The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 70 Vivian yang malang.



Pelayan yang bertugas mengantarkan makanan untuk tahanan dewa angin berlari ketakutan menuju ruang kerja Euros, melihat pelayan itu dewa angin langsung mencemaskan tahanannya.


"Ada apa? kenapa kau ketakutan?" tanya Euros.


"Tuan ku, muncul tanda lahir di pundak wanita itu. Tanda mirip pusaran angin," jawab pelayan itu yang sukses mendapatkan tamparan dari Rafael.


"Berani sekali kau mengatakan tanda suci kita ada di tubuh wanita kotor itu. Apa kau gila? akan ku cabut mata mu dan aku akan lihat tanda apa yang masih bisa kau lihat," ancam Rafael.


"Tenanglah! kau ingin memperlihatkan kehebatan mu dengan mengancam seorang pelayan, ingatlah kita adalah dewa keturunan suci bukan mahluk dunia bawah yang menghukum sesuka hati," bentak Euros membuat Rafael terdiam.


Euros pun pergi menemui wanita dalam penjara itu dan melihat secara langsung tanda pada tubuhnya, ternyata benar ada tanda di pundaknya tanda pusaran angin berwarna hijau yang indah. Itu adalah tanda gadis yang di cintai oleh angin.


"Bagaimana mungkin kekuatan mu bisa bangkit? Rani adalah seorang ahli ramuan, sedangkan Alden adalah pengguna kekuatan gelap. Bagaimana bisa campuran dua keahlian itu membuat kekuatan suci angin dalam tubuh anak mereka, mau di pikir berapa kali pun ini sangat tidak masuk akal," ucap Euros.


"Apa mungkin karena dia sudah tinggal bersama kita selama ini, lalu kekuatan kita menular padanya?" tanya Rafael.


"Diamlah! lebih kau pergi ke Kediaman Raja Dewa, kita akan lihat apa yang akan beliau katakan tentang ini. Sementara aku akan mengundang Vivian kemari," perintah Euros yang langsung di patuhi oleh Rafael.


*****


"Apa kata mu? ada yang salah dengan racun ku? jangan bercanda. Aku tau kau itu tampan. Tapi itu bukan berarti kau bisa macam-macam dengan ku, padahal sebelumnya kalian baik-baik saja dengan racun ku," protes Vivian saat di interogasi oleh Euros.


"Pasti ada sesuatu yang salah saat kau membuatnya. Kau mungkin meletakan sesuatu yang aneh dalam racun mu," sanggah Euros lagi.


"Jangan menghina ku. Aku bisa membuat racun hanya dengan membayangkannya saja, mana mungkin ada yang salah," bentak Vivian.


"Tidak. Kau telah berbohong," timpal Grace dia adalah utusan Raja Dewa yang datang dengan Rafael.


"Apa? jangan menuduh ku sembarangan. Apa kau punya bukti?" tanya Vivian, ia tidak mau dirinya di salahkan begitu saja.


"Rekaman pengembalian waktu." Grace adalah dewi yang bisa mengendalikan waktu sesuka hatinya, ia memperlihatkan rekamanan tentang Vivian saat sedang membuat racun tersebut. Di sana setelah membuat racun itu Vivian memasukan bunga pembangkit ke dalam racun, melihat itu Vivian merasa sangat kesal karena rekamannya telah direkayasa.


"Aku tahu sekarang. Ini adalah rencana kalian untuk menjatuhkan aku, setelah kekuatan ku tidak kalian perlukan lagi kalian menjebak ku agar aku bisa keluar dari dunia atas. Dasar kalian semua dewa sampah!" teriak Vivian.


"Kaulah yang jahat, berani sekali kau menunduh kami. Sejak awal kau memang tidak pantas menjadi dewi," cibir Grace.


"Tahan dia!" perintah Grace kepada para kesatria suci.


Kesatria suci mengeluarkan rantai emas, dan melilitkan rantai itu pada tubuh Vivian. Rantai itu menyerap semua kekuatan Vivian, sampai ia tidak kuasa bahkan hanya untuk bergerak saja.


"Lempar dia ke dunia bawah!" perintah Grace lagi, mereka mengangguk lalu membawa Vivian.


"Di mana tahanan itu? Raja Dewa meminta ku membawanya ke kediaman beliau untuk di rawat," ucap Grace. Euros yang tidak tahu apa-apa hanya mematuhi perintah Raja dewa melalui Grace.


"Kenapa aku merasa semua yang terjadi ini salah," batin Rafael.


"Rencana ku membawa putri mu ke mari berhasil. Sebentar lagi, sebentar lagi semua akan berjalan sesuai rencana ku. Aku akan menjaga putri mu dengan baik Rani, tentu saja dengan cara menikahinya. Kau tidak bisa menjadi milik ku maka tidak masalah, karena putri mu akan menjadi milik ku. Dia bagian dari kau juga kan," ucap pria memeluk erat salah satu lukisan Rani.


******


Elena perlahan membuka matanya, ia terkejut karena sekarang ia tidak berada di tepi jurang lagi. Sekarang dia berbaring di kasur yang empuk, pada ruangan aneh yang di terangi oleh lentera.


"Laparnya." Elena memegang perutnya yang berbunyi.


Karena rasa lapar itu Elena turun dari ranjang kemudian berjalan keluar pintu kamar yang hanya di tutupi oleh tirai itu, di luar tidak ada siapa pun. Suasana sepi ini membuat Elena takut apalagi lorong tempat ini tidak lurus, Elena bingung siapa yang membangun kediaman ini sampai lorongnya berliku-liku.


Setelah berjalan cukup lama Elena menjadi kesal karena tidak dapat menemukan pintu keluar, ia justru malah tersesat sampai memasuki ruangan yang mirip perpustakaan.


"Kediaman anti pencuri, siapa sebenarnya yang tinggal di tempat penuh lika-liku seperti ini. Apa mahluk merayap?" teriak Elena melampiaskan kekesalannya.


"Rupanya anda. Saya pikir itu suara siapa," ucap seorang wanita. Ia masuk ke dalam ruangan tempat Elena berdiri saat ini.


"Aku tersesat. Kau pemilik rumah? di mana pintu keluar? aku juga lapar, di mana kedainya? jam berapa sekarang?" Elena menyerangnya bom pertanyaan.


"Ini bukan rumah ku, pintu keluar ada di lorong lain, kedainya di luar kediaman ini, dan sekarang pukul 4 sore," jawab wanita itu, dia membuat Elena merasa takjub dengan menjawab pertanyaannya secara berurutan.


"Antarkan aku keluar," perintah Elena, wanita itu mengangguk lalu menuntun Elena keluar kediaman Aizen.


"Dasar setan! rupanya ini kediaman berbentuk gua. Kenapa mereka membuat kediaman seperti gua, lagi pula gua mana yang punya begitu banyak lorong di dalamnya. Menyebalkan!" batin Elena menyumpahi Kediaman Aizen.


"Kau sudah sadar." Roan dan Aric tersenyum bahagai melihat Elena keluar dari Kediaman Aizen.


Elena tidak fokus pada mereka karena ia sedang melihat semua kediaman disekitarnya berbentuk gua, tidak ada kediaman normal di sini.


"Selamat datang di Lembah Naga. Kami akan mengantar mu berkeliling, kau mau ke mana dulu?" tanya Roan membuat Elena teringat jika sekarang dia pasti telah membuat Louis, Carlos, dan Liana cemas.


Tapi saat ini Elena tidak mau berpikir panjang, ia meminta Roan dan Aric membawanya ke kedai makan. Beruntung kedai makan di Lembah Naga seperti kedai pada umumnya, walau pun masih berada di dalam gua. Setelah itu Roan dan Aric membawanya ke tempat-tempat yang indah, entah kenapa Elena merasa sangat tenang berada di tempat itu.


"Aku rindu rumah," gumam Elena terdengar jelas Roan dan Aric.


"Ayo. Ke sana." Roan menunjuk sebuah rumah besar terbuat dari papan, letaknya berada di puncak. Elena tersenyum karena di tempat ini masih ada kediaman yang normal.


Aric menjelaskan jika rumah ini adalah rumah kenangan yang sudah berdiri selama ratusan tahun, tempat itu di buka hanya setahun sekali saat hari pendirian Lembah. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini karena di sini hanya berisi lukisan tentang kegiatan para kedua ras, sebelum dan sesudah mereka berdamai. Elena tidak mendengar dengan cermat, ia malah menikmati pemandangan Lembah Naga dari ketinggian.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘