
Kerajaan Monster mengalami keributan besar sebab mereka mengira ratu mereka hidup kembali setelah mereka melihat Elena, kedatangan Elena bisa langsung Damian dan yang lainnya ketahui.
"Elena, kenapa datang ke mari?" tanya Jolycia. Yoluta bersama yang lain menyerahkan penyambutan Elena padanya, mereka takut akan dikenali oleh Elena.
"Aku datang mengunjungi mu. Hebat bukan kau ternyata adalah putri raja monster, aku terkesan sekali," jawab Elena. Jolycia hanya bisa tersenyum canggung.
"Mereka di mana? apa bersembunyi?" batin Elena tidak melihat batang hidung Yoluta bersama yang lain.
Elena menghela nafas lalu ia menggunakan kekuatannya, "Memanggil, Yoluta."
Lingkaran pemanggil Elena membawa Yoluta yang sedang bersembunyi ke hadapannya, mereka semua terkejut karena Elena mengingat mantra pemanggil Yoluta.
"Lama tidak bertemu, Yoluta. Kau dan teman mu mau bersembunyi sampai kapan? hm?" Elena tersenyum manis.Walau pun cantik ia tetap menakutkan sampai mereka semua terpaksa harus menunjukan diri.
"Aduh. Aku sudah merepotkan kalian untuk menemui ku, tidak masalah kan?" tanya Elena saat mereka semua keluar satu persatu.
"Jadi, kalian akan menceritakan kebenaran tentang identitas ku atau tidak? aku kesal karena hanya mengetahuinya dengan cara sembunyi- sembunyi," desak Elena membuat suasana semakin tidak menyenangkan.
Damian menceritakan semua kejadian dari kelahiran Elena padanya, masing-masing dari mereka bercerita satu persatu apa yabg mereka tahu. Elena mendengar segalanya dengan baik, ada beberapa bagian cerita yang membuat hati kecil Elena terluka.
"Ternyata orang-orang dunia bawah tidak buruk. Ayah yang saat itu bertemu dengan ku bukan orang yang jahat, lalu kenapa mereka dibenci? walau pun banyak monster tanpa akal menyerang dunia manusia, aku merasa itu bukan disengaja oleh penguasa mereka," batin Elena.
Elena juga menceritakan awal dari ia mengetahui segalanya, ruang potret, pertemuan dengan Alden, dan mengawasi Elios. Mereka semua merasa lega sebab Elena menerima semua kenyataan itu.
"Jadi, aku akan berlatih di sini mengasah kemampuan ku. Kalian tidak keberatan kan?" tanya Elena.
"Tentu saja, jika harus menjadi guru anda maka kami merasa sangat terhormat. Tapi bagaimana dengan kehidupan pribadi anda?" tanya Damian.
"Aku melarikan diri dari sana. Jangan katakan aku ada di sini jika Elios bertanya, karena cepat atau lambat dunia manusia harus aku tinggalkan. Lupakan itu dulu! kita harus mempersiapkan diri karena musuh utama kita bukan orang sembarangan," jawab Elena. Tekadnya membuat yang lain bersemangat.
"Aku akan membalas perbuatan mu pada Ibu, ayah, dan Jolycia. Jika bukan karena kau kami tidak akan terpisah, kau tunggu saja nanti," batin Elena.
*****
Rafael duduk menunggu Grace datang, ia memenuhi janji untuk menemui Grace di kota yang paling dekat dengan protal ke dunia bawah.
Begitu Grace tiba di kota itu, Grace memberi isyarat untuk menuju keluar kota karena dia tidak mau ada di diantara para manusia. Rafael sendiri telah membuat rencana besar yang mungkin akan membahayakan nyawanya.
Sebelum pergi Jolycia tidak mengizinkannya mengambil rencana ini. Namun ia sendiri tidak bisa diam saja, ia harus melakukan sesuatu sebelum perang tiba.
"Apa yang inginkan sampai meminta ku ke mari? aku punya banyak kegiatan hari ini," gerutu Grace.
Rafael mengeluarkan mahkota putri malu dari dalam tasnya, "Aku ingin membahas tentang mahkota ini. Setahu mu apa yang paling raja dewa benci dari wanita?"
"Hah?" Grace mengernyit kemudian ia mulai berpikir, "Tuan ku benci wanita kotor apalagi wanita penghibur, kenapa? apa kau ingin mengembalikan tunangan mu pada tuan ku? jika iya maka kau harus menyertakan kepala mu."
"Bukan itu, lagi pula pria mana yang akan memberikan wanitanya pada orang lain."
"Lalu? apa mau mu?"
"Mahkota ini milik seorang wanita penghibur terkenal pada masanya, banyak pria mengincar wanita itu bahkan demi mahkotanya saja para pria akan bertarung mati-matian demi mendapatkannya. Dia yatim piatu, tapi tinggal di rumah bunga itu bersama adiknya. Saat dia meninggal adiknya pergi membawa mahkota sang kakak dan menghilang tanpa jejak."
"Tentu ada hubungannya. Salau satu penggila wanita itu mengenali mahkota ini, jika mahkota ini memang milik wanita penghibur itu maka kau adalah adiknya. Apa aku salah?"
"Hmph! kalau iya, memangnya kenapa? wanita kotor itu sudah tiada 200 tahun lalu, siapa yang peduli padanya."
"Ada, tuan mu. Aku akan membawa mahkota ini pada tuan mu, lalu mengatakan padanya jika salah satu orang setianya adalah pengkhianat. Dia adalah adik dari wanita penghibur nomor satu, coba tebak bagaimana reaksinya?"
"Rafael, mari kita bicarakan ini baik-baik. Mahkota itu jika kau jual harganya bisa mencapai 100.000 keping emas, aku tidak ingin membuat masalah dengan mu. Kita teman kan?"
"Tidak. Kita tidak lagi berteman sejak kau mengkhianati aku, aku akan mengatakan kebenaran ini pada tuan mu," ancam Rafael. Dia memang nampak berani. Tapi sebenarnya, Rafael sangat ketakutan.
Grace pun mengeluarkan kekuatannya, "Maka aku akan membungkam mu lalu menghancurkan mahkota itu."
"Sial. Sumpah itu kapan akan bekerja," batin Rafael. Ia sengaja membuat Grace marah dengan alasan mahkota itu, agar sumpahnya bekerja lalu tubuh Grace akan meledak.
"Ada apa dengan wajah mu? haruskah aku meledak karena berniat buruk pada mu dengan alasan mahkota itu? sayang sekali, sumpah itu tidak akan bekerja, karena aku sudah mematahkannya," ungkap Grace membuat Rafael tersentak.
"Kenapa Rafael? kau takut?" tanya Grace melangkah secara perlahan mendekati Rafael, Rafael tidak ada pilihan lain selain menjaga jarak dari Grace.
"Aku tidak bisa takut, kelak di masa depan bagaimana aku akan melindungi Jolycia. Kuatkan diri mu Rafael," batin Rafael.
Rafael menarik nafas dalam-dalam, lalu ia menutup mata, "Kekuatan Elemen, pusaran pemusnah."
Pusaran angin dengan ukuran besar berputar dari tempat Rafael ke arah Grace, serangan itu cukup kuat. Namun untuk seorang dewi dengan tingkat kekuatan berbeda, kekuatan Rafael masih belum cukup bahkan untik sekedar mengores pakaiannya.
"Sekarang giliran ku." Grace menyalurkan kekuatannya lalu membentuk kekuatan itu menjadi elemen petir.
"Datanglah petir peng … Akh!" tiba-tiba seseorang menghantam leher Grace dengan kakinya, rasa sakit dari hantaman itu membuat mata Grace sampai memutih.
"Salam kenal, Rafael. Alma datang untuk membantu mu atas permintaan sahabat ku." Alma bersemangat sama seperti biasanya.
"Sahabat mu?" Rafael merasa Alma tidak asing, setelah mengamati Alma cukup lama. "Kau kan putri raja iblis, kan?"
"Benar, 100 poin untuk mu," jawab Alma.
"Ini bukan kuis," kesal Rafael.
"Baiklah." Alma memikul Grace yang sudah tidak sadarkan diri di pundaknya, Rafael cukup terkejut karena kekuatan fisik Alma sangat besar padahal ia gadis yang imut.
"Akhirnya Alma bisa membantu Elena, sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Alma harus mandi lagi sebelum pergi menemui Elena," batin Alma yang dipenuhi kebahagian.
Elena meminta Alma untuk datang karena Jolycia merasa cemas pada Rafael, sungguh keputusan yang tepat membiarkan Alma datang. Bahkan setelah mendapatkan surat dari Elena, Baal, Blake, dan Alma berebutan ingin pergi membantu. Alma menjadi tidak senang padal mereka setelah mengenal Elena, karena sekarang mereka juga malah ingin mencuri perhatian Elena darinya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘