
Casey kembali ke penginapan dengan perasaan kesal, selama memasak sampai makan amarahnya masih belum reda juga.
"Ada apa dengan mu?" tanya Yoluta, ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Casey meletakan sendoknya dan menjawab, "Manusia perempuan itu benar-benar licik, dia membuat ku membayar daging yang dia bawa pulang. Aku tidak bisa menahan amarah ku jika mengingat wajahnya itu."
"Lupakan saja. Hanya sepotong daging tidak perlu dipermasalahkan, kita tidak kekurangan uang kan."
"Bukan itu masalahnya. Perempuan itu menipu pemilik kedai, dia mengatakan aku menamparnya karena ingin merebut daging itu darinya. Itu penghinaan besar bagi ku."
"Aku bilang lupakan maka lupakanlah. Kau mau buat aku berkata berapa kali lagi?" tanya Yoluta yang geram, amarah itu langsung membuat Casey tenang dan makan dengan patuh.
"Dia begitu menghormati Damian. Tapi dia malah kasar pada ku, menyebalkan." batin Casey.
*****
Keesokan harinya seperti biasa Liana bersama Elena pergi berburu, mereka meninggalkan Leon karena dia ingin bermain bersama anak tetangga kamar mereka. Sebelum pergi Elena meminta Undine menjaga Leon sampai mereka kembali.
Perlahan hari mulai menjelang siang, anak-anak masih asyik bermain padahal sinar matahari semakin panas.
"Hei, lihat ini!" panggil anak pertama pada yang lainnya, ia menunjukan sebuah pondok tua yang ada di ujung gang.
"Rumah siapa itu? jelek sekali, aku tidak mau ke sana," tolak anak kedua.
"Ini hanya rumah tua biasa. Mungkin orang sekitar sini menjadikannya gudang, kata kakak ku rumah tua itu biasanya berhantu. Tapi, tidak mungkin berhantu kan kalau ada di tengah-tengah kota," ucap Leon karena dia teringat rumahnya yang dulu.
"Mau coba masuk?" tanya anak pertama.
"Baiklah. Anak perempuan tidak usah masuk, kami saja yang akan masuk," jawab Leon.
3 anak pria pun masuk ke dalam pondok tua itu, sedangkan anak perempuan yang tidak di ajak mereka kembali ke rumah mereka. 3 anak pria yang masuk mulai menjelajahi isi dari pondok, mereka menemukan banyak perhiasaan tersimpan dalam kotak.
"Tuan meminta kita membawa semua kotak ke penyimpanan harta ke bukit, bisa gawat kalau sampai kesatria keamanan kota menemukannya."
"Jangan menakuti ku, aku takut di tangkap."
Suara 2 orang pria dari luar membuat anak-anak panik, mereka langsung bersembunyi di berbagai tempat termasuk Leon.
Tidak lama kemudian 2 pria itu masuk, mereka mengangkat semua kotak berisi perhiasan itu satu persatu keluar. Sementara anak-anak berusaha tetap diam agar tidak ketahuan.
"Hachu." Salah satu anak bersin sampai membuat keberadaan mereka dalam gudang itu di ketahui oleh 2 pria itu
"Gawat," batin Leon ketakutan. Kedua pria itu mulai mencari mereka ke setiap sudut gubuk itu.
"Hei, lihat! kenapa bisa ada anak-anak di sini?" tanya salah satu pria saat menemukan Leon bersama kedua temannya bersembunyi dibalik kotak yang besar..
"Sial! kata bos identitas kita tidak bisa di ketahui. Entah sudah berapa lama mereka di sini, mereka mungkin sudah tahu apa isi kotak-kotak itu," jawab pria kedua menatap Leon bersama 2 temannya.
"Lalu bagaimana? apa kita bunuh saja mereka?"
"Mau bagaimana lagi, mereka hanya anak kecil. Sekali tebas saja cukup untuk membuat mereka bungkam seumur hidup, nyawa kita lebih berharga dari pada mereka," jawab pria pertama mengeluarkan pedangnya.
Kedua teman Leon memegang tangan Leon, mereka sendiri gemetar ketakutan begitu juga dengan Leon. Dalam hatinya terus memikirkan cara agar kedua temannya bisa keluar dengan selamat, tapi tidak ada jalan keluar untuk mereka saat ini.
"Yang benar saja. Kenapa aku tersesat lagi?" gumam Yoluta.
Leon mungkin cacat tenaga dalam sampai ia tidak bisa berlatih menjadi petarung seperti Liana. Namun semua indra pada Leon sangat tajam, seperti saat ini ia bisa mendengar Yoluta bergumam dari kejauhan.
"Siapa pun tolong kami," teriak Leon. Teriakannya mungkin kecil. Tapi itu akan sampai pada siapa yang ia tuju, dan suara itu sampai pada Yoluta.
"Hei! kalian sedang apa di sana?" tanya Yoluta pada pria kedua yang berjaga di depan pintu.
"Kami sedang apa itu bukan urusan mu nona, pergilah dari sini!" perintah pria kedua.
"Cepat selesaikan tugas mu!" perintahnya lagi pada pria pertama.
Jleb!
Tiba-tiba saja pria kedua itu tertusuk oleh kuku jari Yoluta yang memanjang sampai ke kepalanya. Melihat pria kedua tumbang dan pria pertama langsung menghampirinya, ia tidak tau saat itu juga kepala langsung di tusuk oleh Yoluta.
"Huwaaa." 2 anak lainnya menangis ketakutan, sementara Leon berusaha menenangkan mereka.
Melihat itu Yoluta tersenyum, tanpa di tanya ia sendiri sudah bisa menebak anak mana yang mengirimnya tranmisi suara.
Setelah itu kesatria keamanan langsung mengamankan mayat berserta hasil pencurian mereka, berkat itu juga bos mereka berhasil di tangkap setelah pencarian lebih dari 5 bulan.
Anak-anak kembali ke rumah mereka dengan perasaan tenang, orang tua mereka berterima kasih pada Yoluta.
"Bagaimana dengan ayah atau ibu mu?" tanya Yoluta pada Leon.
"Mereka sudah meninggal. Tapi sekarang aku tidak sedih lagi, karena aku punya 2 kakak. Mereka akan kembali sebentar lagi," jawab Leon sambil tersenyum.
"Leon …." Elena berlari menghampiri Leon sambil mendorong gerombak berisi 3 monster tikus beracun.
"Kakak akan kembali 5 menit lagi," lanjut Elena mendorong gerobak itu terus ke guild.
"Hahahahaha. Kak Irene selalu saja bertingkah aneh, dia adalah kakak ku juga. Hahahahaha, dia lucu kan?" tanya Leon.
"Ya, dia sangat lucu," jawab Yoluta berbohong, dia lebih kaget dari pada merasa lucu.
"Master ternyata kakak dari anak ini? kebetulan aneh macam apa ini?" batin Yoluta.
Tidak lama Elena kembali bersama Liana, Liana takut setengah mati mendengar kabar tentang Leon bersama teman-temannya. Sementara Elena pergi meceramahi Undine yang malah asik tidur di kamar, Liana tidak mempermasalahkan hal itu ia juga berterima kasih pada Yoluta.
"Master tepat ada di depan mata ku, bagaimana aku bisa membuat diri ku tetap bersama dengannya? apa yang harus aku lakukan? berpikirlah Yoluta, berpikirlah!" batin Yoluta menatap Elena.
"Terima kasih banyak," sekali lagi mereka berterima kasih pada Yoluta. Namun Yoluta masih belum mendapatkan ide agar tetap bersama dengan Elena, dia tidak tahu kapan mereka akan bertemu lagi.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama?" usul Liana menatap Elena dan Yoluta secara bergantian.
"Saya setuju. Kebetulan perut saya sudah kelaparan," jawab Yoluta dengan cepat sampai membuat mereka heran.
"Mari." Liana mengajak Yoluta ke dapur bersama mereka.
Sementara itu Casey terus mengikuti arah kekuatan Yoluta, bagaimana tidak mengikutinya jika dia belum pulang sejak tadi pagi padahal hanya membeli beberapa rempah di pasar.
"Kenapa dia ada di sini?" batin Casey saat kekuatan Yoluta berasal dari dalam penginapan.
Casey pun masuk mengikut arah dengan benar sampai ke dapur, di sana Yoluta makan bersama.
"Ah! Casey, kemarilah!" panggil Yoluta dengan ramah, spontan Liana dan Elena yang membelakangi pintu masuk langsung berbalik menatap Casey.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘