
Merasa tubuhnya sudah sehat Louis pun keluar dari dalam kamar, ia bosan berbaring di ranjang dari pagi sampai siang. Ia tidak tahu di luar kamar ada Benton, Bagas, dan Sean yang sedang asik main catur. Liana meminta mereka menjaga Louis selagi dia masih sibuk dengan urusannya.
"Bagaimana kondisi tubuh mu? sudah mendingan?" tanya Sean tanpa mengalihkan pandangan dari papan catur.
"Ya, di mana Liana?" tanya Louis.
"Dia pergi sebentar. Dia akan kembali membawa makan siang mu, kau sudah lapar kan?" tanya Bagas di jawab dengan anggukan oleh Louis.
Louis lalu mengambil tempat duduk didekat Bagas, ia melihat apa yang bagas baca sampai tidak tertarik melihat permainan catur Benton.
"Ini … kau membeli ini?" tanya Louis terkejut melihat apa yang ada di buku Bagas.
"Tidak. Ini metode menaikan level yang Elena berikan secara cuma-cuma saat kami masih jadi murid terbuang, kami semua masih menggunakan metode ini sampai sekarang," jawab Bagas.
"Kapan dia memberikannya pada mu?"
"Kalau tidak salah sudah 10 tahun lalu, kau tahu? metode ini sangat bagus. Memangnya kenapa? apa Elena sudah menjual metode ini? alangkah baiknya memang dijual saja, sayang kalau diberikan cuma-cuma."
"Tidak, aku hanya bertanya karena pernah melihat metode yang sama pada salah satu buku. Hahahaha, mungkin aku salah lihat."
"Mungkin juga tidak. Kata Elena metode yang sama bisa saja ditemukan oleh orang lain, mungkin saja ada mengembangkan metode serupa dengan ini."
"Aku merasa sedikit dingin, aku masuk dulu." Louis berdiri kemudian masuk ke dalam kamar.
"Dia masih demam, kedinginan di saat cuaca panas begini," batin Bagas.
"Apa Elena mengingat kehidupan sebelumnya? metode itu jelas di kembangkan oleh Fil dan baru saja ia tunjukan pada banyak orang 3 tahun lalu. Banyak akademik yang membeli metode itu darinya, dan Elena telah memiliki metode itu 10 tahun lalu bahkan saat Fil masih dalam tahap penelitiannya," pikir Louis.
"Selama 3 kehidupan penelitiannya akan metode itu dia rahasiakan bahkan dari ku, tidak pernah dia mengembangkannya dengan seseorang atau terlihat dia bekerja sama dengan orang lain. Jadi kemungkinan besar Elena mengingat kehidupan sebelumnya," batin Louis mondar-mandir di dalam kamar.
"Jadi semua yang terjadi dari pembatalan pertunangan hingga sekarang itu bukan kebetulan saja. Tapi memang sudah Elena rencanakan, apa aku harus bertanya padanya? jika aku tanya apa yang akan dia jawab? akankah dia mengelak?" batin Louis. Karena terlalu berpikir keras ia pun jatuh pingsan, suhu tubuhnya yang sudah normal kembali naik. Bagas dan yang lain di buat panik saat mendengar suara Louis jatuh ke lantai.
*****
"Sial!" Alfred memukul tembok kediaman Jolycia hingga tembok itu hancur, ia marah besar karena apa yang ia jaga dengan baik selama bertahun-tahun malah hilang.
Sementara itu jauh di ruang bawah tanah terdapat satu ruangan yang dilengkapi dengan pendingin, di ruangan itu ada satu ranjang besar dengan puluhan balok es memenuhi isi ruangannya. Hanya tersisa sedikit ruang untuk berjalan dari pintu ke ranjang dalam ruangan itu.
"Rani." Alden menatap tubuh Rani yang berbalut gaun biru dan terbaring di ranjang ruangan itu, ia menduga Alfred sengaja memenuhi ruangan ini dengan balok es untuk menjaga jasad Rani tetap utuhdan tidak mengalami pembusukan.
Alden tidak lama-lama di dalam ruangan itu karena waktunya hampir habis, ia tidak bisa terpisah terlalu lama dari tubuh Elena yang jauh.
Alfred yang saat itu sedang cemas dikejutkan dengan keadaan sekitarnya yang mulai berkabut hitam, kabut itu adalah ruang dimensi buatan Alden untuk memisahkan mereka dari bagian luar.
"Lama tidak bertemu, iblis." Alden menampakan wujudnya di depan Alfred.
"Bajingan … kau yang sudah membawa Jolycia kan? kembalikan dia pada ku!" teriak Alfred.
"Hmph, kenapa harus aku lakukan apa yang kau mau? menyusahkan saja. Lagi pula aku ini adalah ayah dari Jolycia, jadi aku bisa mengambilnya kapan pun aku mau. Kau ingin sekali menikahinya, kenapa? apa kau ingin menjadi menantu ku?"
"Omong kosong. Kau hanyalah jiwa yang menggembara, kembalikan Jolycia ku atau aku akan melenyapkan mu dari dunia ini. Setelah melenyapkan mu aku akan menyerang kerajaan mu, aku akan membuat mu melihat bagaimana aku akan menikahi Jolycia."
"Rani milik ku begitu pun dengan Jolycia. Kau hanya memiliki jasad Rani tanpa jiwa, dan bayang Jolycia yang menghilang."
"Sial!" Alfred mengepalkan telapak tangannya karena gagal menyerang Alden.
*****
Begitu kaki Leon menapak di tanah daratan agung ia merasa sangat damai, ini pertama kalinya ia masuk ke dalam daratan apalagi untuk tugas yang murni.
Para kesatria akademik di bagi menjadi 2, ada yang bertugas di pemukiman penduduk dan bertugas di menara bagian dalam. Leon bersama Elios ditugaskan pada menara bagian dalam bersama 3 kesatria unggulan.
Beberapa kesatria lain yang membenci Elios serta Leon mereka kesal karena mereka bertugaskan di pemukiman penduduk, tidak bisa melihat keindahan menara dari dekat.
"Benar-benar menyebalkan. Aku benci semua murid unggulan, mereka sombong sekali," keluh salah satu kesatria, ia juga berada diantara anak-anak pengosip yang terpilih masuk ke dalam daratan.
"Hei!" tiba-tiba seorang kesatria datang menghampiri mereka, "Kalian baru sampai? ayo ikut aku."
Ia menarik salah satu kesatria dan kesatria lain mengikutinya, mereka di bawah ke ladang para penduduk yang sedang di serang goblin level E.
"Apa ini? kami baru saja bergabung beberapa menit lalu, dan sekarang akan melawan pasukan goblin. Mana mungkin bisa," ucap salah satu kesatria.
"Bala bantuan sedang menuju kemari, tolong bantun kami mengulur waktu. Kami juga kesatria dari akademik lain yang baru saja sampai. Tapi kekuatan kami saja tidak cukup, kami butuh lebih banyak kesatria," jelas kesatria lain.
Mereka bahkan belum sempat mengambil keputusan. Tapi sudah di serang oleh para goblin, para goblin ini datang dari luar menara karena ada salah satu portal yang rusak. Para kesatria dari semua akademik berjuang melawan pasukan goblin sampai 3 pimpinan goblin level C datang.
3 pimpinan goblin itu merusak banyak ladang, para kesatria harus menghadang mereka agar tidak masuk ke dalam pemukiman penduduk sampai bala bantuan tiba.
"Memanggil Ignatius, Admon," teriak yang Elena terjun dari atas langit seiringan dengan itu Ignatius dan Admon muncul.
"Lenyapkan!" perintah Elena kepada keduanya.
"Baik," jawab Ignatius dan Admon. Mereka mendarat dengan baik lalu menumbangkan 3 pemimpinan goblin itu.
"Nona … Anda harus hati-hati. Bagaimana jika terjun seperti itu akan meremukan tubuh anda," ucap Rota. Ia menangkap tubuh Elena sebelum mendarat di tanah.
"Siapa wanita itu? dia memakai jubah bintang agung."
"Apa dia bintang agung? hebat sekali."
"Kekuatan mereka memang beda dengan kita, kontraktornya juga sangat besar dan kuat."
"Aku tahu, itu adalah penguasa elemen yang muncul 100 tahun sekali. Senangnya bisa melihat mereka secara langsung."
Para kesatria akademik itu terpesona dengan kehebatan Elena, mereka tidak menyangka bala bantuan yang akan datang itu adalah bintang agung.
"Ya ampun, dasar Elena. Padahal ada portal. Tapi dia malah mengambil jalan pintas, tetua agung bisa saja akan menghukum kami nanti," ucap Kavana yang muncul tiba-tiba diantara kerumunan para kesatria akademik.
"Dia siapa?" batin para kesatria menatap Kavana dari kepala sampai ujung sepatunya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘