
Setelah makan di kedai mereka semua harus berpisah lagi, Alma juga memutuskan untuk kembali ke dunia bawah walau pun ia belum puas bersama Elena. Namun, ia harus menghindari bahaya yang akan datang. Perpisahanan itu membuat siapa saja merasa enggan.
Waktu pun berlalu dengan cepat sekarang sudah waktunya Elena dan Liana kembali ke daratan agung, mereka sudah menghabiskan cukup banyak waktu bersama keluarga.
Kepergian mereka lagi membuat Liliana sedih, sejak Elena menghilang hari itu ia mulai merasa tidak aman. Seolah ada yang akan merebut Elena darinya, ia merasa kepergian Elena kali ini akan mendatangnya badai dalam keluarga mereka.
"Dia adalah putri ku, apa pun yang terjadi dia milikku. Siapa pun yang akan merebutnya tidak bisa," batin Liliana menatap kereta kuda mereka yang menjauh.
Di tengah perjalanan Elena memberhentikan keretanya, "Kau pergilah lebih dulu. Aku akan menyusul mu siang nanti. Tunggu aku di protal kedua, kau bisa masuk ke penginapan yang dulu kita tempati dan aku menemui di sana."
"Tapi kenapa?" tanya Liana.
"Aku ada urusan sebentar. Sampai nanti." Elena turun dari kereta lalu ia meminta kusir untuk melaju kembali keretanya.
Begitu keretanya pergi Elena pun beranjak masuk ke sebuah restoran, tempat itu biasanya hanya bisa di masuki oleh bangsawan saja.
"Kau terlambat," ucap Sonia saat Elena datang. Elena tidak menjawab, ia langsung duduk di hadapan Sonia.
"Aku pikir kau tidak akan datang. Apa kau tidak mau mengucapkan selamat pada ku?" tanya Sonia menunjukan cincin pernikahannya.
"Selamat. Apa kau hanya ingin mendengar itu saja?" tanya Elena yang sama sekali tidak terganggu dengan cincin pernikahan itu, Sonia merasa kesal karena bukan itu reaksi yang ingin dia lihat.
"Tidak. Aku mengundang mu kemari karena aku ingin kau lihat sekarang posisi ku berada di atas mu, aku adalah Duchess Ransom sekarang dan sudah sepenuhnya menang dari mu."
"Pfftt, kau Lucu sekali, Sonia. kau menang karena sejak awal tidak ada yang bertanding dengan mu, Ernest yang kau rebut dari ku suatu hari nanti akan direbut lagi dari mu oleh orang lain," ucap Elena seraya memegang jari manis Sonia, "Cincin ini akan kau ubah menjadi belenggu Ernest. Tapi kau tidak mengenal dia sebaik aku mengenalnya, sebuah cincin saja tidak akan bisa membuat pria itu tenang di tempatnya. Jika aku datang ke kediaman mu lalu memeluknya, coba bayangkan apa yang akan terjadi."
"Elena, kau jangan main-main dengan ku. Aku sudah berhasil merebut Ernest dari mu, bukan hal yang mustahil bagi ku merebut semua pria mu termasuk tunangan mu saat ini. Jadi jangan anggap kau sudah bebas dari ku."
"Kau salah, cantik. Kau bisa merebutnya karena aku menginginkan itu, jika aku ingin Ernest maka dia yang kau dapatkan dengan susah payah itu bisa kembali pada ku. Ingatlah Sonia sayang, semua pria yang pernah hadir dalam hidup Elena akan tetap mengingatnya. Jangankan pria yang sudah menikah bahkan pria yang sudah lenyap cintanya untuk Elena akan tetap kembali padanya, kalau kau mau bukti coba saja tantang wanita di depan mu ini."
"Reaksi mu yang seperti ini aku suka itu," ucap Elena. Ia merasa bahagia melihat Sonia gemetar ketakutan, raut wajahnya terlihat sangat cemas.
"Ya ampun, kau berkeringat." Elena mengambil sapu tangan lalu mengusap keringat di wajah Sonia.
"Selamat menempuh hidup yang baru," bisik Elena tepat di belakang telinga Sonia. Setelah itu ia meletakan sapu tangannya di atas meja kemudian pergi meninggalkan restoran.
"Aku akan membalas perbuatan kalian berdua secepatnya. Ini baru awalnya Sonia, jangan mundur dulu," batin Elena merasa sangat bahagia melihat ekspresi di wajah Sonia.
*****
7 Tahun Kemudian.
Sonia masuk ke dalam ruang kerja Ernest saat dia sedang tidak ada di kediaman. Beberapa hari terakhir Ernest terlihat sangat bahagia bahkan kebahagiannya mulai terasa aneh, hal itu mengundang rasa penasaran Sonia.
Sonia memeriksa setiap laci meja kerja Ernest dan ia menemukan tumpukan surat pada salah satu laci, Sonia pun mengambil satu surat dari di laci itu dan alangkah terkejut dia melihat siapa nama pengirimnya.
"Dorothy?" batin Sonia. Ia dengan cepat membaca isi suratnya, ternyata dalam surat itu Dorothy menceritakan banyak hal sampai menggoda Ernest.
Sonia tidak tahu jika wanita itu sengaja Elena pertemukan dengan Ernest untuk membuat drama dalam kediamannya,dan Elena menikmati pembalasannya dari jauh.
******
Tok tok tok
"Elena, yang lainnya sudah menunggu mu di halaman menara. Kau harus segera turun," ucap Louis dari luar. Elena mengambil jubahnya lalu ia keluar dari dalam kamar, melihatnya jantung Louis berdetak kencang lagi.
"Ayo!" Elena memegang tangan Louis, kedua bergandengan tangan menuju halaman menara.
"Hari ini adalah hari yang penting. Pengangkat bintang agung menara agung yang baru, mereka adalah orang-orang terpilih yang berhasil mengalahkan bintang agung kita sebelumnya," ucap penguasa menara.
"Posisi ketujuh ditempati oleh Astrid Nathania dari pavilliun ahli racun, keenam ditempati oleh Liora Keysa dari pavilliun ahli ramuan, kelima ditempati oleh Louis Ashraf dari pavilliun elemen petir, keempat ditempati oleh Aditya Valentino dari pavilliun elemen batu, ketiga ditempati oleh Sean Anderson dari pavilliun elemen air, kedua ditempati oleh Elena Abraham dari pavilliun pemanggil, dan posisi pertama ditempati oleh Kavana Alvaro dari pavilliun elemen api," ucap penguasa menara. Ketujuh orang itu naik ke atas panggung untuk menerima jubah kebesaran serta bros berbentuk bintang yang terbuat dari emas murni.
"Senior Elena, lihat ke sini!"
"Senior Elena, tersenyumlah. Anda sangat cantik."
"Senior Elena, menikahlah dengan ku."
Para murid yang mengidolakan Elena bersorak gembira, banyak pria yang mengaguminya bukan hanya karena bakat melainkan juga karena wajahnya yang cantik.
"Pria-pria sialan!" batin Louis dan Kavana menatap tajam para pria yang menggoda Elena. Kavana juga jatuh cinta pada Elena sejak 3 tahun lalu.
Berita munculnya bintang agung baru tersebar luas dan cepat ke seluruh tempat, banyak orang yang mengagumi kehebatan ketujuh bintang baru itu. Dan para bintang dari daratan lain sangat menantikan kehebatan bintang agung yang baru.
Setelah diangkat menjadi bintang agung kesibukan Elena berkurang banyak, ia tidak lagi mengikut kelas atau berlatih keras. Ia menikmati hari dengan bersantai, melakukan apa yang selama 7 tahun ini tidak ia lakukan karena mengejar posisi sekarang.
"Elena," sapa Benton. Ia datang membawakan kue kering sebagai hadiah.
"Kakak, kau yang terbaik. Tahu saja kau jika aku sedang lapar, aku sangat mencintai mu," ucap Elena menatap kue kering buatan Benton.
"Kau mencintai kue buatan ku bukan aku. Dasar nakal! ambil ini." Benton memberikan nampannya pada Elena, Elena menerima nampan itu dengan senang hati.
"Setelah makan itu kita harus pergi. Mereka sudah menunggu untuk pesta," ucap Benton. Elena yang mulutnya sedang penuh hanya mengangguk saja.
"Anak ini. Setelah 7 tahun dia tidak berubah sama sekali, setelah menjadi orang penting juga tidak berubah. Aku beruntung mendapatkan junior sepertinya," batin Benton menatap Elena. Sesekali ia mengusap remahan kue di mulut Elena, baginya Elena sudah seperti adik sendiri.
******
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘