The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 117 Datang ke kediaman Alfred.



Elena berpikir selama beberapa saat, ia juga tidak mau anak-anak lain kehilangan orang tua mereka karena perang sama seperti dirinya.


"Kalau pun aku setuju, para dewa pengikut setia raja kalian tidak akan diam saja. Mereka pasti akan menyerang," balas Elena memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.


"Anda tenang saja. Ada beberapa dewa kuat yang menolak perang ini, kekuatan kami  sudah lebih dari cukup untuk menekan pengikut raja kami, lagi pula mereka terlalu lemah. Tapi untuk menyerang raja kami, saya akan membantu anda masuk ke kediamannya dan kalau bisa sebelum hari ketiga dari hari ini karena bendera perang di tuntut olehnya berkibar sebelum 3 hari dari sekarang," jawab Ghaisan.


"Beri aku waktu sampai petang besok untuk memikirkan rencana ini. Aku janji besok malam kita akan menyusup ke kediamannya," balas Elena. 


Kini Ghaisan dan para Valkyrie serta dewa-dewa yang menolak perang bisa bernafas lega.


Sepeninggalnya mereka Elena masuk ke perpustakaan lagi, dan memanggil Alden agar ia bisa masuk ke ruang dimensi sang ayah.


"Ayah." Elena berbaring dan menjadikan paha Alden sebagai bantalnya, "Apa yang harus aku lakukan? ayah lihat semuanya tadi kan?"


"Untuk apa bertanya pada ayah jika kau sudah memutuskan segalanya, ikuti saja kata hati mu dan kami semua akan mendukung mu," jawab Alden membelai rambut Elena.


"Ini akan sangat berbahaya. Apalagi banyak manusia yang percaya pada raja dewa, bukti kami mungkin tidak cukup untuk menguatkan hati semua manusia jika raja dewa itu buruk."


"Bukti terbesar ada diruang bawah tanah kediaman Alden."


"Benarkah? apa bukti itu? kenapa ayah tahu? kata ayah, ayah tidak bisa pergi jauh dari dari ku karena jiwa ayah terikat dengan ku."


"Tapi kau pernah ke sana kan?"


"Ah! benar juga. Jadi apa buktinya?"


"Jasad ibu mu," singkat Alden membuat Elena terdiam.


Elena meremas pakaian Alden dan bergumam, "Seperti apa wajah ibu?"


"Seperti wajah mu. Kalian sangatlah mirip, sangat cantik, sederhana, dan nakal. Sayangnya ibu mu wanita berhati lembut sekali, dia tidak pernah marah seumur hidupnya. Percaya tidak?"


"Tidak. Karena aku pemarah, jadi ibu pasti juga pernah marah."


"Bodoh! kau bukan hanya putri Rani, kau juga putri ku. Aku sangat pemarah apalagi jika Rani berulah."


"Ayah aku punya rencana. Mau dengar tidak?"


"Tentu saja mau."


Elena pun mengatakan semua rencananya pada Alden, rencana ini sangat beresiko bagi Alden karena walau bagaimana pun juga Alfred bukanlah orang semudah itu untuk diatasi. Namun Alden tetap setuju dengan rencana itu, ia percaya putrinya bisa melakukan apa saja seperti wanita yang ia cintai.


*****


Saat hari sudah petang mereka semua berkumpul diruang rapat untuk membicarakan rencana Elena, ada beberapa yang tidak setuju karena Elena hanya akan pergi sendirian ke sana. Elena tetap menyakinkan mereka jika dia sudah di dalam kediaman Alfred maka dia akan memanggil mereka, itu pun jika kalau keadaannya terdesak sebab orang dunia bawah akan cepat ketahuan jika berada di dunia atas. Elena tidak mau mengambil risiko tertangkap sebelum bertindak.


"Setuju." Rencana Elena di terima dengan senang hati oleh semuanya. Malam ini mereka akan bergerak.


Sebelum ke dunia atas Elena memasang kristal rekaman dibajunya untuk merekam semua yang terjadi di dalam kediaman Alfred, lalu dengan kekuatan Auretta rekaman itu akan ia sebar luaskan ke semua penjuru dunia manusia, tentu saja ia menggunakan volume ekstra.


Sebelum pelayan itu pergi, Ghaisan minta dia untuk mengosongkan kediaman. Alasanya untuk mencegah adanya penguping sebab raja dewa akan memulai rapat rahasia, dan pelayan itu hanya mengangguk.


"Selama datang, Ghaisan. Bagaimana? apa kau sudah siap mengibarkan bendera perang? aku sudah tidak sabar rasanya untuk memenangkan perang ini, mengambil kembali Jolycia ku, dan membunuh Elena. Lupakan dulu tentang itu, lihatlah strategi perang ku. Mendekat!" Perintah Alfred pada Ghaisan.


"Apa anda yakin? alasan perang ini mungkin ti …."


"Diamlah! mau berapa kali aku katakan, perang akan terjadi dan itu harus. Siapa yang peduli dengan alasan perang ini, aku hanya ingin semua keinginan ku terwujud," potong Alfred.


"Perang akan terjadi di dunia manusia, untuk itu kita harus memberikan alasan yang tepat atau para penguasanya tidak akan terima."


"Hahahahaha. Aku adalah raja para dewa, siapa yang berani menentang ku akan tiada termasuk para manusia bodoh itu. Jika Jolycia kembali atau sih Elena itu menyerahkan diri pada ku, maka aku dengan senang hati akan membatalkan perang ini," jawab Alfred. Ia sukses mengejutkan seluruh manusia yang melihat rekaman itu.


"Elena Abraham di sini." Elena melepaskan penutup wajahnya membuat semua orang yang mengenal Elena terkejut.


"Tidak mungkin. Elena kita …." Liliana syok berat melihat rekaman diatas langit itu.


"Ka-kau Elena? benarkah?" Alfred bergegas meninggalkan meja tempat ia menyusun strategi, dan langsung mendekati Elena.


"Wajah ini, mata ini, hidung ini, dan rambut ini sangat mirip dengan Rani. Kau adalah Rani ku, bodohnya aku berpikir kau reinkarnasi penguasa monster." Alfred sangat bahagia lalu ia menatap Ghaisan, "Keluarlah! keberadaan mu hanya akan mengganggu waktu ku dengan Rani."


"Maaf tuan ku." Elena mundur selangkah, "Saya bukan Rani, saya Elena Abraham."


"Ya ya ya, aku tahu." Alfred nenyentuh pipi Elena, lalu ia menghirup bau dari rambut Elena, "Tidak ada bau kekuatan gelap, kau pasti pengganti Rani yang tuhan kirim untukku. Jiwa ku bergetar karena mu."


"Beraninya dia menyentuh calon menantu ku. dewa sampah!" Kaisar Ashraf sangat kesal melihat rekaman itu.


"Ku bunuh dia," geram Louis, dan Luca.


"Elena, apa dia akan baik-baik saja?" Sonia merasa cemas melihat semuanya.


"Tenanglah, selama menjadi temannya aku tahu dia gadis yang kuat. Jangan terlalu banyak berpikir karena kata ibu itu tidak baik bagi mu yang sedang menyusui," jawab Arthur.


"Dewa macam apa itu, aku sebagai teman bahkan takut untuk sekedar menyentuh tangan Elena. Aku sangat kesal." Galen mengamuk dan Kenzi harus menenangkannya.


Alfred menyandarkan kepalanya di pundak Elena, "Menikahlah dengan ku, kau akan menjadi ratu para dewa dan di hormati semua manusia. Tuhan mengirim diri mu untukku."


Elena mendorong kepala Alfred dari pundaknya, lalu ia melempar begitu banyak dokumen serta foto-foto diatas meja.


"Anda bukan hanya kurang sopan, tapi juga sangat buruk. Apa di mata anda hanya keegoisan anda yang harus diutamakan, dan semua orang harus mengikuti anda seperti orang bodoh. Kami percaya anda orang yang hebat, anda adalah dewa paling sempurna di mata semua manusia. Apa anda tidak sakit hati harus mengkhianati itu semua? anda bahkan mengurung, menyakiti, dan terus menerus memaksa Jolycia untuk mengikuti perintah anda. Anda juga telah menuduh saya sebagai reinkarnasi raja monster, apa anda punya buktinya?" tanya Elena. Ia membuat Alfred menjadi tidak senang.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘