
Euros terlihat jauh lebih ceria hari ini karena Elena telah berada di daratan menara, kini kekuatan gelap atau pun para penduduk dunia bawah tidak bisa menjangkaunya.
Euros berniat akan menjadikan Elena sebagai avatarnya secepat mungkin, jika Elena sudah menjadi avatarnya maka semua hal yang berhubungan dengan kekuatan gelap tidak akan pernah ada lagi.
"Ayahanda." Rafael mengetuk pintu kamar Euros.
"Masuklah," perintah Euros, Rafael pun masuk ke dalam kamar dan melihat ayahnya yang sedang berdandan rapi.
"Ada apa? kau tidak datang hanya untuk menatap ayah?" tanya Euros lagi.
"Asya mengirimkan ayah pesan jika dia tidak bisa menemukan Elena. Tapi dia meminta sedikit waktu dari perjanjian, dia akan menemukan Elena secepatnya."
"Dasar tidak berguna. Lupakan saja tentang dia, kirimkan pesan padanya katakan kalau ayah sudah menemukan Elena. Dia tidak perlu mencari siapa pun lagi."
"Baiklah. Lalu … dia juga datang."
"Siapa?"
*****
Wanita berpakaian ungu dengan rambut ikal panjang yang terurai duduk berpangku kaki di ruang tamu Euros. Dia adalah wanita yang hampir di benci oleh seluruh dewa, yakni Dewi Racun Vivian.
Brak!
Euros membanting pintu ruang tamu saat membukanya, ia berjalan tergesa-gesa saat mendengar siapa yang datang.
"Selamat pagi. Apa kabar Euros?" tanya Vivian seraya melambaikan tangannya pada Euros.
"Kenapa kau datang ke mari? kau bisa mengirim surat kalau mau datang, kediaman ku bukan penginapan hingga kau bisa keluar masuk seenaknya," jawab Euros.
"Eh! ada apa ini? kau seharusnya memeriksa tanggal, hari ini adalah hari pemberian dosis baru pada tahanan mu. Apa kau lupa?"
"Aku tidak lupa. Aku bisa meminta bawahan ku pergi memintanya dari mu, kau tidak perlu datang."
"Ayolah, kalian semua tidak seru. Membenci ku tanpa alasan. Jika terlalu banyak yang membenci ku maka aku akan berakhir seperti Elios."
"Tempat mu memang bukan di sini, hanya karena kau kuat bukan berarti ada yang suka saat Raja dewa mengakui mu sebagai dewa. Elios mungkin diusir dari sini. Tapi kau, kau akan dikirim pulang ke tempat asal mu."
"Aku takut sekali."
"Kau pikir aku akan percaya pada mu. Jangan berlama-lama di sini dan berikan saja racun itu."
"Buru-buru sekali. Kapan kau akan mengambil avatar? karena aku sudah menemukan avatar ku, kita bisa melakukan upacara penerimaan avatar kita bersama. Itu romantis bukan?"
"Jangan bersikap genit. Berikan racunnya."
"Baiklah." Vivian mengeluarkan botol kecil dari balik jubahnya lalu meletakan botol itu di atas meja.
"Pintu keluar kau sudah tahu kan. Pergilah!" perintah Euros, Vivian langsung berdiri dan pergi. Tidak lupa ia memberikan kecupan jauh untuk Euros.
"Panggil ahli ramuan kita. Periksa tempat apa saja yang tersentuh oleh wanita itu, jangan sampai dia pulang dan meninggalkan racunnya di sini," perintah Euros kepada bawahannya.
"Rafael. Ambil botol itu dan bawa padanya, dia harus minum itu untuk menekan kekuatannya agar tidak bangkit," perintah Euros.
Rafael mengangguk ia mengambil botol itu dengan sapu tangan, lalu membawanya pada wanita dalam penjara.
"Kau datang lagi." Wanita itu tersenyum melihat Rafael, "Apa kau sudah menemukan ayah itu?"
"Aku tidak perlu mengatakan itu pada mu. Kau minumlah obat ini." Rafael memberikan botol racun itu padanya.
Wanita itu langsung mengambil bahkan meminumnya dalam sekali teguk, sebenarnya Rafael sedikit merasa kagum karena setiap kali minum racun wanita itu tidak pernah kesakitan.
"Kau mau makan apa hari ini? akan aku buatkan," ucap Rafael. Setiap kali minum racun, wanita itu akan mendapatkan apa yang dia mau.
"Kali ini bisakah bukan makanan? aku ingin melihat keluar penjara. Sudah 20 tahun di sini aku penasaran dengan keadaan luar, dari dalam sini sering terdengar suara pelayan tertawa bersama membuat ku merasa sesak di sini." Wanita itu menunjuk dadanya.
"Kapan aku bisa melihat dunia luar? kenapa mereka masih mengurung ku di sini? dan sampai kapan? aku ingin seseorang datang membawa ku pergi," batin wanita itu menatap dinding penjara.
*****
"Lelah sekali." Elena menyeka keringat di wajahnya. Sejak pagi ia sibuk menggiling daun herbal sesuai perintah dari ahli ramuan.
Tamanan herbal di sini, hanya tanaman yang bisa membantu meditasi memperkuat tenaga dalam. Tanamannya harus dirawat dengan baik, dari panen sampai pembuatan dilakukan oleh para murid terbuang seperti mereka. Dan Elena sudah seminggu menjadi murid terbuang.
Kata teman sekamar Elena jika membeli ramuan itu dari pavilliun ahli ramuan akan terjadi pertengkaran hebat, mereka tidak tahu kenapa karena halaman belakang kurang mendapatkan informasi.
"Roti." Seorang pria gendut memberikan Elena sepotong roti, dia adalah Benton anak dari seorang Earl.
"Terima kasih kak. Roti buatan mu memang yang terbaik," puji Elena menerima roti itu.
"Semuanya terbaik jika di makan oleh mu. Kau ini anak yang tidak pilih-pilih makanan jadi semua enak bagi mu," timpal Brianna.
"Jika pilih-pilih makanan kak, nanti kita tidak punya tenaga. Pekerjaan kita sangat banyak," jawab Elena membuat mereka tertawa, bagaimana tidak ia bicara saat mulutnya penuh.
"Ga-gawat," teriak Haura, ia berlari mendekati tim penggiling.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Brianna.
"Airnya habis, lalu Pak pengawas tidak ada di asramanya. Bagaimana ini? matahari sangat terik jika tidak di siram maka tanaman herbal itu bisa kering, jatah makan kita akan berkurang," jelas Haura.
"Jatah makan berkurang tidak masalah. Masalahnya jika kita di hukum lagi bagaimana?" Benton ikut merasa cemas.
"Untuk apa gelisah? ini salah Pak pengawas karena tidak ada di tempatnya saat dia dibutuhkan. Seharusnya dia memeriksa tong air kan sebelum pergi," ucap Elena.
"Haura." Gudytha berlari mendekati Haura, "Tidak ada air yang tersimpan, semuanya habis. Tanaman herbal lain mulai layu. Bagaimana ini?"
"Ayo kita ke sana," ajak Elena, ia pergi lebih dulu dan yang lain menyusul dari belakang.
Tim perawat tanaman hari ini benar-benar cemas, mereka tidak berdiri dengan tenang karena masih ada 5 ladang yang harus di siram.
Melihat mereka yang seperti itu Elena menjadi tidak tega, ia memang ingin menyembunyikan kekuatannya sampai hari ujian tiba. Namun sayangnya ia tidak bisa menunggu sampai hari itu, karena sekarang mereka membutuhkan air.
"Memanggil Undine." Elena memanggil Undine, wanita cantik dengan gaun biru keluar dari lingkaran mantranya.
"Ya ampun nona. Di sini panas sekali kalau nanti anda hitam bagaimana?" Undine malah membuat payung air untuk Elena.
"Bukan itu tujuan aku memanggil mu. Kau siramlah semua tanaman herbal di 5 ladang itu, ingat siram secukupnya jangan kau buat jadi kolam," perintah Elena.
"Tentu saja. Serahkan semua pada ku." Undine terbang ke atas lalu menyirami 5 ladang itu seperti hujan.
"Jangan sampai lengah, siram yang benar. Perhatikan tanaman lain jangan hanya berpose di atas sana." Elena memerintah Undine seperti kakak memerintah adiknya.
"Dia level dasar. Tapi bisa memanggil spirit tingkat tinggi, mana mungkin."
"Kenapa ketua mengirim orang hebat seperti Elena, sebagai murid terbuang hanya karena levelnya masih di bawah."
"Aku baru kali ini melihat spirit dan majikan sama seperti sahabat. Padahal yang selama ini aku lihat, majikan hanya memerintah dan spirit menuruti. Tidak ada interaksi seperti mereka."
Bisik-bisik dari semua rekan Elena yang kagum melihat kerja sama Elena dan Undine. Ini pertama kali bagi mereka melihat hubungan kontraktor seorang pemanggil seperti ini.
"Nona kami juga akan membantu." Slyph dan Salamander menerobos keluar dari lingkaran mantra pemanggil padahal Elena tidak memanggil mereka.
"Cepatlah Undine," perintah Elena saat Undine dengan santainya menyirami tanaman sambil berpose cantik di atas. Elena juga kewalahan menahan yang lainnya agar tidak keluar.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘