
Hari ini Alfred merasa tegang selama 2 jam karena Hans datang ke kediamannya, ia tegang bukan tanpa sebab, ia sendiri takut jika Hans menemukan atau bertemu dengan Jolycia di kediamannya lalu menghancurkan semua rencana yang telah ia susun.
Setelah Hans pergi, Alfred menatap Ruka dengan tatapan tajam. Ia berdiri dari tenpatnya lalu menampar Ruka.
"Kenapa? kenapa kau biarkan keturunan mu pergi ke dunia bawah tanpa izin dari ku, apa keturunan mu sehebat itu sampai berani menginjak kaki di dunia bawah? dasar tidak tahu diri," ucap Alfred pada Ruka.
"Tapi, ini bukan pertama kalinya. Sebelumnya dewa kematian tidak pernah mengeluh seperti ini," sanggah Ruka.
"Apa sebelumnya keturunan mu pernah ke dunia bawah sampai masuk ke wilayah Hans? apa kau pernah pergi ke kediaman Hans untuk meminta pertanggung jawaban atas kebodohan keturunan mu?"
"Tidak pernah, tuan ku."
"Oleh karena itu, baru sekarang Hans mengeluh seperti ini tentang mu. Ini sepenuhnya salah mu, kenapa kalian belakangan ini suka sekali membuat alasan untuk Hans datang ke kediaman ku. Dia paling tidak suka meninggalkan kediamannya. Tapi akhir-akhir ini dia suka sekali datang ke mari, itu karena kalian," pungkas Alfred.
"Pergilah!" bentaknya.
Setelah di usir dari kediaman Alfred, Ruka sang dewa air pergi mengunjungi kediaman sahabatnya Euros. Hari ini ia datang untuk mengeluh pada Euros.
"Apa? kau juga?" Euros terkejut mendengar curhatan dari Ruka.
"Apa maksud mu dengan kata juga?" tanya Ruka keheranan.
"Ini kejadian 7 tahun lalu. Saat itu Hans pergi ke dunia manusia bersama para pengikut Alden, hubungan mereka sangat erat seperti berteman. Aku tidak suka karena mereka berada di dekat calon avatar ku, sampai putri raja iblis naik ke punggung calon avatar ku. Bayangkan semarah apa aku saat itu dan Hans malah berani mengadu pada raja dewa jika aku mengutus kesatria ku untuk menyerangnya, raja dewa menyalahkan aku sampai melarang aku mengawasi calon avatar ku lagi."
"Kita sama. Beberapa saat lalu keturunan ku pergi ke dunia bawah untuk melawan beberapa monster, mereka tidak sengaja masuk ke wilayah Hans. Salah satu dari keturunan ku di serang oleh Hell hound, aku pergi ke kediaman Hans untuk meminta tanggung jawab. Tapi ia malah mengeluhkan aku pada raja dewa, raja dewa malah memarahi sampai menampar ku," jelas Rauka. Hal ini membuat Euros merasa curiga, ia punya firasat jika sekarang Hans bekerja sama dengan para raja dunia bawah untuk memperburuk hubungan dekat para dewa.
******
Beberapa tahun terakhir Baal mulai merasa jengkel dengan sikap Alma. Sang ayah merasa anaknya sudah berubah, ia tidak lagi pendiam, dingin, atau keras kepala. Alma jadi sering tersenyum bahagia, ia bahkan menjadi sangat ramah pada iblis lain dan juga dia kurang berdebat atau ikut campur dalam masalah Blake atau Baal.
"Kau merasakannya juga kan?" tanya Baal pada Blake. Blake mengangguk dengan ekspresi serius.
"Apa kita harus menyelidiki alasan dibalik ini semua? aku merasa senang sekaligus tidak aman, sikapnya sekarang memang sudah lebih baik," ucap Baal lagi.
"Apa mungkin dia dapat kekasih di dunia manusia? karena sikapnya sudah seperti ini sejak kembali dari sana," balas Blake membuat Baal mencengkram baju sang anak.
"Jangan konyol! manusia yang biasa saja tidak pantas merebut putri ku, dia harus lebih kuat dari ku barulah bisa menatap putri ku."
"Aku setuju. Dia harus lebih pandai dan lebih tampan dari ku untuk memikat hati adik kesayangan ku."
"Putri sangat manis tadi," ucap pelayan yang sedang asik membersihkan ruang kerja Baal. Baal dan Blake langsung mempersiapkan telinga untuk menguping.
"Kau benar. Aku tidak pernah melihat putri sebahagia itu hanya karena sepucuk surat, apa mungkin itu surat dari kekasihnya?" tanya pelayan lain.
"Benar, putri pasti sangat menyukai orang itu."
Tanpa menunggu lama Baal dan Blake bergegas menemui Alma, Alma saat itu sedang berada di ruang bacanya sambil membaca surat yang baru saja ia terima.
"Alma, kau sedang apa?" tanya Blake, ia masuk lebih dulu dari sang ayah.
Melihat Blake, Alma tersenyum lalu menyimpan surat yang ia pegang dan yang masih tergeletak di atas meja.
"Alma sedang bersantai. Kakak kenapa ke mari?" tanya Alma tersenyum canggung karena tertangkap basah sedang membaca surat.
"Kau tadi membaca surat dari siapa? kau terlihat sangat bahagia."
"Ah! itu dari teman Alma, dia hanya menceritakan perjalanannya karena saat ini dia sedang menempuh masa-masa sulit berada di puncak."
"Teman mu yang mana? semua teman mu dekat dengan kakak, kakak ingin memberikan dia hadiah."
"Tidak perlu, ini teman baru jadi kakak tidak kenal, lagi pula dia tidak suka hadiah biasa."
"Alma, kakak akan langsung ke intinya. Apa kau menyukai orang itu sampai berubah menjadi orang lain seperti ini?"
"Ya, Alma sangat menyukainya. Dia mengerti Alma lebih baik dari siapa pun, dia memberikan Alma banyak hal yang tidak Alma dapat dari kakak dan ayah."
"Tidak!" bentak Baal keluar dari tempatnya persembunyiannya, ia tidak bisa diam saja mendengar jawaban Alma
"Ayahanda?" Alma heran kenapa Baal bersembunyi. Ia menatap ayah dan kakaknya secara bergantian, "Ada apa ini sebenarnya?"
"Itu …." Blake bingung harus menjawab apa.
"Ini ide ayahanda." Kali ini Baal yang akan bicara, "Sikap mu yang mendadak berubah telah membuat ayah marah, kau tidak lagi menemui ayah lalu marah-marah sangat panjang seperti biasanya. Kau lebih suka berdiam diri di kamar bahkan selalu tersenyum akhir-akhir ini, ayah senang kau berubah. Tapi jika kau jadi jauh dari ayah setelah berubah, maka ayah jujur saja itu sangat menyakitkan. Ayah kesepian."
"Benar. Kau tidak lagi mencari masalah dengan kakak, biasanya pada jam tertentu kau akan datang menemui kakak. Sayangnya sekarang tidak lagi, kakak biasa meluangkan waktu di jam itu karena kau pasti akan datang. Tapi kali ini, entah berapa lama kakak menunggu kau tidak datang. Mengeluh seperti ini sangat memalukan, kakak tidak mau menjadi lemah di depan mu karena kakak ingin menjadi pria dingin, cuek, dan keren seperti yang tipe pria yang kau sukai. Tapi … kakak tidak bisa memperlihatkan sikap itu karena kau tidak menemui kakak lagi."
"Kami menyayangi mu diam-diam, menantikan kedatangan mu, dan menyukai sikap mu apa adanya. Kau tidak perlu berubah menjadi apa pun, entah karena kami atau karena pengirim surat itu. Selama ini kami bersikap seperti itu pada mu hanya karena ingin tampil keren di mata mu," ucap Baal dan Blake serempak.
Mendengar itu Alma terdiam dengan wajah menunduk membuat Baal dan Blake merasa khawatir, tidak lama kemudian Alma tertawa terbahak-bahak.
******
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘