The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 105 Orang konyol selalu muncul.



Plak!


Plak!


Plak!


"Hentikan Kamaniai!" Ivory memeluk Kamaniai dari belakang lalu menariknya menjauh dari Xavera.


"Lepaskan! aku harus menamparnya lebih banyak banyak lagi, karena dia … karena dia aku kehilangan muka di depan banyak orang, beraninya dia," teriak Kamaniai.


"Dia melakukannya juga karena dia tidak sengaja, lupakanlah. Kita ini rekan bukan," ucap Ivory.


"Hah! sialan kau!" Kamaniai menggunakan kekuatannya untuk melepaskan diri dari Ivory.


"Jika bukan karena ide kalian ini semua tidak akan terjadi, lalu kalian bilang pada ku untuk melupakannya. Dasar kalian para sampah! ku bunuh kalian."  Tangan kanan Kamaniai berubah menjadi bor dari elemen air, sesuai keahliannya.


"Tenanglah perempuan!" teriak Ahza, ia tidak tahan melihat amarah Kamaniai yang berkobar.


"Berisik kau. Ide untuk mempermalukan para bintang agung itu datang dari mu, padahal saat kau diam saja sudah sangat merepotkan dan sekarang karena ide konyol dari otak otot mu itu aku dipermalukan. Kalian semua sama saja," ejek Kamaniai.


"Marah pun tidak ada gunanya, semua sudah terjadi. Karena seseorang yang bertindak tanpa berpikir kita semua malah malu," tambah Kyson.


"Maafkan aku. Aku lepas kendali saat mendengar dia menghina ketua, sungguh aku minta maaf." Xavera menundukkan badannya untuk yang kesekian kali.


"Aku akan pergi, bersama kalian malah memperburuk suasana hati ku." Silas berdiri dari tempatnya kemudian beranjak keluar dari ruang rapat mereka.


"Di sini tidak ada orang waras selain Silas dan aku," lanjut Kamaniai ikut keluar dari ruangan itu.


"Kita bicarakan masalah ini nanti." Lucky yang sedari tadi diam saja malah ikut keluar dari ruang rapat.


*****


Lucky sebagai penduduk Daratan Pertapa, ia bisa kembali ke kediamannya kapan saja apalagi kakaknya adalah duke yang pengaruhnya besar di Menara Pertapa.


Mendengar sang adik sudah kembali Light, sang kakak meminta pelayan untuk memanggil Lucky ke ruang bacanya. Lucky yang mendapatkan pesan itu mulai merasakan firasat buruk.


Lucky pergi menemui sang kakak dengan wajah pucat pasi. Namun di tengah perjalanan, ia melihat Elena pergi ke arah yang sama bersama dengan Valkyrie Reva.


"Elena datang dengan sosok penting seperti dewi perang, kenapa?" batin Lucky. Ia mempercepat langkah agar bisa sampai lebih dulu dari Elena.


"Kakak." Lucky membuka pintu ruang baca melihat sang kakak duduk di balik meja kerjanya.


"Apa kakak mema …."


"Kau duduklah dibalik tirai sampai tamu penting ku pergi," perintah Light memotong ucapan Lucky. Lucky mengangguk dan beranjak ke balik tirai yang ada dibelakang Light.


Tok tok tok


"Duke Maverick, Elena di sini. Apa aku bisa masuk?" tanya Elena dari balik pintu.


Bruak!


Reva menendang pintu ruang kerja Light dari luar, "Untuk apa nona minta izin masuk padanya. Dia yang mengundang nona, seharusnya dia merasa terhormat bukan bersikap sombong dan tetap diam tanpa membukakan pintu untuk nona."


"Reva, itu etika untuk bertamu jadi sudah wajar kan. Kau ini …." Elena hanya bisa pasrah dengan sikap Reva yang tidak kenal sopan santun.


"Silakan masuk Nona Elena," ucap Light dengan ramah, Elena dan Reva pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Apa ini? tidak ada kursi? apa kau ingin nona dan aku duduk di lantai sama seperti mu? manusia ini." Reva mengeluarkan elemen petir dari tangannya.


"Maafkan aku, seharusnya aku menyediakan semuanya dari awal. Tapi kursi atau sofa di kediaman kami hanya ada di aula utama, bagaimana ini aula utama dari sini sangat jauh?" tanya Light sengaja ingin membuat Reva lebih marah lagi.


"Kita pulang saja, nona. Ayo!" Reva menarik tangan Elena dan berjalan ke arah pintu masuk.


Tiba-tiba pintu masuk tertutup dengan keras, "Maaf Nona Elena. Tapi anda belum bisa keluar dari sini, karena anda harus membayar perbuatan anda terlebih dahulu."


"Kau … akh!" Baru saja Reva ingin menyerang, ia mendadak kehilangan kekuatan sucinya. Light telah menyiapkan semuanya dari awal, ia melempar jarum yang sudah ia beri racun pada Reva tanpa disadari oleh Elena atau Reva.


"Kekuatan anda tidak hilang hanya dihentikan selama beberapa saat, sampai urusan saya selesai," ucap Light menatap Reva.


"Kau sebenarnya kenapa?" tanya Elena menatap tajam Light.


Light tersenyum seraya berdiri dari tempatnya, "Anda sudah menghina keturunan Maverick yang suci, sebagai keluarga terhormat menurut anda apa yang harus saya lakukan untuk membalas penghinaan anda terhadap Lucky, adik saya."


"Astaga, kenapa ada saja kesempatan bagi orang-orang konyol muncul. Merepotkan," ucap Elena.


"Anda masih bisa setenang ini rupanya, hebat. juga. Tapi sayang, anda berada di wilayah kami. Sebagai duke di Daratan Pertapa saya akan menghukum anda secara tertutup agar tidak membuat diri anda dipermalukan, setelah anda barulah saya akan mengurus rekan anda. Karena anda yang paling lemah dari mereka semua, anda beruntung memiliki sahabat salah satu dari 10 Valkyrie."


"Salah satu? hmph! kau salah Light."


"Astaga, anda benar-benar tidak sopan memanggil nama saya secara langsung. Hukuman anda akan digandakan," ucap Light.


Light mengeluarkan tongkatnya, tongkat itu ia angkat ke atas dan mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu. Tidak lama langit mulai bergemuruh, lalu petir menyambar Elena berkali-kali sementara Elena berusaha menghindarinya.


"Anda tidak bisa melarikan diri dari 100 petir penghukum," ucap Light menikmati adegan di depan matanya.


"Aku lelah," keluh Elena seraya duduk di lantai.


"Matilah kau," ucap Light saat petir ke 23 datang menyambar.


"Nona menghindarlah!" teriak Reva, sayangnya Elena tidak bergerak sama sekali sampai tersambar petir.


"Itulah hukuman anda karena tela menghina adik kesayangan … ukh!" ucapan Light terpotong karena dia terhempas akibat pukulan keras dari tetua utama Menara Pertapa, kakak tertua Lucky dan Light, Dominic Maverick.


"Beraninya kau bertindak sesuka hati mu, apa kau anggap aku sudah tiada?" tanya Dominic meninggikan suaranya.


"Gawat! Kak Dominic sudah datang, aku harus pergi atau Kak Light akan mengkambing hitamkan aku seperti biasa," batin Lucky, ia diam-diam keluar ruangan dari pintu belakang.


"Kakak, ini salah paham. Aku menghukumnya atas nama keluarga kita, ayolah jangan marah pada ku. Kau tau kan dia menghina adik kesayangan kita," jawab Light.


"Kau baik?" tanya Elena membantu Reva untuk berdiri.


"Anak sialan!" Dominic memukul Light lebih keras lagi.


Tidak lama masuklah Brunhilde, ternyata dia yang memanggil Dominic untuk datang ke kediaman Maverick. Brunhilde merasakan hal buruk saat Elena mendapatkan undangan dari Duke Maverick yang dulu terkenal sombong.


"Kau bahkan menyerang seorang Valkyrie, kurang ajar. Apa kau tidak tahu bahwa keluarga kita punya hubungan baik dengan saudara 10 Valkyrie, apa ayahanda pernah mengajarkan mu untuk menyerang saudari dari orang yang dia layani. Kurang ajar kau!" Dominic tidak kenal ampun jika harus memberikan Light hukuman yang pantas.


Kejadian itu dianggap tidak pernah terjadi oleh Elena mengingat siapa Dominic, ia berbesar hati memaafkan Light. Dominic sangat berterima kasih untuk kebesaran hati Elena.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘