The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 25 Kehilangan uang di kota orang.



Sonia selalu datang ke kediaman Ransom. Namun sayangnya Ernest tidak mau menemuinya, Jovanka senang melihat hal itu hanya saja sekarang ia punya rencana tersendiri.


Tok tok tok


Jovanka mengetuk pintu ruang kerja Ernest, "Apa ibu bisa masuk?"


"Masuklah bu," jawab Ernest dari dalam.


Jovanka pun masuk ke dalam, ia melihat putranya yang sibuk dengan pekerjaan. Jovanka mengambil tempat duduk di sofa dekat dengan meja kerja Ernest.


"Kenapa kau melampiaskan amarah mu pada Sonia? ibu jadi kasihan melihat gadis itu keluar masuk kediaman kita dengan wajah sedih. Cobalah untuk bicara dengan baik padanya, dia kekasih sahabat mu yang sangat berarti," ucap Jovanka pada Ernest.


"Jangan bercanda, bu. Apa ibu lupa amarah ibu saat perjamuan itu? lalu kenapa aku harus baik padanya?" tanya Ernest.


"Itu kejadian 4 tahun lalu. Amarah ibu sudah reda seiring bejalannya waktu maka kau juga harus berubah, Sonia mungkin akan masuk menara. Apa kau akan membiarkan itu?"


Ernest meletakan pena yang ia pegang dengan kasar di meja, "Lalu mau ibu aku harus apa? dia mau masuk, menara silahkan saja. Aku tidak peduli, dan jika ibu datang hanya untuk membicarakan dia maka ibu keluar saja."


"Ernest," tegur Jovanka dengan nada meninggi membuat Ernest berdecak kesal dan menundukan kepalanya.


"Kau adalah putra ibu. Kenapa tidak sekali saja kau berpikir seperti ibu mu ini? kita tidak bisa membuat Sonia memiliki kekuasaan, kau harus membalasnya maka buat dia tetap berada di sekitar mu.Jika Sonia memiliki kekuasaan maka dia akan hidup bahagia, bahagia di atas penderitaan mu. Itu tidak adil kan?" tambah Jovanka.


"Ibu benar. Tapi posisi apa yang akan aku berikan padanya, dia tidak bisa ada di posisi sembarangan. Dia wanita ber-racun ibu,  kita bisa saja ada dalam bahaya karena dia."


"Kau ini konyol. Kau itu sudah kebal akan racun sejak keci karena ibu mu adalah wanita ber-racun, siapa yang bisa mengalahkan racun ibu selain ayah mu?"


"Ibu benar. Kita bisa menggunakan kekuatan Sonia untuk menyingkirkan musuh-musuh kita."


"Lalu kau tunggu apa lagi? pergi dan bujuk dia dengan kata-kata manis lalu bawa dia ke mari," perintah Jovanka. Ernest pun langsung berdiri dan memakai jubahnya setelah itu ia pergi ke kediaman Castiello.


*****


"Akhirnya aku bertemu kehidupan juga," teriak Elena setelah ia berhasil menemukan kota, ia sudah berjalan sangat lama sampai kakinya gemetar.


"Lelah." Elena langsung duduk untuk melepas lelah. Tapi, perutnya kelaparan  sampai tidak berhenti mengeluarkan suara sejak tadi. Mau tidak mau Elena harus bergegas masuk ke kota.


"A-apa ini?" teriak Elena saat ia melihat antrian manusia di depan gerbang kota, seketika kaki Elena langsung lemas.


"Sebelum masuk ke sana, aku akan mati kelaparan di sini. Menyedihkan sekali" keluh Elena.


"Apa kau mau makan?" tanya seorang wanita pada Elena.


Elena menatap wanita dengan pakaian petualang itu, wanita cantik dengan rambut pendek berwarna merah.


"Ya, aku kelaparan. Tapi melihat antrian ini, aku merasa akan mati sebelum aku bisa masuk ke kota," jawab Elena membuat wanita itu tertawa.


"Ini makanlah." Wanita itu memberikan Elena bungkusan berisi roti, "Aku hanya punya roti keras."


Elena tersenyum lalu mengambil roti tersebut dan memakannya, ia terlihat sangat menikmati roti tersebut.


"Apa kau tidak masalah makan roti keras dari gandum kualitas rendah?" tanya wanita itu melihat Elena yang biasa saja.


"Memangnya kenapa jika ini roti keras? makanan tetaplah makanan. Saat seseorang jauh dari rumah maka dia harus beradaptasi dengan dunia luar, jadi aku harus belajar untuk menghargai apapun," jawab Elena membuat wanita itu merasa sangat tersentuh.


"Nama ku Liana, siapa nama mu?" 


"Aku Irene, dan terima kasih atas rotinya Liana. Aku kenyang sekarang."


"Syukurlah kau sudah kenyang. Aku masih punya banyak jika kau mau lagi, katakan saja jangan sungkan."


"Terima kasih atas niat baikmu. Jika aku makan banyak roti sampai benar-benar kenyang maka aku tidak bisa makan nasi lagi, aku harus memberikan sedikit ruang dalam perut ku untuk nasi."


"Baiklah. Omong-omong kau berasal dari mana Irene? apa kau seorang petualang?"


"Aku …."


"Woah! semuanya lihat!" teriakan salah satu pria membuat ucapan Liana terpotong, semua perhatian orang-orang yang mengantri berpaling pada seorang wanita.


"Monster?" batin Elena melihat wanita itu menunggangi serigala besar dengan tinggi 5 meter.


"Liana, dia itu … eh!" Elena terkejut saat Liana tidak ada lagi di sampingnya.


"Ke mana dia?" batin Elena mencari sosok Liana.


Wanita yang menunggangi serigala besar itu berjalan ke arah gerbang membuat banyak orang terkagum, tiba-tiba saja langkah serigala itu terhenti.


Serigala itu merasa ada tekanan yang sangat besar berasal dari kerumunan orang-orang, sayangnya ia tidak bisa memastikan siapa orang itu. 


Serigala itu tidak mau berlama-lama. Oleh karena itu, ia langsung melompati gerbang kota. Tidak ada orang yang protes karena wanita itu adalah penguasa kota ini.


Setelah 2 jam mengantri akhirnya Elena bisa memasuki Kota Keabadian, kota ini adalah kota pertama yang di bangun di Kekaisaran Ashraf oleh kaisar pertama sebelum ibu kota. Maka dari itu kota ini memiliki nama keabadian. Elena merasa beruntung bisa masuk ke kota ini.


"Pertama mari cari penginapan terlebih dahulu," batin Elena berjalan ke bagian terdalam kota.


Bugh!


Tiba-tiba saja seorang anak kecil menabrak Elena, bahkan setelah itu dia tidak meminta maaf dan langsung pergi. Tidak lama beberapa pria berlari mengejarnya. Namun Elena tidak peduli, ia berjalan ke penginapan terdekat.


"Permisi." Elena masuk ke dalam penginapan tersebut. 


"Selamat datang," ucap pria di meja penerima tamu.


"Aku ingin menyewa satu kamar, berapa harga sewanya?"


"Untuk berapa hari? barulah saya bisa menentukan harganya."


"3 hari saja dulu. Aku akan mengatakan lagi jika mau di perpanjang."


"3 koin emas untuk tiga hari."


"Baiklah, tunggu sebentar." Elena mengambil kantong uangnya. Tapi kantong itu tidak ada, seketika ia teringat anak kecil tadi.


"Dasar pencuri!" teriak Elena dengan cepat berlari kelur dari penginapan, ia menuju ke arah anak itu pergi.


"Memanggil Slyph." Elena memanggil Slyph untuk mencari keberadaan anak itu dari udara.


"Gudang tua sebelah utara. Belok kiri lalu kiri lagi setelah itu lari lurus ke depan," telepati dari Slyph memberi arahan.


"Tunggu setelah aku menemukan mu," teriak Elena berlari secepat mungkin.


"Berhenti. Dia ada di gudang itu," telepati Slyph saat mereka sampai di depan bangunan tua 3 lantai.


"Memanggil Undine." Elena memanggil Undine kali ini.


"Ada apa master?" tanya Undine sangat bersemangat.


"Seret siapa saja yang ada di dalam sana keluar," perintah Elena, Undine pun langsung mengalirkan air dalam jumlah besar dari dalam bangunan itu keluar.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘