The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 59 Jangan menghina makanan.



Sekembalinya dari butik itu Sonia terus berpikir bagaimana caranya agar Ernest tidak bertemu dengan Elena, ibu kota ini mungkin besar. Namun kebetulan tidak dapat dihindari oleh siapa saja, dan Sonia tidak mau hal itu terjadi.


"Apa? aku tidak bisa pergi." Terdengar oleh Sonia suara Ernest dari kejauhan sedang berdebat dengan asistennya Riko.


"Tapi ini kesempatan besar untuk kita, kapan lagi kita bisa maju jika anda menolak terus," jelas Riko.


"Kau tau kan saat ini Sonia sedang hamil, aku harus bersamanya sampai dia melahirkan apalagi kami akan menikah dalam waktu dekat."


"Pergilah jika harus." Ucap Sonia yang sudah berada di dekat mereka, "Tapi kalian memangnya mau ke mana?" 


"Ke Kekaisaran Timur. Ketua guild pedagang terbesar dari sana tertarik dengan lada dari perkebunan duke, dia menawarkan harga yang tinggi untuk pembelian lada itu. Tapi kita harus ke sana secara langsung, beliau ingin melakukan formalitas di depan pemilik perkebunan langsung," jawab Riko, membuat ide bagus muncul di kepala Sonia.


"Benarkah?" Sonia membuat ekspresi sedih, "Aku ingin sekali ke sana, bagaimana jika kita menikah di sana saja? ini sebuah kebetulan yang indah."


"Hah? menikah di sana? jangan konyol. Kau sedang hamil lalu kita harus naik kapal ke sana, bagaimana jika terjadi sesuatu di jalan? tidak. Kita tidak akan pergi ke mana pun," tegas Ernest.


"Anu …" Riko menengahi percakapan keduanya, "Anda harus mengiyakan apa yang Nona Sonia katakan. Dulu saat istri ku hamil kata ibu semua keinginannya harus di penuhi atau anak anda akan lahir tidak normal, jadi anda harus menuruti Nona Sonia."


"Baiklah." Ernest mengusap kepala Sonia, "Kita akan pergi bersama besok."


"Ya, baiklah," jawab Sonia, "Tapi aku ingin berangkat sendiri, beberapa hari setelah kau pergi maka aku akan segera menyusul mu."


"Bagaimana mungkin aku biarkan kau pergi sendiri? aku akan pergi bersama mu jika tidak, maka tidak ada yang akan pergi."


"Apa kau lupa? ini keinginan wanita yang sedang hamil. Lagi pula jika kau cemas maka tinggalkan Riko bersama ku, dan aku akan pergi bersama dengannya."


"Tapi kan …."


"Jangan menolak ku, kau sayang pada ku kan. Maka ku mohon," pinta Sonia. Ernest tidak berdaya sampai mengiyakan semua yang Sonia katakan.


*****


Asap hitam keluar dari dapur membuat Elena terkejut, ia pun berlari masuk ke dalam dapur. Di sana para pelayan terbatuk-batuk dengan wajah menghitam.


"Kan saya sudah bilang hati-hati, jika anda selalu seperti ini maka istana bisa saja terbakar. Ya ampun," Suara Fil mengomel terdengar jelas dari balik asap.


"Kenapa membuat pai apel bisa sulit seperti ini? apa sebenarnya masalah oven itu dengan ku? jika Elena datang lalu aku tidak membuat pai apel khusus untuknya, aku akan kecewa. Perbaiki dulu ovennya," balas Louis. Elena berusaha menahan tawa mendengar ucapan Louis.


"Andalah yang salah karena selalu memakai api besar saat memanggang, kenapa anda malah menyalahkan oven yang saya buat?"


"Hah? aku bukan menyalahkannya. Tapi ini jelas salahnya, salah orang yang membuat juga. Seharusnya kau buat oven tahan panas, jika begini jelas sekali ovennya benci melihat ku bahagia sama seperti mu," jawab Louis membuat Fil memukulnya.


Setelah asap hitam itu hilang Louis dan Elena saling memandang untuk waktu yang lama. Tapi Louis langsung mengalihkan tatapannya karena malu, Elena datang saat dia sedang dalam keadaan kacau.


"Kau bertengkar dengan oven demi aku?" tanya Elena menggoda Louis.


"Biar aku ajarkan pada mu cara membuat pai apel," ucap Elena. Ia mengikat rambutnya yang terurai lalu melepas gaunnya, ia memakai pakaian petualang dibalik gaunnya.


"Saya menyerahkan pangeran pada anda. Tolong jangan ledakan ovennya lagi, biaya perbaikan akan memakan uang banyak jika ovennya terus meledak. Saya punya banyak pekerjaan jadi saya akan kembali." Fil langsung pergi tanpa menoleh ke belakang, ia sangat sibuk karena Louis semua pekerjaannya jadi tertunda.


"Ayo bekerja!" Elena menyemangati semua pelayan dan Louis.


Elena membuat adonan pai dengan sangat baik seperti Pattissier handal dalam hal ini, Louis sendiri menjadi tidak fokus karena gugup berada di dekat Elena. Bahkan sesekali tangan mereka bersentuhan membuat wajah Louis memerah, walau pun Elena terlihat biasa saja. Namun bagi Louis ini adalah hal yang luar biasa, ia bahkan mencium tangannya yang bersentuhan dengan tangan Elena sampai beberapa kali.


"Enak," ucap Louis tersenyum bahagia.


"Benarkah?" tanya Elena, ia mencoba buah apel yang sama, "Memang enak ternyata, apel yang di rawat dengan baik rasanya memanh berbeda."


"Lebih enak karena itu dari mu," gumam Louis tidak terdengar oleh Elena.


Setelah semua selesai mereka memasukan painya ke dalam oven, kini semuanya baik-baik saja. Louis meminta pelayan menjaga pai itu lalu dia membawa Elena ke ruang tamu, sembari menunggu pai itu mantang Louis pergi ke kamarnya untuk merapikan diri. Elena juga tidak lupa memakai kembali gaunnya.


Sudah 40 menit berlalu. Tapi Louis tidak kunjung kembali, Elena yang paling benci kata menunggu terpaksa harus menemui Louis secara langsung.


Baru saja Elena akan mengetuk pintu tiba-tiba Louis membuka pintu dari dalam, melihat Elena ada di depan pintu Louis spontan mendorongnya menjauh lalu ia keluar dan menutup kembali pintu kamarnya.


"Maaf. Tapi tolong jangan mendekati kamar ku, karena aku tidak suka ada orang masuk sembarangan," ucap Louis bersikap dingin bahkan tatapannya membuat Elena tidak nyaman.


"Itu karena kau lama, jika bukan karena itu aku tidak akan datang ke mari. Lupakan saja," ucap Elena, ia sendiri menjadi kesal. Louis mendadak jadi aneh hanya karena Elena mendekati pintu kamarnya, padahal Elena tidak berniat masuk atau mengintip.


"Aku akan pergi menemui kakak ku jadi aku ke mari untuk pamit pada mu. Itu saja sampai nanti," pamit Elena yang langsung berbalik dan melangkah pergi.


"Tunggu!" Louis berniat meraih tangan Elena. Namun Elena menghindar darinya, hal itu membuat Louis terkejut bercampur sedih.


"Kau mau antar aku? tidak perlu. Aku bisa sendiri," tegas Elena seraya beranjak pergi meninggalkan Louis.


"Bukan itu maksud ku. Pai-nya sudah masak padahal kita bisa makan bersama sambil minum teh," batin Louis.


Elena menghentakan kakinya saat berjalan keluar dari halaman istana Louis, "Apanya yang jangan mendekat? dasar pria menyebalkan. Dia bahkan sampai mendorong ku menjauh, memangnya aku ini pencuri yang akan mencuri seisi kamarnya. Aku ini wanita terhormat mana mungkin akan mencuri, gara-gara terlalu kesal aku pulang tanpa makan pai apelnya. Louis menyebalkan."


"Elena," Teriak Louis. Elena pun berbalik melihat Louis yang berdiri tidak jauh darinya dengan nafas tersengal-sengal.


"Kue untuk mu," teriak Louis lagi mengangkat bungkusan kue di tangannya.


"Aku tidak mau," balas Elena kemudian berlari menjauh.


"Jika kau tidak kemari maka akan aku buang," ancam Louis. Langkah Elena terhenti lalu ia berbalik kemudian berlari mendekati Louis.


Dengan cepat Elena merampas kantong kue itu dari tangannya, "Kau jangan menghina makanan. Dasar menyebalkan."


"Kau membuat ku tidak punya cara lain. Padahal aku ingin makan bersama dengan mu, maafkan aku. Apa ucapan ku tadi melukai mu? Fil mengatakan jika aku telah berlebihan tadi. Maaf Elena," balas Louis menatap dengan mata berkaca-kaca.


Elena merasa tersentuh melihat tatapan Louis, ia pun menggenggam tangan Louis lalu menariknya kembali ke dalama istana.


"Kenapa kita kembali?" tanya Louis tidak mengerti.


"Kau ingin makan bersama maka kita akan makan bersama. Kita sudah lelah bekerja keras maka makan makanan manis bisa menghilangkan lelah, lagi pula jika makanan manis di makan sendirian bisa menjadi pahit." jawab Elena dengan nada ketus. Tapi Louis tetap senang karena  Elena  sangat peduli dengannya, entah itu benar atau hanya khayalan belaka.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘