
"Mencari 1 orang saja kalian tidak becus. Aku ingin temukan Elena secepatnya atau kalian semua akan berakhir menjadi mayat," ancam Ernest kepada petualang yang ia bayar untuk mencari lokasi Elena.
Sudah lama ia mencari Elena. Tapi satu saja kabar tentangnya tidak ada, bahkan tidak ada petualang atas nama Elena Abraham di berbagai guild.
"Hari pertunangan semakin dekat dan Elena tidak juga muncul. Kenapa? kenapa kau bisa melepaskan aku sementara aku tidak bisa? kenapa Elena?" teriak Ernest mengacak-acak seisi kamarnya.
Ernest berhenti melampiaskan amarahnya saat Sonia masuk ke dalam kamar, Sonia sebenarnya sudah tahu apa rencana Jovanka maka dari itu ia akan membuat perhatian Ernest kembali padanya.
"Kau masih mencari Elena kan?" tanya Sonia dengan raut wajah sedih.
"Tidak!" jawab Ernest, ia berjalan mendekati Sonia lalu memegang pundaknya, "Aku tidak lagi memikirkan Elena, sungguh."
Sonia melepaskan tangan Ernest dari pundaknya. Ia menggenggam tangan itu, dan mulai meneteskan air mata palsu, "Jangan berbohong, aku tidak masalah jika kau memang masih mencintai dia. Lagi pula cinta mu itu murni jadi bagaimana bisa kau melupakan dia secepat ini, Ernest aku mengenal mu dengan sangat baik. Katakan yang sejujurnya pada ku."
Kaki Ernest terkulai lemas di lantai, Sonia juga ikut duduk di lantai bersama dengannya. Saat itu Ernest pun mengatakan segalanya pada Sonia, terutama rencana yang Jovanka buat untuknya.
"Kenapa harus kau sembunyikan semua itu dari ku? kau tau kan aku sangat mencintai mu, kau bisa menggunakan aku jika memang kau mau karena bagi ku apapun caranya selama bisa berada di samping mu aku tidak akan keberatan. Jika kau mau aku menjadi selir maka aku setuju, apa saja untukmu aku rela berkorban. Aku mencintai mu," ungkap Sonia walau terpaksa.
"Kau serius? Sonia ini bukanlah hal yang muda dan kau …."
Sonia menutup mulut Ernest dengan tangannya, "Demi kau agar bisa bahagia, jangankan membagi cinta jika harus aku akan menyerahkan nyawa ku. Jadi mari kita bekerja sama membawa kembali Elena kita, kau mau kan?"
Ernest tersenyum lalu memeluk Sonia, Sonia membalas pelukan itu walau wajahnya terlihat sangat kesal.
"Kau akan bergantung pada ku sampai tidak bisa melepaskan aku lagi," batin Sonia.
*****
Rasa takut seketika langsung menyelimuti Elios saat itu juga, tangan gemetaran melihat tanda lahir Elena. Sebuah kebenaran yang menyakitkan terbongkar di saat rencana besar mereka akan terwujud sebentar lagi.
Brak!
Elios membanting pintu kamar saat ia berlari keluar, Leon tidak sempat mencegahnya dan saat Elena bersama Leon mengejarnya, Elios sudah tidak terlihat lagi entah ke mana dia pergi menghilang.
"Tanda itu … tanda itu … tidak mungkin aku salah mengenalinya," batin Elios tersandar di tembok kamar mandi. Kakinya tidak kuat untuk melangkah lagi, ia merasa sangat ketakutan sampai nafasnya tidak teratur.
"Damian … aku harus mencari Damian." Elios memaksa dirinya untuk melangkah lebih jauh. Tapi tidak bisa, baru 2 langkah Elios terjatuh.
"Alden …." Tangisan Elios semakin menjadi-jadi, ia sampai menutup mulutnya agar suara tangis itu tidak terdengar orang lain.
Seketika area sekitarnya berubah menjadi hitam, Elios berhenti menangis karena ia bingung dari mana datangnya cahaya hitam yang sekarang menyelimuti dirinya.
"Bocah, apa kau baru saja menangis?" tanya seorang pria pada Elios.
Mendengar suara itu Elios terkejut, ia lebih terkejut lagi melihat wajah pria yang saat ini berdiri di depannya.
"Alden kau …." Suara Elios tidak bisa keluar lagi karena airmatanya menetes kembali seolah tidak mau berhenti.
"Ya ampun. Apa ini? apa kau mau membuat kolam air mata pada pertemuan kita?" tanya Alden lagi. Elios tidak bisa menahan diri ia pun memeluk Alden dan menangis sangat kencang.
Beberapa saat kemudian suara tangis Elioa tidak terdengar lagi. Tapi dia masih meneteskan airmata, Alden hanya tertawa melihat sahabatnya menjadi sangat rapuh.
Alden menepuk kepalanya seraya berkata, "Jika kau meninggal lalu siapa yang akan menjaga permata terakhir kami? jangan menyalahkan diri mu sendiri."
"Alden, aku … aku merindukan kalian. Jiwa mu masih ada di dunia ini, apa Rani juga?"
"Tidak. Jiwa Rani tidak ada lagi di dunia ini, hanya aku yang tertinggal itu pun aku tidak tau kenapa. Saat aku sadar jiwa ku sudah berada dalam tubuh Elena."
"Apa Elena itu …."
"Keponakan mu," jawab Alden memotong ucapan Elios.
"Aku ternyata tidak salah. Kau tau dia sekecil kelapa saat pertama kali aku memeluknya, dan sekarang dia sudah sebesar itu. Aku bahkan terlihat sangat kecil dalam pelukannya."
"Ya. Dia adalah satu-satunya yang Rani tinggalkan di dunia ini untuk keluargaku. Hal ini masih rahasia jadi tolong jaga rahasia itu, saat waktunya tiba aku akan berdiri di depannya lalu mengatakan dengan lantang jika aku ayahnya. Aku tidak tahu bagaimana anak itu tumbuh, syukurlah dia masih hidup."
"Alden, aku tidak tahu dulu. Tapi sekarang aku akan berdiri di pihaknya sebagai paman kecil yang penyayang."
"Kalau begitu aku titip permata kami pada mu. Para dewa sudah mulai mengincarnya jika sampai Raja dewa tau tentang Elena, maka mereka akan membunuhnya."
"Apa kau ingat apa nama Elena yang Rani tentukan saat dia masih dalam kandungan?"
"Ya itu adalah Jolicia, wanita yang menyukai petualang, berhati ceria penuh kegembiraan serta kebebasan. Sama seperti Rani."
"Nama yang cocok."
"Sepertinya waktu ku sudah tiba. Aku akan menemui mu lagi setelah bangun nanti," ucap Alden karena tiba-tiba tubuh Alden memudar karena waktunya sudah habis, ia harus pergi lagi.
"Aku … aku pasti … pasti akan menjaganya," tegas Elios. Alden hanya tersenyum kemudian hilang.
"Nak nak nak. Bangunlah." Elena menepuk pelan wajah Elios, tidak lama Elios membuka matanya.
"Syukurlah. Kau membuat ku sangat takut." Elena sangat senang melihat Elios sudah sadar.
"Ya ampun. Dia seharusnya bilang jika sangat ingin buang air, padahal dia bisa mengatakan pada ku jika memang sudah tidak tahan lagi. Dia ini merepotkan sekali." Leon mengomel karena mereka menemukan Elios pingsan di kamar mandi setelah berkeliling mencarinya
"Aku akan menjagamu," gumam Elios kemudian pingsan lagi.
"Eh!" Elena merasa ada sesuatu yang aneh sampai membuat jantungnya berdetak kencang mendengar ucapan itu.
"Kakak, apa harus aku panggilkan dokter?" tanya Leon membuyarkan pikiran Elena.
"Ya, tolong yah," pinta Elena, Leon dengan senang hati menurutinya.
"Menjaga ku. Kenapa rasanya sesak sekali saat dia mengatakan itu?" batin Elena menyentuh dadanya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘