, kita kembali ke ruang makan sekarang. Ayo!" Vanessa menarik tangan Louis. Namun, Louis tidak mau beranjak.
"Apa kau mau kebencian ku pada mu hilang?" tanya Louis membuat Vanessa terkejut spontan ia berbalik dan mengangguk.
"Maka berikan beban besar yang ada di mahkota itu pada Luca, dengan begitu aku akan memaafkan mu. Dan untuk kebencian mu pada ibu ku, tidak ada hubungannya dengan ku. Aku tidak perlu minta maaf kan?" tanya Louis lagi.
Vanessa langsung memeluk Louis dan menangis sekencang-kencangnya, ia tidak menyangka Louis menggunakan kelemahan terbesarnya untuk menyerahkan posisi putra mahkota, kini Vanessa akan memikirkan kembali tentang keputusan Louis.
Louis membalas pelukan Vanessa lalu ia berbisik tepat di telinga Vanesaa, "Aku tidak pernah membenci mu, justru aku benci ibu kandung ku. Bersama dengan mu aku mendapatkan sosok ibu yang sebenarnya, aku sangat menyayangi mu. Sungguh."
Setelah itu Louis meminta pelayan menemani Vanessa kembali ke ruang makan, sedangkan dia sendiri pergi ke ruang kerjanya. Di sana ia membuka tirai yang menutupi lukisan potret Elena, lukisan berukuran besar itu adalah lukisan yang Louis buat sendiri.
"Kau tidak akan menerima ku sebagai putra mahkota, maka aku wujudkan. Jadi tolong pikirkan kembali untuk menerima ku sebagai Louis, aku akan menunggu. Entah kenapa aku merasa jika suatu saat nanti kau akan datang pada ku dengan berlari. Aku mencintai mu, Elena." batin Louis menyentuh lukisan tersebut.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selaly author, karena dukungan kalian sangatlah berartiš