The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 55 Arti Irene bagi ku.



Cedric mengetukan jari telunjuknya di meja dan terus berpikir keras, bagaimana tidak? sudah 3 tahun sejak ia merasakan adanya kekuatan gelap berasal dari pavilliun pemanggil. Namun tidak dia temukan satu pun murid yang memancarkan kekuatan itu, di sana semua terlihat baik-baik saja dan entah ke mana perginya kekuatan gelap itu.


Cedric sudah mengirimkan pesan pada 4 pilar dunia atas yaitu dewa elemen. Akan tetapi sudah 3 bulan berlalu ia masih belum mendapatkan balasan, entah surat itu sampai atau tidak Cedric tidak tahu. Segalanya sudah semakin rumit saat ini.


"Salam Tuan Cedric," tetua kedua yakni pengatur pavilliun pemanggil masuk ke dalam ruang kerja Cedric.


"Duduklah!" Cedric mempersilakannya duduk di depan Cedric. Tetua kedua mengangguk dan duduk di sana, "Apa yang kau dapatkan?"


"Tidak ada satu pun murid bagian luar yang baru masuk memiliki kekuatan gelap. Kekuatan mereka murni jadi anda tidak perlu cemas, lalu menurut kesatria menara mereka tidak pernah menemukan satu pun murid berkekuatan gelap masuk ke menara. Itu bukti yang cukup kuat jika apa yang anda katakan salah," jawab tetua kedua.


Cedric menghela nafas lalu bersandar pada tembok, ia merasa harus menyelidiki masalah ini sendirian. Bantuan dari yang lain harus ia akhiri karena itu semua percuma saja.


"Kembalilah dulu," ucap Cedric padanya, tetua kedua mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan Cedric bersama bebannya.


******


"Permisi pak." Elena menyapa kesatria pada pos keamanan yang ada di depan akademik kesatria.


"Ada apa nona?" tanya salah satu kesatria pada Elena.


"Aku ingin bertemu dengan adik-adik ku, apa bisa aku masuk?"


"Maaf sekali, nona. Ini akademik kesatria pria, wanita dilarang keras untuk masuk takutnya jika anda masuk bisa terjadi keributan besar."


"Eh! sayang sekali. Tapi apa bisa panggilkan adik-adik ku ke mari? ku mohon bantulah aku karena setelah ini butuh waktu lama untuk bertemu dengan mereka lagi."


"Maaf nona. Semua kebutuhan para murid akademik sudah kami siapkan di dalam jadi mereka tidak punya alasan untuk keluar, atau lebih tepatnya dilarang kecuali, jika sangat mendesak selain itu tidak bisa. Ditambah untuk semua murid libur untuk keluar akademik masih tahun 3 lagi."


"Apa?" Liana terkejut karena waktu liburnya lama sekali.


"Baiklah. Terima kasih." Elena pamit undur diri, ia menarik Liana pergi ke kedai di dekat sana.


"Bagaimana ini Elena? aku tidak bisa melihat Leon selama 3 tahun lagi. Aku tidak mau," rengek Liana.


Kesal melihat tingkahnya Elena pun memukul kepala Liana dengan sendok, "Jangan bodoh. Setelah libur ini kita tidak bisa keluar dari Daratan agung selama 7 tahun, sekali pun mereka libur nanti kita tetap tidak bisa bertemu mereka."


"Ya ampun, aku lupa tentang itu. Sekarang kita berusia 23 tahun kalau begitu 7 tahun lagi aku sudah berusia 30 tahun, lalu bagaimana aku menikah di usia itu? siapa yang masih mau dengan ku?"


"Pria akan datang dengan sendirinya dan mengantri untuk menikahimu, kenapa kau harus khawatir dengan sesuatu yang sekonyol itu. Liana bodoh."


"Baiklah, aku bodoh. Lalu sekarang kita bagaimana? kau akan ke ibu kota lalu aku?"


"Kenapa dengan mu? tentu saja kau akan ikut dengan ku. Kita akan bertemu dengan keluarga ku, sebenarnya aku ingin mengajak dua pria kecil itu. Sayang sekali mereka tidak bisa ikut."


"Setelah makan kita berangkat. Aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan keluarga ku setelah sekian lama, maka lebih cepat lebih baik. Aku akan memandu mu juga untuk keliling ibu kota."


"Kau gila yah, apa kau pikir ibu kota itu sekecil kaki mu sampai bisa kau kelilingi."


"Kita punya 3 bulan untuk itu, tenang saja," jawab Elena yang sukses mendapatkan pukulan keras dari Liana.


Setelah makan Elena dan Liana pergi ke portal kekuatan teleportasi, kini mereka bisa menggunakan portal ini dengan hak khusus sebagai murid menara jika mereka murid bagian luar maka tidak akan bisa. Namun sekarang berbeda, ke mana pun mereka pergi jika ada yang tahu identitas mereka maka mereka akan di hormati.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai. Mereka hanya butuh waktu 3 hari hingga sampai ke portal ibu kota Kekasiaran Ashraf. 


Begitu keluar dari dalam portal Liana merasa takjub melihat keramaian pusat ibu kota, banyak rakyat biasa berlalu lalang sebanyak kereta kuda yang lewat ke sana ke mari. Mungkin kota ini tidak seindah kota seribu bunga. Akan tetapi, bagi Liana masing-masing kota memiliki keindahan tersendiri yang selalu ia simpan dalam hati.


"Ayo isi perut dulu," sorak Elena berjalan lebih dulu, Liana hanya mengikutinya dari belakang sambil menatap Elena yang kegirangan melihat berbagai macam kedai makanan.


"Pertemuan kami sangat aneh. Awalnya aku hanya ingin membantu wanita yang kelaparan, setelah itu bertekad tidak ingin terlibat dengannya dan pergi diam-diam. Namun tuhan berkata lain, dia mempertemukan kami kembali melalui Leon. Aku sempat meragukan kebaikan wanita ini sampai hari di mana dia datang melawan penguasa kota untuk kami, di sana aku melihat cinta yang murni dari setiap tatapannya pada Leon. Cinta yang tidak kami dapatkan dari orang tua kami," batin Liana mengenang hari di mana hidupnya berubah.


"Liana lihat! ada roti kari di sini, ada roti isi selai juga. Ada banyak jenis roti, bantu aku pilih yang mana harus aku beli," pinta Elena menatap lekat-lekat semua roti yang terlihat dari kaca bagian luar kedai.


"Pilih saja sesuka mu. Aku kan ada," jawab Liana membuat Elena tersenyum dan langsung masuk ke dalam toko.


"Jika ada yang tanya siapa Irene bagi ku, aku akan menjawab dia adalah wujud dari semua peran. Dia adik, kakak, ayah, teman, sahabat, dan ibu bagi ku. Dia adalah orang yang mengubah seluruh hidup ku, tanpanya aku tidak akan pernah tahu dari mana datangnya semua kehormatan yang bisa aku gapai saat ini," batin Liana menyeka air matanya yang menetes.


"Liana." Elena mengeluarkan kepalanya dari pintu kedai, "Uang ku kurang 50 koin perak."


"Baiklah, aku datang." Liana tersenyum lalu masuk ke dalam kedai.


"Terima kasih telah menjadi cahaya dalam hidup kami," batin Liana lagi memberikan sisa uangnya pada kasi kedai.


Elena memeluk Liana saat mereka keluar dari kedai, "Terima kasih. Kau kakak terbaik, aku mencintai mu."


"Jangan mengecup ku." Liana menahan wajah Elena agar tidak mengecup pipinya.


Setelah itu mereka tidak langsung pergi ke kediaman Abraham, Elena mengajak Liana duduk di bangku pinggir jalan. Tidak lupa Elena membeli minuman selama beberapa saat, lalu ia kembali dan mereka menikmati roti panas bersama minuman dingin. 


Disela-sela makan Elena menceritakan banyak hal pada Liana tentang ibu kota, Liana mendengarkannya dengan cermat. Bahkan Elena mengatakan nama-nama tempat indah yang akan mereka kunjungi nanti, Liana sangat menantikan saat di mana Elena akan memadunya berkeliling ibu kota. Saat makanan mereka habis, Elena langsung menyewa kereta kuda yang membawa mereka pergi ke kediaman Abraham, ia bergegas pulang karena masih ingin makan makanan berat setelah ini.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘