The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 38 Aku menemukannya.



Bugh!


Casey muncul di puncak tebing, melihat Casey Hydra itu terkejut sampai dia menjaga jarak untuk memastikan jika Casey benar adalah sang naga merah.


"Di mana ini?" Casey berteriak melihat dirinya berada di atas ketinggian.


"Kau …." Casey terkejut melihat Elena dalam keadaan terluka parah berada di sampingnya, sementara Hydra tepat di depan mereka.


"Casey ini perintah, buat dia tunduk," perintah Elena menunjuk Hydra.


"Apa kau … Eh!" Casey terkejut saat tubuhnya tergerak sendiri, ia menyerang Hydra tanpa ampun dengan kekuatan penuh.


Hydra itu kehilangan banyak tenaga karena ia tidak kuasa menandingi Casey, sehingga kekuatannya melemah dan wujud manusia kembali. 


"Berhenti!" perintah Elena, Casey pun terhenti.


"Aku tidak berniat menyakiti. Tapi kau memaksa ku melakukan itu, aku minta maaf telah melukai mu. Apa kau mau membuat kontrak dengan ku?" tanya Elena mengulurkan tangan pada Hydra.


"Siapa kau sebenarnya?" Hydra balik bertanya.


"Aku tidak tahu." Elena mengecup kening Hydra sebagai tanda mereka telah menjalin kontrak.


"Casey." Yoluta baru saja tiba dengan nafas tersengal-sengal, ia berlari ke mari setelah melacak keberadaan Elena.


Melihat Yoluta Elena tersenyum lalu ia jatuh ke tanah sampai tidak sadarkan diri, kekuatan tenaga dalam Elena yang tersisa telah ia keluarkan untuk menjalin kontrak dengan Hydra.


"Master!" Yoluta berlari mendekati Elena. Namun ia bernafas lega karena Elena hanya pingsan, semua luka di tubuh Elena sembuh saat kekuatan gelap bangkit.


"Perempuan ini master? jadi tadi itu hak pemanggil master yang membawa aku ke mari. Tidak mungkin, kenapa aku tidak sadar dari awal jika dia adalah master." Casey terkulai lemas setelah tahu jika Elena, sih perempuan perebut daging adalah masternya.


"Kau kembalilah dulu. Saat ini kita belum bisa menunjukan diri di depan master, sampai saat master mengendalikan tubuh ini sepenuhnya tiba barulah kau bisa melayaninya dengan tulus bersama kami. Setelah ini dia tidak akan ingat apa pun, mungkin itu efek menggunakan kekuatan gelap," ucap Yoluta pada Hydra, Hydra mengangguk lalu ia kembali ke tempatnya.


Setelah itu Yoluta pergi meninggalkan Elena di atas tebing itu, karena di bawah sana ada beberapa petualang mulai naik mungkin itu teman-teman Elena.


"Ayo." Casey memeluk Yoluta lalu mereka terbang menuju keluar hutan dari arah yang lain.


*****


Elena merasa seluruh tubuhnya sakit. Namun rasa sakit itu teralihkan karena ia terkejut sudah terbaring dalam kamar, tidak lama kemudian Leon datang membawakan mangkuk berisi ramuan.


Leon meletakan mangkuk itu di atas meja lalu ia naik ke atas ranjang dan memeluk Elena, "Kakak, maafkan aku. Aku tidak kuat sampai tidak bisa menyelamatkan kakak."


Elena mengelus kepala Leon, "Ini bukan salah mu. Kelak nanti Leon kita akan menjadi pria yang kuat, dia akan membuat dunia bela diri kagum dengan kekuatannya."


Leon menarik tangan Elena yang ada di atas kepalanya ke dalam genggamannya, "Nanti? nanti itu kapan kak? berapa tahun lagi aku akan dewasa atau menjadi ku …."


Mendadak ada pedang yang menembus dinding kamar Elena, ujung pedangnya berada tepat di depan Leon. Karena dindingnya terbuat dari kayu jadi mudah di tembus, sementara Leon sendiri terkejut sampai pingsan karena hal itu.


Tok tok tok


Suara ketukan di depan pintu kamar Elena, Elena membaringkan Leon di tempat tidur lalu membuka pintu kamar.


"Ah!" pria tampan berkulit hitam manis dengan rambut di kuncir tersenyum pada Elena, "Maaf tadi …."


"Hah? mana mungkin. Nona saya benar-benar tidak bermaksud, tadi itu …."


"Itu apa? apa kamar penginapan telah berganti fungsi menjadi arena petarung? kau tau kan aturan dunia bela diri, nyawa harus dibayar dengan nyawa maka mata harus dibalas dengan mata


"Tadi itu sungguh bukan kesengajaan. Saya tidak tau jika di kamar ini ada orangnya."


"Wah. Kau begitu yakin kamar ini tidak ada orang, lalu kenapa kau mengetuk pintu kamar ini? apa semua orang di kekaisaran ini memiliki sikap buruk seperti mu, menganggap tempat umum sebagai kamar sendiri, hum?"


"Nona, saya harus jelaskan bagaimana lagi pada anda? saya mohon maafkan saya, saya akan melakukan apa saja untuk mendapatkan maaf anda." Pria itu memohon sampai matanya berkaca-kaca.


"Ada apa Elena?" Liana yang baru saja sampai langsung memegang tangan Elena karena melihat tersirat amarah darinya, "Kau seharusnya di dalam kamar, istirahat."


"Seharusnya begitu. Tapi tiba-tiba ada pedang menembus dinding lalu menusuk mata Leon, pedang itu milik pria ini," jelas Elena menunjuk pria di depan mereka.


"Apa? ma-mata Leon ku ter-tertusuk." Mulut Liana gemetar, ia menatap pria di depan mereka dan meraih leher pria itu dengan kedua tangannya.


"Nona tunggu dulu, i-ini." Pria itu menjadi pucat pasi dengan tangan terangkat.


"Be-beraninya kau menyakiti adik ku. Ku bunuh kau, aku bukan seorang kakak jika tidak ku buat nyawa mu kembali ke tangan tuhan," teriak Elena memancing orang berdatangan.


"Uhuk uhuk uhuk. Kenzi, kenapa kau lama sekali?" seorang pria memakai jubah panjang dengan wajah pucat keluar dari kamar sebelah. Pria dengan rambut merah dan mata biru, sungguh ketampanan yang memikat hati.


"Galen." rengek Kenzi.


"Nona, tolong turunkan tangan anda. Teman saya ini …."


"Diam kau!" tegas Liana memotong ucapan Galen.


"Galen Labhrainn," ucap Elena secara tidak sadar.


Di kehidupan sebelumnya Galen adalah marquess muda sekaligus sahabat setia Ernest, dia selalu mendukung Ernest dalam setiap kondisi sayangnya dia meninggal di usia muda karena penyakit. Setelah itu barulah Elena mengenal pria hitam manis bernama Kenzi, dia adalah asisten pribadi Galen sekaligus temannya. 


Dulu dia menentang persahabatan Ernest dan Galen, karena dia tidak suka sikap Ernest. Oleh karena itu, hubungan pertemanan antara mereka hancur sampai Kenzi pergi entah ke mana bahkan pada hari meninggalnya Galen, dia tidak muncul. 2 orang ini selalu bersikap baik pada Elena.


Mengingat kehidupan sebelumnya tentang Galen membuat Elena meneteskan airmata, pasalnya orang sebaik Galen tidak berumur panjang ditambah lagi dia terus memihak pria seburuk Ernest sampai akhir hidupnya. Jika saja Ernest mendapatkan ahli ramuan hebat lebih cepat mungkin akhir Galen akan beda, sayangnya Galen meninggal seminggu lebih cepat dari ahli kedatangan ahli ramuan itu.


"Nona, kau baik?" tanya Kenzi mencemaskan Elena.


"Lupakan saja. Liana, ayo!" Elena menarik Liana masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.


Setelah masuk ke kamar Liana melihat Leon baik-baik saja, Liana memarahi Elena karena telah berbohong. Pedang itu memang hampir menusuk mata Leon jika saja pedang itu 5 senti lebih panjang.


"Jika saja aku tidak berbohong untuk memberikan pria iti efek jera, maka aku tidak akan bertemu dengan dia. Aku menemukannya Liana, aku sudah menemukan dia. Aku bahagia," ungkap Elena  menangis lalu memeluk Liana. Liana yang tidak paham hanya bisa menepuk pelan pundak Elena.


"Kali ini kau akan hidup lebih lama, aku tahu ramuan yang akan menyembuhkan mu. Galen, kau adalah sahabat terbaik ku juga jadi aku tidak akan diam saja setelah ini. Terima kasih banyak tuhan," batin Elena tersenyum dalam tangisnya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘