The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 50 Manisan buah.



Tok tok tok


Seseorang mengentuk jendela kamar asrama Elena, Elena yang belum tidur pun membuka jendela kamar. Di luar sana ada Arthur yang membawakan Elena beberapa kotak berisi manisan.


"Untuk mu dari festival," bisik Arthur membuat Elena tersenyum kecil, "Aku tidak menemukan mu di festival jadi aku bawakan, manisan buah dari hasil panen kita."


"Padahal kau tidak perlu melakukan hal ini. Tapi terima kasih, aku sangat menghargai ini," ucap Elena menerima kotak manisan itu.


"Yang lain sudah tidur. Kau belum tidur?" tanya Arthur mengintip ke dalam kamar.


"Ini kamar wanita, kendalikan kepala mu." Elena mendorong kepala Arthur menjauh, "Aku bukannya belum tidur, hanya terbangun saja."


"Maafkan aku. Bagaimana jika kita makan manisan itu sambil minun teh? aku juga belum mengantuk jadi aku akan temani. Mau kan?" 


"Kau mau minum teh. Tapi tidak ada air panas, memaksa air di waktu selarut ini aku tidak mau. Kita makan manisan buah saja."


"Apa pun itu selama bersama mu tidak masalah."


"Jangan menggoda ku. Pergilah ke depan aku akan menyusul." Elena menutup jendela kemudian ia pergi menyusul Arthur.


Di depan mereka duduk sambil bercerita banyak hal, untuk sesaat mereka menjadi sangat dekat itu juga karena sikap Arthur yang sangat ramah dengan orang lain.


*****


Keesokan harinya Louis resmi menjadi murid menara bagian luar, ia menjadi murid paviliun petir karena baginya keahliannya sebagai ahli ramuan sudah cukup hebat.


Banyak wanita dari pavilliun petir yang kagum dengan Louis, selain tampan dia juga sangat hebat. Ia dapat memahami atau menguasai pelajaran hanya dalam sekali penjelasan dari gurunya.


Ia tidak sadar dirinya itu telah menarik hati putri kaisar barat, yakni Odelia Shaquille. Wanita yang terkenal angkuh itu jika sudah menginginkan sesuatu atau seseorang maka ia akan mengklaim sebagai miliknya, jangankan ada yang berani merebut bahkan jika hanya berdiri di samping saja Odelia akan membunuh orang itu.


Ketika waktu makan siang selesai semua murid mendapatkan waktu istirahat selama satu jam, pada jam istirahat ini Louis ingin mencari Elena. Tempat tujuannya sudah pasti karena hanya ada dua tempat di mana dia bisa menemukan Elena.


"Louis." Odelia tiba-tiba menggenggam tangan Louis, baru saja Louis membuat rencana yang sempurna malah di kacaukan.


"Ada apa?" tanya Louis melepaskan tangannya dari genggaman Odelia.


"Apa baru saja kau melakukan penolakan terhadap Odelia?" 


"Katakan saja apa yang kau butuhkan dari ku karena aku sibuk."


"Murid baru seperti mu sibuk untuk apa? apalagi sekarang jam istirahat jadi waktunya bersantai. Bagaimana jika kita duduk bersama untuk menghabiskan waktu? aku ingin mengenal mu lebih jauh."


"Proses perkenalan sudah di lakukan, sebaiknya kau jangan buang-buang waktu ku."


"Louis. Aku ini kakak seperguruan mu, bicara yang sopan pada ku."


"Berhentilah bicara dengan nada lembut dan mendayu-dayu, kak. Karena aku tidak punya waktu untuk mu, permisi." Louis langsung pergi begitu saja meninggalkan Odelia.


"Ya ampun. Di sini ada yang sedang berbunga-bunga pada pria yang tidak mencintainya," sindir Isabella, dia adalah tunangan Arthur.


"Apa maksud mu berkata seperti itu putri baron? kau lupa akan posisi mu?" tanya Odelia.


"Ayolah Odelia, jangan mencoba menghina ku dengan posisi ku terus. Aku adalah tunangan Arthur, jangan lupa akan hal itu. Tapi aku ke mari bukan untuk itu, kau tahu kan aku mendukung mu jika kau memang ingin Arthur hanya saja sepertinya ada wanita lain yang sudah menarik hati Arthur."


"Menarik hatinya? konyol. Memangnya siapa yang lebih menarik dari keturunan dewi cinta seperti ku?"


"Irene Castiello dari kelompok murid terbuang pavilliun kami. Sebenarnya aku sudah pernah memberikan dia pelajaran. Hari itu aku membuat pengawas keluar dari halaman belakang, dan tugasnya di gantikan oleh Iris adik mu itu. Lalu aku mengosongkan tong air mereka agar mereka di hukum oleh Iris karena tidak menyiram tanaman herbal. Sayangnya mereka tidak di hukum entah bagaimana mereka bisa mendapatkan air."


"Kenapa juga harus Iris yang menghukum mereka? seharusnya kau katakan pada ku agar aku bisa mencabik-cabik wanita bernama Irene itu. Ya ampun, kau tidak berguna."


"Hei hei hei, jangan salahkan aku. Kau saat itu sibuk, apa kau tidak ingat kau pergi keluar daratan waku itu. Aku sebenarnya ingin mengawas mereka itu hanya saja aku tidak sekejam kalian berdua, dalam hukum menghukum kalian para keturunan kaisar yang ahli."


"Kalau begitu kau buat rencana baru. Atau biar aku saja, kebetulan aku punya banyak baju yang harus di cuci. Kirim surat permintaan pada ketua pavilliun mereka jika tempat penyucian kekurangan orang," ucap Odelia sangat menantikan kedatangan Elena. Isabella pun membantu untuk hal itu.


*****


Ernest marah besar saat dia tahu kalau sahabatnya pergi tanpa mengatakan apa pun, dan ia juga marah karenan Sonia hanya diam saja tanpa menahan mereka untuk pergi.


"Baguslah pesta penyambutan itu di lakukan oleh ibu, jika wanita ini yang melakukannya maka mereka akan pergi setelah mereka melihatnya. Buktinya mereka pergi saat kita meninggalkan mereka dengannya," ucap Jovanka memanfaatkan amarah Ernest untuk menyudutkan Sonia.


"Bibi nama ku Sonia bukan wanita ini. Lagi pula aku tidak melakukan apa pun, kami hanya bicara lalu mereka pergi ke kamar mereka dan keluar membawa tas," jawab Sonia.


"Kau pasti telah melakukan sesuatu atau mengucapkan hal yang salah saat bicara atau ini tidak akan terjadi."


"Ayolah bibi. Semua yang aku lakukan selalu salah dimata  bibi, bagi bibi tidak ada wanita yang lebih sempurna dari Elena." Sonia tidak bisa diam karena ia tahu apa keinginan Jovanka dari perdebatan ini.


"Itu memang benar." Kali ini Ernest yang bicara, "Elena sempurna bahkan lebih dari kata itu. Dia bisa membuat siapa saja betah bersamanya, bukan hanya itu keramahan Elena membuat banyak tamu kami nyaman sampai tidak mau meninggalkan kediaman ini. Tapi tamu pertama mu di kediaman ini langsung pergi, kau bahkan tidak bisa mengurus tamu lalu bagaimana dengan kediaman ini?"


"Ini bukan salah ku, hanya karena aku di sini …."


"Cukup. Setelah mencuri, pencuri tidak akan mengakui kesalahannya. Begitulah diri mu," cemoh Jovanka.


"Bibi." Teriak Sonia mengacungkan jarinya pada Jovanka, "Hati-hati dengan ucapan mu. Aku bilang ini bukan salah ku, dia bertanya tentang hubungan aku dan Elena setelah aku jawab. Dia terdiam lalu pergi. Lalu apa salah ku? dia bertanya dan aku jawab, itu salah?"


Ernest terkejut mendengar apa yang Sonia katakan, seketika pikiran Ernest mulai kacau memikirkan apa hubungan Elena dengan Galen. Saat itu juga ia teringat seberapa kesal Kenzi sampai berdebat dengannya hanya karena hubungan dia dan Elena di masa lalu. Ernest tidak mau memikirkan hal itu, sudah terlalu banyak masalah dalam hidupnya dan ia tidak mau menambah masalah lagi. Apa pun alasan mereka pergi Ernest tidak mau peduli lagi.


*****.


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘