
"Apa yang lakukan?" Tanya Elena menatap Louis dengan tatapan datar.
"Tidak ada. Aku hanya ingin duduk saja, Apa kau keberatan duduk dengan ku?" Louis bertanya dengan wajah memelas.
Elena tersipu karena tidak kuat melihat tatapan itu, "Tidak masalah, tapi tetap saja kau tidak bisa langsung menengahi percakapan orang lain."
"Benar. Sangat tidak sopan," timpal Leon.
"Hah? siapa kau? kenapa kau ikut campur urusan kami?" tanya Louis menatap Leon dengan tatapan merendah.
"Kau yang siapa? kami duduk di sini dengan tenang sejak tadi dan kau malah merusak segalanya," jawab Leon.
"Bajingan kecil ini." Louis mengepalkan tangannya.
"Sudah cukup," lerai Elena. "Leon, Louis adalah calon kakak ipar mu jadi bicara yang sopan padanya. Louis, Leon adalah calon adik ipar mu, jangan terlalu keras dengannya."
"Kakak ipar ku? sejak kapan kakak punya hubungan seperti itu? tidak bertemu dengan kakak selama 10 tahun, kakak malah bertunangan tanpa mengatakan apa pun pada ku. Padahal kakak bisa mengirim ku surat, setidaknya aku harus menilai pria seperti apa kakak pilih," protes Leon, ia tidak suka pada Louis.
"Hmph! menilai pria pilihan Elena? jangan bercanda, walau pun sesama pria saling mengerti. Akan tetapi, kau tetap tidak bisa sembarangan menilai pria Elena karena itu sama saja dengan kau mengatakan Elena tidak bisa memilih pria yang tepat untuknya. Sebagai adik ipar ku, aku akan mendidik mu cara menjadi pria sejati," balas Louis.
"Kakak lihat. Pria ini berusaha mengadu domba hubungan kita, sudah ku duga pria tidak sopan ini sangat buruk."
"Baru saja aku katakan kau sudah mengatakannya. Bagaimana ini Elena? adik mu sepertinya tidak percaya pada mu."
"Beraninya kau …." Leon menghunuskan pedanganya ke arah leher Louis, "Ku bunuh kau."
"Apa kau mampu?" Louis menekan Leon dengan kekuatan tenaga dalamnya.
"Kalian berdua." Elena berdiri dan mengepal tangannya. "Hentikan!"
Bugh!
Bugh!
"Minta maaf," teriak Elena.
Louis dan Leon berlutut di depan Elena sambil memegang telingannya, "Maafkan aku."
"Leon, pergi berlatih setelah kau makan. Dan kau …." Elena menatap tajam Louis.
Elena berdecak kesal kemudian menarik kerah baju Louis, "Ikut aku."
"Sepertinya dia pria yang baik. Tapi tetap saja, Kak Liana tiba-tiba bertunangan dengan putra mahkota lalu Kak Elena dengan kakak putra mahkota. Hidup kami sudah maju sampai seperti ini berkat Kak Elena, siapa yang akan menyangka penderitaan kami ditinggal oleh kedua orang tua kami akan tuhan ganti dengan sosok yang lebih sempurna dari mereka. Aku masih belum rela mereka memiliki pria lain padahal aku baru saja dewasa," batin Leon tersenyum menatap Elena.
*****
Setelah beberapa hari kemudian para bintang agung bersama para guru pendamping dan kesatria pengawal berangkat ke Daratan Pertapa, keluarga kerajaan serta kaisar mengantar mereka semua secara langsung.
Di sisi lain para tetua Daratan Pertapa menyambut para tamu yang datang, penyambutan lebih meriah terjadi di bagain dalam Menara Pertapa.
Para tetua lebih dulu turun dari kereta, setelahnya barulah para bintang agung. Baru saja kaki Kavana menginjak tanah seorang pria berbadan besar yang entah dari mana langsung menyerang Kavana.
"Cepat sekali, aku tidak bisa menghindar," batin Kavana terpaku di tempatnya.
Bruak!
Suara benturan sangat keras saat tangan pria itu mendarat, debu berterbangan karena efek serangan yang besar.
Setelah debu itu hilang semua orang terkejut melihat pria besar itu hanya memukul tanah, ia tidak sempat menyentuh Kavana karena reaksi cepat Elena menarik Kavana masuk ke dalam kereta.
"Sayang sekali," ucap pria itu menyeringai.
"Maaf, ketua. Aku hanya sedikit penasaran dengan kekuatan orang yang berada pada posisi yang sama dengan mu," jawab Ahza, dia adalah bintang pertapa posisi kedua.
"Jika aku jadi kau, aku justru akan lebih penasaran dengan kekuatan orang pada posisi yang sama dengan mu. Bukan kah dia gemar masuk surat kabar," timpal Silas sebagai bintang pertapa posisi keempat.
"Jangan bercanda. Kau tunjukan sedikit rasa sopan pada tamu," tegas Lucky. Jika Lucky sudah berkata maka para bintang pertapa lain akan langsung menurutinya.
"Selamat datang di Daratan Pertapa," ucap Lucky tersenyum ke dalam kereta. Para bintang agung walau pun kesal harus keluar dari dalam kereta satu per satu.
Mata semua orang dari Menara Pertapa malah tertuju pada Elena, dia bukan hanya lemah bagi mereka ia juga terlalu biasa untuk ada di posisi kedua.
Para tetua Menara Pertapa mengantar para tetua Menara agung untuk berkeliling, mereka membiarkan para murid bintang untuk saling mengenal.
"Jadi, kau adalah aib para bintang agung rupanya," ucap Kamaniai sebagai bintang pertapa posisi ketiga pada Elena.
"Mulut mu longgar juga yah perempuan. Aku yakin kau tidak pernah mendapatkan didikan yang layak," ejek Liora pada Kamaniai.
"Sudah cukup, Liora. Kau tidak perlu meladeni orang berotak sempit seperti wanita itu," ucap Sean memandang rendah Kamaniai.
"Hei! jaga ucapan mu atau aku akan menggantikan ibu mu untuk mengajari mu apa itu sopan santun," ancam Kyson sebagai bintang pertapa keenam.
"Lihat dulu siapa yang bicara." Sean tersenyum menatap kyson yang lebih pendek darinya.
"Kalian, mau ribut sampai kapan? aku lapar sekali," keluh Elena membuat suasana penuh api menjadi aneh.
Bugh!
Liora langsung memukul kepala Elena, "Kau baru saja selesai makan 1 jam yang lalu, ke mana semua makanan itu pergi?"
"Mana aku tahu," jawab Elena seenaknya.
"Menarik. Kau wanita yang mena …."
"Diamlah!" Elena memotong ucapan Ahza.
"Seumur hidup ku tidak pernah melihat orang bodoh membuat kelompok untuk mengejek orang genius, sayangnya apa boleh di kata. Orang-orang bodoh itu dipimpin oleh satu orang yang bisu," cemoh Elena menyapu rata mereka semua dalam ucapannya.
"Sombong sekali kau, dasar aib para bintang." Xavera sebagai bintang pertapa kelima sekaligus pengagum Lucky kesal dengan ucapan Elena. Ia tanpa sadar melempar peledaknya ke arah para bintang agung.
"Berlindung!" perintah Lucky kepada anggotanya, karena mereka tidak terlalu jauh dari para bintang agung bisa saja membuat mereka terkena ledakan.
Bruak!
Ledakan besar terjadi tepat dihadapan mereka semua, Lucky bersama anggota terkena sedikit ledakan itu begitu juga dengan Xavera. Namun, setelah asap ledakan itu hilang terlihatlah pelindung yang besar melindungi para bintang agung.
"Ya ampun, kalian kenapa? apa sedang terapi ledakan? kasihan sekali," ejek Elena sambil tertawa.
Sebenarnya Elena memanggil Eir, Valkyrie dengan pertahanan yang kuat. Ia menggunakan kekuatannya tanpa menampakan wujud untuk melindungi para bintang agung.
"Aku tidak menegur anggota ku karena merek tidak salah. Tapi kau sebagai ketua, bahkan saat anggota mu berniat membunuh anggota ku kau malah sibuk mencari tempat berlindung. Dalam artian ketua kau itu sudah gagal." Kavana tersenyum kecil pada Lucky.
"Kesan pertama yang lumayan. Kalian sekarang adalah wujud dari kata, jangan bermain api kalau tidak ingin terbakar," tambah Liora.
Para bintang pertapa memendam kejadian itu dalam hati mereka, mereka berniat mempermalukan para bintang agung justru malah dipermalukan oleh tindakan mereka sendiri.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘