
Sejak kembali dari luar Fil perhatikan Louis seperti raga tanpa jiwa, tatapannya kosong sampai melakukan apa saja tidak fokus. Ia menabrak pintu kamar bahkan tidak mau membuka pintu sendiri, Fil terpaksa harus membuka pintu itu untuknya. Tidak hanya sampai di situ saja, Louis berjalan ke dalam kamar dan tersandung beruntung ia jatuh ke atas ranjang.
Fil merasa lega untuk sesaat lalu ia pergi, dan saat malam perjamuan tiba Fil kembali untuk melihat apa Louis sudah siap atau belum. Alangkah terkejutnya Fil melihat Louis terbaring di atas ranjang masih dengan posisi yang sama saat ia jatuh tadi.
"Pangeran, malam ini ada perjamuan yang sangat penting. Kenapa anda belum siap? bangunlah!" perintah Fil yang diabaikan oleh Louis.
Fil harus menggunakan cara kasar, ia menarik Louis dari kakinya agar turun dari ranjang. Namun Louis malah melerot seperti kain ke lantai, ia berbaring dalam keadaan tengkurap.
"Ada apa dengan anda? katakan lah jika punya masalah, jangan diam saja. Saya lelah dengan anda yang seperti ini," keluh Fil.
Louis bangun dan duduk lalu ia menatap Fil, Fil bergidik ngeri melihat wajah lesu Louis.
"Apa kau yakin?" tanya Louis, Fil mengangguk lalu ia menjauh sedikit.
"Elena, dia sudah mencintai 2 pria sekaligus. Aku tidak ada harapan lagi," jawab Louis.
"Kata siapa? jika ada angka 2 maka angka 3 juga ada. Jika tidak bisa menjadi satu-satunya cinta untuk Nona Elena, maka jadilah yang ke tiga. Apa sulitnya?" tanya Fil membuat Louis melerot lagi ke lantai.
"Nona Elena sudah menunggu anda di luar sejak tadi," ucap Fil sengaja berbohong. Louis langsung bangkit dan berlari keluar dari kamar, sesampainya di aula utama istana tidak ada siapa-siapa membuat Louis benar-benar patah hati dan tidak mau bicara lagi.
*****
Ternyata Elena sudah datang bersama dengan Liana, mereka memakai gaun yang indah. Pokoknya pada malam ini penampilan Elena bersama Liana menjadi sorotan, banyak pria terpesona sayangnya tidak ada yang berani mendekat.
Saat tamu kehormatan kaisar memasuki aula dari lantai 2, semua orang bertepuk tangan. Malam ini Naina berpikir dia akan menjadi wanita paling memikat sayangnya itu semua tidak terjadi, karena wanita yang menjadi sorotan telah tiba sejak tadi bahkan kedatangan Naina hanya mendapatkan lirikan.
Bukan hanya pria bangsawan, Luca sendiri mengabaikan kedatangan Naina. Ia sibuk bertegur sapa dengan Keluarga Abraham, ia juga berkenalan dengan Liana. Malam itu mereka jadi akrab sampai berbincang berdua saja. Raut wajah Luca yang berseri-seri bukan karena dirinya membuat Naina memanas, ia tidak terima karena Luca yang akan menjadi tunangannya, masih berani bicara berdua dengan seorang wanita lajang.
"Kakak. Lihat itu! dia adalah wanita yang menghina ku," ucap Naina pada Alvaro, ia menunjuk Elena yang berdiri sendirian. Ia tidak bisa menunggu lagi untuk membalas hinaan Elena.
"Kalian berdua teman bukan. Dia datang saat aku bicara dengan mu untuk membela mu, sekarang biar aku lihat bagaimana kau akan membela teman mu dari Alvaro." Naina duduk di sofa yang telah disediakan untuk istirahat, letaknya ada di sudut ruangan tidak jauh dari mereka.
"Cih! hanya wanita biasa. Lihat bagaimana aku mengurusnya." Alvaro berjalan mendekati Elena.
"Nona cantik bergaun biru," sapa Alvaro pada Elena, "Bisa kah kau meluangkan waktu untuk ku?"
"Salam Pangeran Alvaro. Suatu kehormatan bagi ku jika bisa memberikan kau waktu, sayangnya seperti yang kau lihat aku sibuk. Maaf yah," jawab Elena. Ia tidak mengurangi rasa sopan pada Alvaro.
"Kau berani menolak ku?" Alvaro merasa terhina dengan penolakan Elena.
"Ya. Saat seseorang tidak mau atau tidak menginginkan sesuatu maka dia berhak menolak, itu hak yang tidak akan pernah bisa di ambil oleh siapa pun. Permisi." Elena hendak pergi dari hadapan Alvaro. Tapi, Alvaro mencekal tangannya yang memegang gelas jus anggur, tanpa sengaja Elena menumpahkan anggurnya ke pakaian Alvaro.
"Beraninya kau!" teriak Alvaro melepaskan tangan Elena. Ia bertingkah seperti korban dihadapan semua orang, "Lihatlah! ini adalah pakaian kesayangan ku dan pakaian adalah wujud kerhormatan bagi orang timur, dan kau sudah menghina pakaian ku maka kau harus aku hukum."
"Saya tidak sengaja. Ini juga salah anda karena menarik tangan saya," balas Elena, ia tidak mau dijadikan kambing hitam.
"Omong kosong." Alvaro memukul tangan Elena sampai gelas itu lepas dari tangannya dan pecah.
"Alvaro!" teriak Luca. Amarahnya pecah saat Elena tersungkur di lantai.
"Diam! wanita ini sudah menghina ku, maka dia harus menerima balasan dari penghinaan itu. Kau jangan ikut campur," balas Alvaro. Luca menggertakan giginya dengan tatapan nyalang.
Belum puas mempermalukan Elena, Alvaro menarik kursi dari sudut ruangan dan membawanya ke dekat Elena.
Kemudian Alvaro duduk di kursi itu lalu menepuk pahanya, "Mari. Merangkak dari sana lalu duduklah di pangkuan ku, maka aku akan berpikir untuk memaafkan mu. Cepat!"
"Beraninya kau." Kekuatan Aaron dan Carlos telah lepas kendali, mata mereka menyala dan rambut mereka perlahan memutih. Ini kekuatan petarung level bumi tingkat pertama dan level misteri tingkat 12.
"Kendalikan diri kalian. Dia adalah seorang pangeran," ucap Austin. Dia sendiri sudah berada pada batas kesabarannya.
"Nona …." Para familliar Elena juga tidak bisa menahan diri untuk keluar.
"Hei wanita! kemarilah. Pangkuan ku lebih empuk dari lantai itu, kemarilah. Layani tuan mu ini," ucap Alvaro menyeringai.
"Ya ampun, Alvaro ini drama yang luar biasa," batin Naina menikmati acara itu sambil minum anggur.
"Ah!" Alvaro tertarik pada botol anggur yang di ada di dekatnya, ia mengambil botol itu kemudian mendekati Elena.
"Kau tadi hanya minum jus bukan. Kenapa? alkohol lebih enak dari itu, kau harus menikmatinya," ucap Alvaro membuka tutup botol anggur itu lalu menyiraminya pada Elena.
"Hei!" Luca, Aaron, Carlos, dan Austin berteriak ingin maju. Tapi Liliana mencegah mereka untuk maju, mereka tidak bisa membuat masalah saat kaisar dan permaisyuri belum ada di sini.
"Nona, kenapa anda diam saja? bunuh dia!" teriak Undine.
"Aku akan membakarnya seperti sapi," lanjut Salamander.
"Dia akan aku makan dalam sekali suapan," tambah Hydra.
"Tidak. Dia tamu kaisar, jika kita membuat masalah maka siapa saja bisa dapat hukuman berat," balas Elena melalui telepati.
Setelah puas Alvaro kembali menarik Elena agar berdiri. Namun Elena menolak untuk patuh, karena itu Alvaro melayangkan tangannya pada Elena.
Tiba-tiba kilatan petir menyambar tangan Alvaro, kekuatan itu sangat kecil. Tapi dampaknya besar sampai meninggalkan luka bakar pada tangan Alvaro bahkan ia juga meringis kesakitan.
Kalau terlalu fokus pada lukanya, Alvaro tidak sadar bilah angin dari Aaron dan Carlos sudah berada 5 senti dari lehernya, pusaran angin di tangan Austin sudah siap menerbangkannya, dan Luca sendiri menghunuskan pedang petirnya tepat di dada Alvaro.
Di depanya juga sudah ada Louis yang memeluk Elena, tidak lupa ia menutupi tubuh Elena dengan jubahnya. Tatapan tajam dari mata Louis membuat Alvaro gemetar, dan ia lebih tertekan lagi dengan para pria yang siap menyerangnya dari segala sisi.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘