
"Elena." Louis berniat menerobos masuk ke dalam portal. Namun, para penjaga langsung menghadang Louis.
"Maaf tuan. Anda harus menunjukan tanda izin dulu sebelum masuk barulah kami bisa membiarkan anda masuk," ucap salah satu penjaga pada Louis.
"Wanita tadi adalah teman ku, aku bersama mereka. Kalian lihat kan saat aku panggil dia menoleh, jadi biarkan aku masuk," balas Louis.
"Tuan, anak kecil saja bisa tau yang anda katakan itu tidak benar. Wanita itu hanya menoleh, jika dia teman anda maka dia akan berhenti lalu menunggu. Tapi dia tidak melakukan itu jadi anda salah, lagi pula saat ada orang berteriak dengan suara sekeras anda tadi maka siapa saja bisa menoleh."
"Tolong percayalah padaku. Aku tidak bohong wanita itu namanya Elena Abraham, kalian bisa cek dalam daftar izin."
"Tidak. Nama 2 wanita itu Nona Liana Manley dan Nona Irene Castiello. Tolong anda pergilah dari sini dan kembalilah jika anda memiliki izin masuk."
"Pergilah! biarkan kami bekerja." Para penjaga itu mendorong Louis menjauh dari area portal. Louis tidak bisa melawan karena sekarang ia berada di wilayah orang lain.
Louis berjalan sempoyongan dan duduk di sudut kedai kopi dengan tatapan kosong. Wajah Elena saat menatapnya lalu punggung Elena yang menghilang dalam portal terus terbayang dalam pikirannya.
"Dulu kau dan hati mu milik Ernest. Sekarang kau bukan lagi milik siapa pun. Tapi kenapa kau tidak memberikan aku kesempatan bahkan untuk sekedar berdiri di samping mu, takdir macam apa ini tuhan?" batin Louis.
Ia merasa tidak bisa melakukan apa pun, dan jika ia melakukan sesuatu maka semuanya akan sia-sia. Semakin dia dekat maka Elena akan pergi semakin jauh darinya, atau dia akan mendorong Louis menjauh.
"Tidak. Aku tidak harus begini, aku harus mendapatkan izin masuk ke dalam portal itu," batin Louis.
Louis baru saja merasa tertekan dan sedih sampai untuk berjalan saja sulit. Namun ia langsung bangkit, ia berpikir Elena bisa mendorong atau pergi menjauh karena itu hak Elena. Maka dia juga punya hak untuk pergi atau berada di mana dia mau, termasuk pergi ke sisi Elena.
Louis bergegas pergi mencari informasi tentang portal itu, dan cara masuk ke sana. Di Kekaisaran Ashraf ia pernah pergi ke menara hanya saja saat itu, ia pergi bersama dengan kaisar yang bisa langsung masuk tanpa izin. Jadi dia tidak tahu bagaimana cara masuk ke daratan dengan tanda izin, dan tempat untuk mendapatkan tanda itu.
******
Kediaman Ransom sedang sibuk karena pesta pertunangan sudah semakin dekat, Sonia dan Ernest bekerja sama menyiapkan semua yang mereka butuhkan untuk pesta pertunangan.
Jovanka menatap tajam Sonia yang berjalan ke sana ke mari memasang dekorasi ruangan, seharusnya itu menjadi tugas Jovanka yang Ernest serahkan pada Sonia.
"Dekorasi yang bagus," ucap Sonia berdiri di samping Jovanka.
"Apa yang kau lakukan di sini? menjauhlah!" perintah Jovanka.
"Ayolah bibi. Jika ingin melihat dekorasi sepenuhnya maka kita harus melihat dari tempat yang tinggi, jadi aku melihat dekorasi kami dari lantai 2. Itu tidak masalah bukan."
"Lantai 2 sangat besar, kau bisa melihat aula dari segala sisi. Kenapa harus di sampingku?"
"Karena di samping mu terlihat lebih jelas. Bukankah jika mengawasi ku kau juga suka dari sudut ini?"
"Kau semakin lancang rupanya. Apa kau berpikir dengan cara mu membodohi Ernest bisa membuat mu berada di atas awan? aku beri kau satu nasehat, jangan terlalu bangga dengan apa yang akan kau raih karena bisa saja dalam jeda waktu 1 detik semuanya bisa saja berubah tidak sesuai keinginan mu."
"Kau tidak tahu Sonia di mana posisi mu. Kau dan aku berbeda sangat jauh dalam hal posisi atau pengaruh bagi Ernest, jika aku bisa membuat dia membenci mu selama 4 tahun maka memisahkan dia dari mu sekarang hanya butuh 1 menit. Jadi baik-baiklah dengan ku atau kau akan berakhir di gerbang kediaman ini," ancam Jovanka yang tersenyum pada Sonia.
"Ibu ibu ibu." Ernest berlari menaiki tangga ke lantai 2, ia terlihat sangat bahagia mendekati Jovanka.
"Ada apa?" tanya Jovanka.
Ernest menggenggam erat tangan Jovankan, "Dia datang."
"Dia siapa? apa Elena?"
"Bukan Elena. Tapi, aku berharap Elena juga datang. Sayangnya yanh datang adalah Galen, tentu saja aku memintanya. Dia sudah sampai di portal ketiga. Mungkin dia akan sampai besok pagi di sini."
"Galen? apa itu teman mu dari luar negeri?" sela Sonia menarik tangan Ernest dari Jovanka, "Itu bagus. Aku akan menyiapkan sebuah acara penyambutan yang megah untuknya, kita harus menyambutnya kan."
"Itu memang bagus. Tapi karena ini tamu penting aku ingin semua diatur oleh ibu, selama ini acara penyambutan tamu itu adalah kehormatan bagi ibu," jawab Ernest melepaskan tangannya dari genggaman Sonia.
"Ernest. Aku adalah calon tunangan mu, aku sudah menyiapkan semua keperluan untuk pesta jadi aku bisa melakukan penyambutan itu. Untuk apa meminta ibu melakukan itu jika ada aku di sini?"Ā
"Sonia, kau bukanlah anggota keluarga kami jadi itu bukan tanggung jawab mu. Tunangan saja tidak bisa melakukan penyambutan ini, apalagi kau hanya calon tunangan. Kau ku izinkan menyiapkan pesta kita karena itu untuk pertunangan kita, yang lebih dari itu kau tidak bisa."
"Sudah sudah sudah." Jovanka menyela pembicaraan mereka, "Kita diskusikan saja dulu kau ingin seperti apa pesta penyambutan nanti, ayo."
Jovanka menarik Ernest kemudian pergi bersamanya, mereka menuju ruang kerja Jovanka. Sonia sangat tidak senang dengan ucapan Ernest tentangnya, selama ini dia mengira telah berhasil meracuni Ernest. Tapi ternyata tidak, ia tetap mengutamakan Jovanka dalam segala hal penting.
*****
Dalam pekerjaan Asya masih tidak bisa fokus karena kemarin ia berjalan mengelilingi Kota Seribu Bunga, ia melakukan itu sambil mencari Elena sayangnya ia tidak menemukan satu pun wanita yang mengeluarkan aura pemanggil.
Pemanggil adalah orang yang memiliki kekuatan langkah, untuk menemukan orang-orang itu butuh waktu yang lama. Kecuali di daratan menara, mereka tidak kekurangan orang dengan kekuatan itu karena di sana semua seimbang.
Penduduk daratan memiliki kekuatan murni karena daratan menara berada dekat sekali dengan dunia atas, jadi di sana terkumpul orang-orang dengan kekuatan langkah. Tapi mereka menganggap tidak ada orang dengan keahlian langkah di sana, dan saat murid menara pergi keluar dari daratan maka mereka akan menjadi orang yang sangat di segani. Namun tidak semua orang bisa keluar dari daratan, terutama penduduk aslinya. Mereka akan keluar dari daratan kecuali, terjadi hal buruk atau mendapatkan surat permohonan bantuan dari luar.
"Aku berharap wanita itu tidak mendapatkan undangan masuk ke menara atau mendaftar masuk ke sana. Jika saja Elios tidak berulah maka semua akan baik-baik saja, dia bisa menjadi pemanggil suci dan tinggal di dunia atas bersama ku juga. Tapi itu bukan intinya sekarang, kekuatan gelap reinkarnasi Alden yang dirantai tidak terbuka. Memikirkan itu semua sangat menyebalkan!" batin Asya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berartiš