
Elena terdiam menatap Galen, sementara Galen tertunduk malu ia tidak kuasa menatap wajah Elena.
Melihat Galen sekarang membuat Elena teringat akan Arthur, pria yang pernah menjadi teman dekatnya itu. Dia juga pernah ada di posisi yang sama dengan Galen, dan saat Elena menolak dirinya pria itu menghilang tanpa jejak. Ia sampai keluar dari daratan agung, tanpa mengatakan apa pun maka dari itu Elena berpikir keras untuk menolak Galen. Tapi, ia harus melalukan hal itu.
"Tapi kenapa?" tanya Elena membuat Galen semakin malu, "Memang tidak ada alasan banyak untuk jatuh cinta. Tapi kenapa harus aku? kau sendiri tahu kan sekarang aku adalah tunangan seseorang."
Galen menatap Elena dengan raut wajah kebingungan, "Aku tahu kau memang sudah bertunangan. Tapi kau tidak cinta pada pria itu kan? jadi apa salahnya kau beri aku kesempatan untuk membuat mu jatuh cinta pada ku."
"Tidak bisa. Aku menjadi tunangan pria itu, lalu jika aku memiliki hubungan dengan mu maka apa bedanya aku dengan Ernest? tolong maafkan aku."
"Jangan meminta maaf pada ku. Aku hanya mengatakan apa isi hati ku, maaf karena terlalu buru-buru. Aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi setelah ini. Aku harap kita bisa berteman."
"Tentu saja, kita akan tetap berteman," jawab Elena.
"Teh khusus buatan Kenzi sudah datang." Kenzi datang membawa nampan berisi teko dan 3 cangkir teh, ia bergabung dan minum teh bersama mereka.
*****
Setelah 5 jam berada di kediaman Galen, Elena memutuskan untuk kembali ke daratan menara agung. Karena di kota ini tidak ada portal jadi ia pulang harus memakai kereta.
3 hari kemudian semua murid bintang agung kembali ke daratan menara, dari semua murid hanya Elena yang tidak membawa hasil apa pun.
Keenam bintang agung membawa banyak barang berharga, bahkan Louis membawa elf wanita bersamanya. Ia jatuh ke dunia bawah tepatnya di wilayah para monster, ia menyelamatkan elf itu dari tahanan para monster lalu membawa ia kembali.
"Maafkan aku." Elena membungkuk di hadapan semua murid serta para tetua dan guru.
Keenam bintang agung merasa ada yang aneh dengan Elena, ia terlihat kurang bersemangat hal itu membuat Louis merasa cemas.
"Elena, apa kau baik-baik saja?" tanya Louis ingin menyentuh tangan Elena. Namun elf itu malah mencegahnya, ia memeluk erat tangan Louis.
"Siapa dia?" tanya Elena dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Louis, ayo pergi. Aku lapar, ayo," rengek elf itu, ia terus menempel pada Louis.
"Elena." Kavana memegang pundak Elena, "Ayo kita pergi istirahat, kau terlihat lelah."
"Iya, ayo." Elena langsung menurut begitu saja membuat Louis cemburu. Kavana sendiri tersenyum karena ia mengambil hati Elena saat Louis tidak bisa berbuat ala-apa.
Melihat Elena di bawah pergi darinya memicu amarah dalam hati Louis, ia tidak akan mengampuni siapa saja yang berusaha merebut Elena terutama Kavana.
Dalam perjalana ke asrama Elena menghentikan langkah kakinya lalu menepis tangan Kavana dari pundaknya, "Cukup sampai di sini saja, aku ingin sendirian. Kau jangan melangkah lebih jauh lagi karena ini asrama wanita, kau tau kan seperti apa pengawas kami."
"Tapi Elena, kau terlihat tidak sehat. Jika kau pergi ke mana pun sendirian nanti …."
Sesampainya di dalam kamar Elena berdiri di dekat jendela, setelah 3 hari ia masih saja memikirkan ucapan Teodora.
"Elena." Liana masuk ke dalam kamar Elena, melihat Liana masuk membuat sikap manja Elena kambuh. Ia mendekati Liana lalu memeluknya.
"Kau kenapa? sebenarnya apa yang terjadi selama kau pergi?" tanya Liana mengusap punggung Elena. Elena melepaskan pelukannya dan menarik Liana agar duduk bersamanya di atas ranjang.
"Aku bertemu dengan seseorang, ia mengenali ku sebagai anak dari temannya karena wajah ku sangat mirip dengan wajah temannya itu. Ia sangat yakin karena ada beberapa hal dalam diri teman yang sama dengan ku," jawab Elena mengingat kekuatan avatar dewi ramuan dalam tubuhnya.
"Lalu kau terus memikirkan itu sampai tidak bersemangat selama beberapa hari terakhir?"
"Ya. Kak, siapa saja pasti akan berpikir keras tentang itu. Aku tidak meragukan kedua orang tua ku. Tapi bagaimana jika aku memang benar bukan anak mereka?"
"Apa yang kau katakan? sadarlah Elena. Semua yang kau pikirkan itu tidak benar, rasa sayang mereka pada mu itu murni siapa saja yang melihat itu pasti tahu jika kalian adalah keluarga sungguhan."
"Mungkin ada kebenaran yang tersembunyi, bahkan kedua orang tua ku tidak tahu kebenaran itu. Kau tahu saat masih kecil banyak orang bilang aku berbeda dengan kedua kakak ku, bahkan saat dewasa wajah ku tidak sama dengan wajah ayah ibu."
"Hei!" Liana memegang wajah Elena agar pandangan Elena tertuju padanya, "Anak-anak bisa saja memiliki wajah seperti bibi, paman, atau keluargannya yang lain. Wajah Leon tidak mirip dengan ku karena kata orang tua kami wajahnya mirip nenek kami, jadi lupakan apa yang orang aneh itu katakan tentang mu. Ya?"
"Ya, terima kasih kak." Elena terpaksa harus tersenyum di depan Liana. Namun ada ketidak puasan dalam hati Elena akan ucapan Liana, kalau saja itu hanya ucapan orang biasa akan Elena lupakan, hanya saja ini ucapan seorang dewi.
"Jika dia memanggil ku kak maka artinya pikirannya sedang kacau, lagi pula jarang sekali mendengar kata kakak dari mulut anak ini," batin Liana membelai rambut Elena.
Karena masih banyak pekerjaan Liana harus meninggalkan Elena sendirian. Tapi ia tidak merasa cemas lagi setelah melihat senyuman di wajah Elena, dan saat Liana akan menutup pintu kamar ia melihat Elena murung lagi.
"Kenapa dia harus memikirkan itu lagi," batin Liana menghela nafas lalu menutup pintu kamar.
Setelah berpikir panjang Elena tetap merasa tidak tenang, ia menulis surat dan meletakan suratnya di atas ranjang setelah itu barulah Elena pergi dari kamarnya. Ia pergi ke tempat tepat untuk mendapatkan jawaban yang akan membuat semua gangguan dalam pikirannya hilang.
Baru beberapa saat setelah Elena pergi Louis datang ke kamarnya, karena tidak mendapatkan jawaban saat mengetuk pintu Louis pun langsung masuk ke dalam kamar.
Di atas ranjang Louis menemukan surat dari Elena, tidak lama Liana kemudian masuk. Louis memberikan surat itu pada Liana, melihat kecemasan di wajah Louis, Liana jadi ingin mengerjainya sedikit.
Liana berbohong pada Louis jika Elena pergi karena merasa kecewa dengan Louis yang kembali membawa wanita lain, ia menjadi sangat marah jika mengingat wanita itu nemempel pada Louis. Ia merasa telah di khianati dua kali oleh tunangannya sendiri, mendengar itu Louis merasa sangat terguncang. Ia menyesal karena lebih memperhatikan elf itu dari pada Elena, padahal jelas sekali saat itu Elena terlihat tidak baik dan dia malah membiarkan Elena pergi bersama Kavana.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘