
Keesokan harinya Elena pergi bersama Mimi ke pasar untuk membeli beberapa keperluannya. Sebenarnya Elena enggan mengajak Mimi, sayangnya ia tidak bisa menolak jika Mimi merengek ingin ikut.
"Mimi, bisa tolong belikan aku kue itu?" tanya Elena menunjuk penjual kue yang tidak jauh dari mereka.
"Tentu saja bisa. Tunggu sebentar, saya akan segera kembali." Mimi dengan cepat berlari ke arah penjual tersebut.
Elena memanfaatkan hal itu untuk memisahkan diri darinya, Elena masuk ke keramaian lalu ia berjalan menuju guil petualang. Ini adalah tujuan terbesar ia datang ke pasar.
"Selamat datang," ucap wanita di meja penerima tamu saat Elena memasuki guild.
Semua mata petualang tertuju padanya, ada beberapa orang menatap Elena dengan tatapan tajam. Namun Elena tidak peduli, ia dengan santai mendekati meja penerima tamu.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu pada Elena.
"Begini, aku mau mendaftar sebagai petualang. Bisa tolong tunjukan formalitasnya?" tanya Elena.
Wanita itu mengambil beberapa lembar kertas lalu membukanya di atas meja agar Elena bisa melihatnya.
"Jika anda mau jadi petualang itu sangat mudah. Tapi petualang memiliki peringkat tersendiri, mulai dari peringkat F, E, D, C, B, A, dan S. Jika ingin menaikan peringkat maka anda bisa menyelesaikan misi sebanyak mungkin. Hanya saja mulai dari peringkat C akan ada ujian khusus untuk naik peringkat. Apa anda sudah paham?"
"Ya. Tolong buatkan aku kartu petualang."
"Tentu saja, silakan isi daftar diri dulu." Wanita itu memberikan Elena secarik kertas.
Setelah selesai mengisi daftar diri Elena mengembalikan kertas tersebut. Wanita itu membacanya lalu ia berbisik pada Elena, "Jika anda seorang bangsawan maka saya sarankan untuk merahasiakan identitas, atau anda akan menjadi sasaran empuk para petualang senior. Ini hal yang rahasia."
"Ya, terima kasih sudah kau ingatkan," ucap Elena. Ia merubah kembali namanya lalu memberikan kertas itu lagi, wanita itu pergi ke dalam selama beberapa saat lalu ia kembali membawa sebuah kartu petualang Elena.
Setelah mendapatkannya Elena langsung kembali mencari Mimi, ia khawatir wanita itu akan menangis karena dirinya yang menghilang tiba-tiba.
*****
"Nona kue … Akh!" Mimi jatuh ke tanah karena seseorang menabraknya dengan sangat kencang.
"Maafkan aku." Pria itu dengan cepat langsung membantu Mimi berdiri.
"Kau Mimi bukan?" tanya pria itu. Mimi yang kesal langsung mendongkak menatap pria tersebut.
"Lepaskan!" Mimi menarik tangannya dari Ernest lalu ia membersihkan debu yang menempel pada pakaiannya.
"Apa begini sikap yang harus kau tunjukan pada ku? apa kau lupa aku siapa?" tanya Ernest mengancam Mimi, ia tidak suka melihat Mimi menjadi tidak sopan padanya.
"Saya tidak lupa anda adalah Tuan muda Ernest. Tapi hanya sebatas itu saja, lagi pula anda yang menabrak saya kan jadi saya tidak salah."
"Hahahahah. Lucu sekali, dasar wanita rendahan. Justru hanya karena sebatas itu saja aku bisa bertindak sesuka hati ku pada mu." Ernest mejambak rambut Mimi membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Lepaskan saya. Anda sudah keterlaluan, lepaskan!" Mimi berusaha melepaskan tangan Ernest.
"Salamander," gumam Elena.
Seketika Salamander langsung muncul tepat di depan Ernest, ia memukul Ernest dengan ekornya sampai Ernest tersungkur ke kios penjual ikan.
"Ayo!" Elena yang duduk di atas Salamander mengulurkan tangannya pada Mimi, Mimi mengusap airmatanya lalu menyambut uluran tangan Elena.
"Ada apa Tuan Ernest? apa kau sangat sayang pada tempat ikan itu sampai tidak mau berdiri dari sana. Jika saja sejak awal aku tau, aku pasti akan memberikan sekolam ikan pada mu," ejek Elena. Ernest yang mendengarkannya langsung bangkit dengan wajah memerah karena marah.
"Berani sekali kau. Aku tidak akan mengampuni mu. Apa kau tahu jika di kekaisaran ini tidak akan ada yang membantu keluarga mu dari amarah ku, bahkan kaisar sendiri pun tidak bisa. Aku telah membuat kau melajang seumur hidup mu, lalu aku akan menghancurkan seluruh keluarga mu. Tidak ada satu pun pria yang akan melamar mu," balas Ernest.
"Dasar pria tidak tahu malu. Berani sekali kau pada …."
"Diam kau!" teriak Ernest membuat Mimi bungkam.
"Aku merasa kasihan pada mu Ernest. Aku melajang seumur hidup atau tidak, bukan kau yang akan menentukan. Tapi aku berterima kasih padamu, aku tidak mau menikahi pria bangsawan dan berkat ancaman mu pada mereka maka aku tidak perlu memilih salah satu dari mereka untuk menikah. Tentang keluarga ku akan hancur, aku rasa kau hanya menghayal. Posisi keluarga mu sekarang hanya kuat karena gelar bangsawan saja, apa kau lupa reputasi kalian sudah menjadi sangat rendah karena ulah mu."
"Tidak mau menikah dengan bangsawan? kenapa? aku yakin itu hanya alasan karena tidak ada yang mau melamar mu. Reputasi kami mungkin berkurang itu pun hanya sedikit, tidak ada di kekaisaran ini yang bisa mengabaikan keluarga Duke Ransom."
"Kalau tidak ada pria yang melamar maka apa susahnya? aku masih bisa membeli pria untuk menikah dengan ku, gigolo kan banyak. Bahkan gigolo itu 1000 kali lebih baik, bukan hanya seksi mereka juga sangat tampan," ungkap Elena membuat banyak orang terkejut tidak terkecuali Mimi.
"Salamander, ayo pulang," Perintah Elena. Salamnder pun langsung berlari keluar dari area pasar.
*****
"Aarrgghh!" Ernest merasa sangat kesal karena ucapan Elena. Ia tidak menyangka di mata Elena tidak ada lagi cinta untuknya, bahkan Ernest sama sekali tidak ia pedulikan.
"Kenapa bisa kau begitu? aku masih mencintai mu, bahkan sampai saat ini rasa itu tetap sama. Tapi kau begitu mudahnya lupa bahkan sampai berpaling, apa kurangnya aku?" teriak Ernest. Ia merusak barang-barang yang ada di kamarnya.
"Kali ini Ernest pasti akan senang lagi. Ini merek arloji kesukaannya," batin Sonia berjalan ke kamar Ernest.
Dan saat Sonia membuka pintu kamar Ernest, pecahanan vas terlempar sampai mengenai pipinya hingga menyebabkan luka gores besar.
"Ernest apa ini? kau menyakiti ku," geram Sonia saat Ernest tidak peduli melihat wajahnya terluka.
"Kau masuk ke kamar ku tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Lalu jika kau terluka apa peduli ku? itu salah mu, semua yang terjadi dari awal sampai akhir adalah salah mu," balas Ernest.
"Apa kau masih memikirkan Elena? sudah 4 tahun berlalu. Lupakan saja dia. Dia sudah hidup bahagia tanpa mu, kau juga seharusnya begitu," jelas Sonia.
Ucapan Sonia membuat Ernest semakin kesal, ia mendorong Sonia keluar dari kamarnya sampai ia membanting pintu tepat di depan Sonia. Jovanka yang menyaksikan itu hanya tersenyum
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘