The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 51 Fokuslah Elena.



Waktu berlalu sangat cepat bagi Vanessa yang terus memikirkan kapan Louis kembali, terkadang dia duduk diam di dekat jendela kamarnya Luca yang melihat itu menjadi sedih.


"Ibunda, apa masih menunggu kakak pulang?" tanya Luca pada Vanessa. Namun tidak di jawab, Vanessa tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tidak menyadari kedatang putranya sendiri.


"Ibunda." Luca menyentuh pundaknya membuat Vanessa tersadar.


"Kau? sejak kapan kau di sini?" tanya Vanessa membuat Luca ingin sekali tertawa.


"Baru saja datang, ibu sangat sibuk dengan pikiran ibu sampai tidak tahu kalau aku datang. Apa ibu memikirkan kakak?"


"Tentu saja. Dia pergi begitu cepat tanpa mengatakan apa pun pada ibunya ini, walah pun ibu bukan ibu kandungnya. Tapi dia sama pentingnya dengan mu, ibu khawatir padanya."


"Apa yang perlu dikhawatirkan? ini pilihan kakak, kita dukung saja dia. Dia mungkin akan kembali setelah menemukan kakak ipar."


"Itulah yang ibu khawatirkan. Anak muda sekarang ini sering lupa diri karena tenggelam dalam cinta, bagaimana jika mereka membuat kehidupan baru sebelum menikah? ibunda bisa gila memikirkan itu."


"Itu tidak mungkin. Karena perasaan kakak pada Nona Elena sudah di tolak, hari itu saat menjemput kakak dari akademik aku melihat segalanya. Wanita itu tidak menunjukan sedikit saja cinta untuk kakak, sementara kakak menunjukan kekecewaan dari raut wajahnya. Apa mungkin dia masih mencintai mantan tunangannya?"


"Ibunda tidak tahu bahkan tidak mau tahu akan hal itu. Sekarang dia milik Louis maka dia tidak bisa lepas dari Louis," ucap Vanessa. Ia tidak akan membiarkan Louis kehilangan cintanya, kalau perlu ia akan mengikat seluruh keluarga Elena agar Elena sendiri tidak bisa lepas dari putranya.


*****


Louis berjalan mencari keberadaan Elena di sekitar pavilliun angin, setelah itu ia pergi ke pavilliun pemanggil. Baru saja menginjakan kaki di area pavilliun, Louis melihat Elena mengangkat tong berisi herbal ke atas gerobak.


Louis pun melangkah mendekati Elena. Namun baru 2 langkah kakinya berhenti bergerak, setelah melihat seorang pria membantu Elena.


"Terima kasih Arthur. Kau sangat membantu," ucap Elena pada Arthur.


"Ke mana Bagas dan para pria lainnya? seharusnya ini pekerjaan mereka. Kenapa jadi kau?" tanya Arthur tanpa berhenti mengangkat tong tersebut.


"Mereka ada di dalam. Hari ini tugas mereka mengambil air, jadi aku yang mengambil alih tugas ini."


"Hentikan. Biarkan aku saja, wanita tidak bisa mengangkat benda berat."


"Hahahaha. Berat apanya? ini sangat ringan, walau pun terlalu banyak. Tapi aku bisa mengangkatnya, jangan meremehkan tenaga wanita."


"Aku tidak mau meremehkan kalian para wanita. Hanya saja jika masih ada pria yang bisa membantu, kenapa harus kalian yang bekerja? ini akan menyakiti harga diri kami."


"Wah. Kau pintar sekali dalam membantah rupanya. Ya sudah, bagian ini aku serahkan pada mu. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku di dalam." Elena menepuk pundak Arthur, kemudian dia melangkah pergi. Tapi, Arthur tiba-tiba mencekal tangannya, pemandangan tepat di depan mata itu membuat Louis sangat cemburu.


"Bawakan aku air jika kau kembali ke mari," ucap Arthur dijawab dengan anggukan oleh Elena, barulah setelah itu Elena masuk ke dalam pavilliun.


"Tidak membutuhkan aku bukan karena aku seorang pria. Lalu karena apa? kenapa tidak membutuhkan aku? Elena sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang ku?" begitu banyak pertanyaan muncul dalam hati Louis yang membuat dirinya sendiri tertekan.


Louis mulai berkeringat dingin, kepalanya sedikit pusing memikirkan semua hal terkait penolakan Elena akan dirinya. Karena pusing Louis berdiri jadi tidak stabil, dengan langkah sempoyongan Louis meninggalkan area pavilliun. Ia tidak sadar jika kakinya menginjak batu hingga membuat tubuhnya miring ke tanah.


"Apa yang kau lakukan? apa kau sakit? jika sakit jangan berkeliaran di luar ruangan," gerutu Elena. Ia sengaja kembali keluar saat melihat ada Louis, melihat Louis pergi dengan langkah sempoyongan Elena jadi khawatir dan mendekatinya beruntung ia menangkap tubuh Louis sebelum mendarat ke tanah.


Melihat Elena, Louis langsung berdiri normal dan menjauh darinya, "Apa yang aku lakukan, dan aku sakit atau tidak. Apa peduli mu?"


"Kenapa kau jadi marah begitu? aku bertanya karena khawatir pada mu."


"Khawatir? kau? pada ku? omong kosong. Selama ini aku hanya kau anggap angin yang lewat, lalu dari mana datangnya rasa khawatir itu? Aku tidak tahu apa masalah mu dengan ku sampai kau selalu menjauh dari ku. Aku mendekati mu itu karena …."


"Karena kau merasa kasihan pada ku yang merupakan wanita dikhianati oleh tunangannya sendiri," potong Elena, "Aku membantu mu karena aku masih memiliki rasa kemanusian, tidak lebih dari itu. Aku tidak punya masalah apa pun dengan mu, aku hanya tidak ingin kau terlibat dengan ku."


"Aku tidak …."


"Ah! aku tau. Kau mengikuti ku karena ini kan?" Elena mengeluarkan liotin giok dari dalam kantong bajunya, dan menunjukan liotin giok itu pada Louis.


Elena meraih tangan Louis dan meletakan liotin itu di tangannya, "Aku kembalikan. Jika aku tahu sejak awal itu alasan kau ingin dekat dengan ku, maka aku akan mengembalikannya lebih awal tanpa perlu menunggu kau datang padaku."


"Sudah kan. Kembalilah dan istirahat," ucap Elena berbalik seraya melangkah pergi.


"Kau salah Irene," ucap Louis membuat langkah Elena terhenti, "Aku tidak kasihan pada mu. Elena, kau gadis yang baik, kau mampu melangkah dan membangun identitas mu sendiri. Kau tidak perlu seorang pria untuk melangkah maju, aku tahu itu. Ta-tapi aku tidak mau mengerti akan hal itu, aku ingin tetap berdiri di samping mu. Padahal dulu saat aku tidak mau berharap, kau memberikan aku harapan dan liotin giok ini adalah buktinya."


Deg!


Samar-samar ada ingatan asing yang telah ia lupakan kembali masuk dalam pikirannya, penggalan dari ingatan itu adalah pria duduk sambil melempar batu sungai, dan memancing. Elena merasa kepalanya sedikit sakit saat gambaran ingatan itu datang.


"Semoga tuhan memberikan keberuntungan pada ku lewat jimat ini."


Ucapan pria itu teringat oleh Elena, perlahan gambaran dari dirinya. Dia adalah pria sederhana serta murah senyum, terkadang dia marah dan melampiaskan amarahnya pada air sungai. Wajahnya sangat mirip dengan wajah Louis.


"Gotu," gumam Elena. Ia pun berbalik untuk melihat Louis. Namun Louis sudah tidak berada pada tempatnya lagi, ia telah pergi sejak tadi karena Elena diam saja tanpa mengatakan apa-apa.


"Hei kau! kenapa malah diam di sana? pekerjaan mu masih banyak. Kembalilah!" perintah Carolina saat melihat Elena berdiri tidak jauh.


"Ya, aku akan segera kembali," jawab Elena berlari mendekat.


"Lupakan Elena. Dia tidak mungkin Gotu. Tapi bagaimana jika juga berinkarnasi sama seperti ku? itu mungkin saja terjadi pada siapa pun, aku tidak ke mari untuk memikirkan masa lalu. Fokuslah Elena fokus," batin Elena. Ia berusaha melupakan ucapan Louis beberapa saat yang lalu, ia menggunakan pekerjaan sebagai tempat untuk mengalihkan pikirannya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘