The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 87 Kembali dengan perasaan lega.



Leon dan Elios baru saja selesai patroli di sekitar akademik, beberapa hari ini terakhir ada banyak orang yang mengeluh karena kehilangan ternak mereka jadi kesatria senior dari akademik kesatria menjalankan tugas dari kepala akademik.


"Lelahnya." Leon membasahi rambutnya dengan air minum, hari ini matahari sangat terik membuat Leon yang tidak tahan panas jadi lelah.


"Leon, jika tahun depan kita lulus. Apa kau akan menjadi kesatria suci?" tanya Elios, ia sebenarnya penasaran tentang hal itu sejak lama. Dibandingkan dengan semua murid seangkatan mereka, Leon lah yang paling keras dalam berlatih selama ini.


"Tentu saja. Selain indra ku yang tajam, aku tidak punya kelebihan lain dan sekarang kelebihannya aku bisa berpedang maka aku akan menjadi kesatria suci," jawab Leon penuh percaya diri.


"Jadi kau mau melayani para dewa juga yah, itu hebat."


"Hah? melayani mereka untuk apa? jangan harap!"


"Tapi kenapa? semua kesatria suci selalu ingin mendapatkan tempat itu bukan?"


"Yang pasti bukan aku. Para dewa yang menjadikan kami keturunan mereka tidak mereka berikan kekuatan mereka, hanya karena kami berasal dari keluarga miskin. Jangan harap aku akan melayani mereka, hanya karena punya kekuatan lebih mereka sombong padahal mereka juga adalah manusia. Aku akan menjadi kesatria pelindung kakak Liana dan Elena, Kak Liana memberikan segalanya untuk ku serta Kak Elena menjadikan aku kesatria hebat  yang dulunya hanya anak kecil biasa."


"Aku juga akan menjadi kesatria kakak kita, pemikiran mu memang luar biasa," puji Elios membuat Leon besar kepala.


"Kekuatan Teodora?" batin Elios merasakan kekuatan sucinya.


"Leon, ayo kembali ke akademik. Ini sudah waktunya jam makan siang, ayo!" ajak Elios, ia pergi lebih dulu dari Leon.


"Hei tunggu!" Leon mengemas barang-barangnya, kemudian ia berlari mengejar Elios sayangnya pria satu itu menghilang entah ke mana, "Cepat sekali perginya, apa dia selapar itu? dasar!"


Leon pun berlari ke akademik sementara itu Elios hanya menatapnya dari atas atap, setelah memastikan Leon menjauh Elios pun turun dari atap dan pergi menuju lokasi Teodora.


*****


"Apa kau sadar dengan apa yang kau tanyakan?" tanya Liliana dengan nada meninggi, "Aku sendiri yang mengandung mu, melahirkan mu, dan membesarkan mu. Lalu bagaimana bisa kau meragukan itu?"


"Ibu mu benar, Elena. Sebenarnya apa alasan kau bertanya demikian? pertanyaan mu bisa saja membuat Liliana sakit hati," tambah Austin.


"Aku tidak pernah meragukan kalian sedikit pun. Tapi seseorang berkata aku mirip sekali dengan temannya, karena itu ia mengenali aku sebagai anak dari temannya. Aku tidak mau memikirkannya hanya saja entah kenapa itu tidak bisa lepas dari pikiran ku, dan aku berpikir mungkin saja jika mendengarkan jawaban langsung dari mulut kalian bisa membuat hati ku kembali tenang," jelas Elena yang merasa bersalah.


"Itu hanya kebetulan saja. Bukti jika kau adalah anak kami ada banyak, kau tidak perlu merasa cemas atau semacamnya. Elena mau seperti apa pun kata orang kau tetaplah Elena kami, kami mencintai mu sejak dulu dan itu tidak berubah. Percayalah, sayang." Liliana meraih tangan Elena. Sentuhan tangan Liliana membuat Elena tenang, ia akhirnya bisa bernafas lega lagi.


Sesusai makan malam Elena tidur lebih awal, sedangkan Liliana dan Austin menjaganya sampai terlelap.


"Aku penasaran, siapa yang membuat Elena meragukan dirinya sendiri. Selama 30 tahun tidak ada masalah seperti ini, lalu kenapa baru sekarang?" tanya Austin pada Liliana.


"Aku juga tidak tahu. Tapi sayang, akankah Elena pergi dari hidup kita? aku tidak mau itu sampai terjadi, Elena adalah putri kita, kan?"


"Ya." Austin menarik Liliana ke dalam pelukannya, "Aku tidak membiarkan siapa saja merebut Elena dari mu, dia adalah putri kita maka dia milik kita untuk selamanya. Kita harus siap menghadapi pertanyaan seperti ini di masa depan."


"Aku berharap pertanyaan ini tidak akan pernah ada lagi. Setelah Elena lulus dari akademik menara, aku akan menjaganya tetap dalam kediaman sampai dia menikah."


"Apa kita lakukan tes darah saja?"


Aaron yang menguping dari luar kamar mulai merasa cemas, ia tidak mau Elena sampai meragukan hubungan darah diantara mereka. Aaron kembali ke kamarnya karena tidak mau mendengar percakapan itu lebih jauh lagi, ia kembali lalu menyembunyikan raut wajah sedihnya dalam pelukan Qinthia.


"Kenapa? apa kau mendengar sesuatu yang menyakitkan?" tanya Qinthia pada Aaron, Aaron berpamitan padanya sebelum pergi menguping.


"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang aku dengar Elena meragukan hubungan darahnya dengan kami, entah kenapa? aku tidak tahu. Ibu terlihat sangat cemas, aku tidak mau Elena meragukan hubungan darah kami. Aku saksi kelahiran Elena," jawab Aaron.


"Sudah sudah sudah. Besok pasti semua masalah itu tidak akan dibahas lagi, Elena akan melupakan semua kecemasan dalam hatinya."


"Aku berharap itu juga benar. Kau tahu saat Elena lahir, aku dan kakak sangat bahagia karena akhirnya kami bisa punya adik perempuan. Kami berniat akan memberikan dia semua kebahagian di dunia ini saat itu juga."


"Kalian masih belum terlambat untuk itu, kalian selamanya adalah kakak Elena."


"Kau benar, aku mencintai mu." Aaron mengecup kening Qinthia dan mempererat pelukannya.


Keesokan harinya Elena kembali ke menara sendirian, kali ini ia kembali dengan hati senang dan bahagia. Ia tidak lagi memikirkan tentang hubungan keluargannya.


"Aaaaa. Ibu, ayah. Lihat ini!" Qinthia memberikan surat kabar kepada Liliana dan Qinthia.


"Kenapa? apa isinya?" tanya Liliana dengan cepat mengambil surat kabar di tangan Qinthia.


"Aaaaa." Liliana juga berteriak kegirangan membaca surat kabar itu.


"Apa? kenapa?" tanya Austin dan Aaron.


"Elena ternyata adalah … adalah bintang agung di posisi kedua," jawab Qinthia membuat Austin dan Aaron sangat terkejut sampai bersorak gembira.


"Sungguh? padahal dia baru saja pergi dan dia tidak mengatakan kabar sebaik ini. Dasar anak itu," ucap Aaron.


"Elena kita sudah bersinar. Aku tidak akan menyangka dia akan berada di puncak secepat ini." Liliana tidak bisa berhenti tersenyum.


"Kau benar, sayang. Anak kita luar biasa." Austin berpelukan dengan Liliana sampai melompat kegirangan bersama. Para pelayan yang mendengar itu ikut merasa bahagia, terutama Mimi. Sekarang ia sudah menjadi pengasuh Rei.


"Mimi, apa Bibi Elena sangat hebat?" tanya Rei, ia penasaran melihat reaksi kakek, nenek, dan kedua orang tuanya.


"Ya. nona memang sangat luar bisa sejak ia berubah, jika nona lulus dari daratan menara maka dia akan sangat dihormati," jawab Mimi lalu ia berlutut di depan Rei untuk menyamakan tinggi mereka, "Anda harus belajar dari nona untuk menjadi orang hebat, saya yakin anda akan bersinar sama seperti nona."


"Tentu saja, Mimi. Aku akan menjadi murid bibi, aku akan lebih hebat dari Clovis lalu menjadi keponakan bibi satu-satunya," jawab Rei membuat Mimi terkejut. Ia ingin menjelaskan pada Rei jika dia tidak bisa terus menjadikan Clovis sebagai saingan. Tapi Rei malah pergi, Mimi terpaksa harus mengejarnya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘