The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 76 Sikap lancang Rafael.



"Apa ini ayahanda? ayah ternyata pilih kasih juga, atau ini khayalan ku saja. Ayah memuji kakak seolah kakak sudah menguasai dunia atas," sindir Alma yang mendapatkan tatapan tajam dari Blake.


"Aku tahu selancang apa diri mu. Lebih baik kau diam saja atau akan ku buat kau diam, jika lomba memperbesarkan masalah ada maka kau akan mendapatkan posisi pertama," balas Blake.


"Kakak yang hidup mendapatkan kasih sayang kedua orang tua selalu merasa orang seperti Alma yang hidup tanpa kasih sayang keluarga selalu berlebihan dalam menanggapi berbagai macam hal."


"Jangan membuat masalah Alma!"


"Selalu saja Alma, Alam yang terburuk. Benar kan? padahal Alma hanya ingin menunjukan kerja keras Alma pada kalian berdua. Tapi kalian tidak pernah menanggapinya dengan serius, ayahanda memuji Alma tanpa menoleh. Apa wajah Alma seburuk itu?"


"Kau ini bicara apa Alma? hentikan! kau akan menyakiti ayahanda."


"Kalian harmonis sekali. Saat kakak berkata secara berlebihan pada ku, tidak akan ayahanda katakan, hentikan Blake kau akan menyakiti Alma begitu pun sebaliknya. Kata para kakek empat pilar saat Alma bertanya apa kakak bahagia saat masih kecil, mereka berkata sangat bahagia. raja dan ratu sangat menyayangi putra mahkota bahkan selalu meluangkan waktu bersamanya, seharusnya Alma juga merasa demikian. Tapi itu hanyalah khayalan saja, seharusnya Alma mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari kalian berdua karena Alma tidak punya ibu. Kakak tidak diposisi Alma jadi tidak akan mengerti akan hal itu," tutur Alma. Ia menghela nafas lalu pergi dari hadapan mereka.


Kejadian itu membuat Alma tumbuh menjadi gadis sombong yang keras kepala, ia selalu memandang rendah siapa saja yang berada di bawahnya. Ia juga tidak segan-segan membunuh siapa saja yang tidak ia sukai.


Namun sekarang Alma merasa sangat dimanja dengan kasih sayang, pucat sedikit saja mendapatkan gendongan. Bahkan jika mereka akan makan bersama lalu Alma pamit pergi sebentar dari ruang makan, orang yang ada di meja makan menunggu dirinya barulah mereka makan bersama.


"Makanan biasa jika dimakan bersama akan terasa luar biasa," itu ucapan yang dia dengar dan selalu dia ingat dari Elena.


"Kita ke sana dulu." Yoluta menunjuk kedai camilan yang berada jauh dari mereka, "Teman-teman kami ada di sana."


"Tentu saja," jawab Elena di setujui oleh Liana.


******


"Keterlaluan!" Euros marah besar karena orang-orang dunia bawah kini berada di dekat Elena.


"Bahkan dewa kematian juga bergabung bersama mereka. Mereka tidak mungkin lupa jika ibu kota adalah tempat yang di lindungi dengan ketat oleh para dewa. Tapi mereka masih berani datang ke sana sampai mendekati Elena, mereka menantang kami rupanya," geram Euros.


"Rafael, pergi ke dunia manusia lalu temui dewa kematian. Buat dia membawa semua penghuni dunia bawah itu kembali pada tempatnya atau akan ada perang," perintah Euros di patuhi oleh sang putra.


Rafael pergi ke dunia manusia tepatnya ke tempat Hans berada, mereka berada pada kedai yang menjual barang untuk dibawah pulang sebagai buah tangan.


"Aku suka boneka rubah ini. Dia sangat manis," ucap Vivian memegang semua boneka rubah berukuran kecil.


"Ini cocok untuk mu." Hans menunjukan kalung dengan kepala rubah terbuat dari kayu sebagai liotinnya.


Mata Vivian menjadi berbinar saat melihat kalung itu. Tanpa berpikir lagi ia mengambil kalung tersebut dari tangan Hans, "Mata mu ternyata tau barang-barang indah. Kalau begitu hadiah untuk wanita bernama Elena itu kau saja yang pilihkan, dia pasti suka."


"Baiklah. Aku melihat barang bagus sebelah sana." Hans pergi ke bagian perhiasan kayu.


"Wanita itu berinkernasi dari Alden. Jadi dia mungkin suka …." Hans berniat meraih sebuah gelang. Namun Rafael malah mencekal tangannya, hal itu membuat raut wajah Hans menjadi datar.


"Kita perlu bicara," ucap Rafael, sikap lancang Rafael membuat Hans menjadi tidak nyaman, ia menggunakan kekuatannya sampai Rafael melepaskam genggaman tangannya pada Hans. Kekuatan kematian dari Hans membuat tangannya melepuh.


"Kau harus tahu siapa yang ada dihadapan mu, kau belum pantas bicara dengan ku," balas Hans.


"Ada pesan dari ayahanda ku. Dia meminta anda membawa kembali penghuni dunia bawah kembali ke tempat mereka, dan jangan berani mendekati calon avatar ayah ku lagi."


"Anda jangan menghina perintah dari ayah ku. Anda adalah penghuni dunia bawah, jika aku melapor maka kesatria suci akan menyeret kalian semua kembali ke … akh!" Rafael merasa sakit pada dadanya saat angin panas berhembus dari pintu masuk kedai, lebih tepat saat kaki Elena menapak di dalam kedai.


"Hei kalian! lihat ini adalah teman ku, Elena. Nama samarannya Irene." Yoluta memperkenalkan Elena yang berdiri menggendong Alma.


"Sial!" Rafael terpaksa harus mundur karena ia tidak bisa menahan tekanan yang ia sendiri tidak tahu berasal dari siapa.


Plak!


"Tidak berguna!" Euros menampar Rafael karena dia kembali tanpa membawa hasil yang ia inginkan.


"Pergi, ambil hukuman mu," perintah Euros, Rafael dengan perasaan sedih langsung pergi.


"Bukan hanya berada di dekat Elena. Tapi penghuni dunia bawah yang kotor itu berani naik ke punggung Elena, cih! mereka sudah melewati batasan," batin Euros pergi ke tempat pelatihan muridnya.


Sementara itu di sisi lain Hans terpaku menatap Elena, kekuatan gelap sangat besar ia rasakan dari Alma karena bagaimana pun juga Alma keturunan iblis. Namun kekuatan menakutkan tanpa banding ia rasakan dari Elena, baginya takdir Elena bukan hanya menjadi penguasa monster.


"Elena." Elena mengulurkan tangannya pada Hans membuat pria kematian itu merasakan adegan yang familiar, terutama wajah nakal Elena yang tersenyum manis padanya.


"Putri Rani," gumam Hans terdengar oleh Damian.


"Putri Rani?" Damian menatap wajah Elena lekat-lekat dan di sanalah ia melihat apa yang tidak ia sadari sejak lama. Kedua pria itu tenggelam dalam ingatan masa lalu


*****


Masa lalu Damian ….


Damian yang baru saja bertarung melawan kesatria suci mendapatkan luka berat pada tubuhnya, ia terbaring di tengah hutan saat musim dingin. Ia mengira hari itu akan menjadi hari terakhir ia melihat dunia.


Namun dugaannya salah, karena keesokan harinya dia masih bisa bangun dalam keadaan tanpa luka disebuah rumah tua. Dari luar rumah itu terdengar suara seseorang sedang menyanyi.


Damian diam-diam keluar dari kamar lalu mengintip siapa orang yang masih bisa bernyanyi dalam cuaca yang dingin, ternyata orang itu adalah Rani.


"Kau Rani kan?" tanya Damian. Terakhir kali keduanya bertemu di lembah naga 5 tahun lalu.


"Kau masih ingat aku rupanya. Lama tidak bertemu, Damian." Rani tersenyum manis pada pria itu.


"Karena kau sudah bangun maka tolong angkat semua kayu itu ke mari," ucap Rani menunjuk puluhan pohon yang baru saja ia tebang.


"Kayu basah untuk apa kau tebang. Itu hanya merepotkan bukan?" tanya Damian.


"Apanya yang repot saat ada kau. Kau kan bisa gunakan nafas naga untuk mengeringkan itu semua, ku serahkan tugas ini pada mu." Rani menepuk pundak Damian seraya beranjak pergi ke dalam rumah, Damian sudah tahu Rani memang memiliki sikap nakal jadi ia tidak akan marah atau heran lagi dengannya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘