The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 116 Perintah untuk Dewa Perang.



Alfred sudah tidak bisa menunggu Grace lebih lama lagi, ia ingin sekali merebut Jolycia secepatnya dan membunuh Elena. Maka dari itu ia pergi menemui Dewa perang Ghaisan.


"Apa tidak ada pilihan lain sebelum mengambil jalan untuk memulai perang?" tanya Ghaisan, sebab walau bagaimana pun juga ia tidak ingin perang terjadi.


"Aku mana sudi melayani pria buruk sepertinya," batin Ghaisan. Ia telah menyelidiki semua tentang Alfred beberapa bulan lalu.


"Mereka yang tidak memberi ku pilihan lain. Aku sampai harus bertindak pada Simon karena dia melawan ku, lagi pula perang akan cukup menguntungkan bagi kita," jawab Alfred seenaknya.


"Akan ada banyak bahaya yang terjadi jika memulai perang, bagaimana jika kerusakan perang kali ini lebih buruk dari perang terakhir kali. Apa lagi anda sudah bersumpah maka …."


"Aku tahu, kau sedang mencoba menghalagi aku agar tidak memulai perang karena Valkyrie berada di pihak Elena, lagi pula jika hal buruk terjadi maka aku hanya perlu melakukan permurnian lagi."


"Tidak! bukan seperti itu. Jika memulai perang maka kita harus berpikir jauh ke depan, tahap permurnian itu bukanlah mainan bagi kita."


"Diamlah. Aku adalah raja mu, kau harus mematuhi ku. Jika aku bilang kibarkan bendera perang maka harus dikibarkan, dan kau harus berada di pihak ku bersama Valkyrie."


"Itu …."


"Kau tidak bisa ragu karena tidak ada tempat bagi pengkhianat di dunia atas. Jika dalam 3 hari kau tidak mengibarkan bendera perang maka, Valkyrie yang akan menanggung akibatnya," ancam Alfred kemudian dia menghilang dengan cepat dari hadapan Ghaisan.


"Sial! dia menggunakan cara yang sama untuk memaksa ayah dan ibu ikut berperang. Aku tidak bisa diam saja, aku harus menemui orang itu," batin Ghaisan. Ia memakai jubah kebesarannya kemudian pergi ke dunia bawah untuk menemui Elena.


*****


Setelah latihan selama 6 bulan akhirnya Elena bisa mengalahkan Baal dan Blake dalam duel, Hans pernah ditantang. Namun dia menolak karena kekuatan Elena terlalu menakutkan, jika dia kalah di depan banyak orang maka namanya sebagai dewa kematian akan tercoreng.


"Nona." Casey berteriak memanggil Elena sambil berlari mendekat, "Dewa perang datang untuk menemui anda."


"Aku?" Elena terkejut karena orang yang sangat penting seperti itu datang ke dunia bawah hanya untuk menemuinya.


Elena tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama, jadi ia hanya mengganti pakaian tanpa mandi terlebih dahulu. Setelahnya Elena pergi menemui Ghaisan di ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu Elena duduk di kursi khsusus untuknya, di sampingnya juga berdiri Damian, Yoluta, dan Casey.


"Jadi, apa yang membawa anda kemari?" tanya Elena memulai pembicaraan.


"Saya datang hanya untuk mengajukan usul yang bagus. Saya yakin anda akan menyukainya," jawab Ghaisan.


"Usul? tapi untuk apa? kami tidak ada di posisi yang bisa menerima usul dari anda."


"Saya tahu, tapi hanya anda yang bisa mendengar usul ini, bagaimana?"


"Baiklah, katakan saja."


"Lebih baik anda tidak memulai perang dengan dunia atas," singkat Ghaisan.


Brak!


Yoluta memukul meja dengan sangat keras, "Lancang. Anda pikir siapa anda berani mengatakan hal itu didepan nona kami, apa anda meremehkan kami?"


"Yoluta. Jangan bertindak sopan pada tamu, kau sudah berjanji tidak akan bertindak kelewatan saat ada tamu, karena kau ingkar maka keluarlah dulu dari sini," perintah Elena. Yoluta menatap tajam Ghaisan hingga akhirnya berlalu dari ruang tamu.


"Apa yang kalian tertawakan? tidak ada badut di sini! pergilah! jangan menatap ku atau ku bunuh kalian semua," teriakan Yoluta terdengar sampai ke dalam ruang tamu.


"Ada monster mengamuk, selamatkan diri kalian," teriakan Vivian juga terdengar sampai ke dalam. Elena hanya bisa menghela nafas karena mereka berulah tanpa tau situasi dan kondisi.


"Saya tidak tahu jika masih ada pelayan yang selancang itu, apa anda tidak mendidiknya dengan baik?" tanya Ghaisan membuat Elena kesal.


"Mereka adalah keluarga ku, jika anda tidak suka dengan sikap mereka maka anda tau kan disebelah mana pintu keluar," jawab Elena membuat Ghaisan tersenyum.


"Anda sangat mirip seperti dalam cerita mereka. Sebelumnya terima kasih telah menjaga adik-adik saya," ucap Ghaisan. Kali ini nada suaranya jauh lebih lembut.


"Adik?" Elena kebingungan karena ia sendiri tidak kenal Ghaisan.


"Para Valkyrie. Mereka adik-adik saya."


"Mana mungkin. Kenapa mereka tidak bilang jika kakak mereka adalah dewa perang, mereka itu benar-benar keterlaluan."


"Hahahaha, jangan dipikirkan. Anda sendiri tidak tahu jika Valkyrie adalah dewi perang, mereka mengatakan. Nona selalu saja bilang kami ini kembar 10, nona benar-benar tidak tahu apa itu Valkyrie dan itu membuat kami nyaman dengannya."


Blush!


Wajah Elena seketika memerah karena malu, ia menundukan kepalanya sebab tidak kuasa menahan rasa malu menatap wajah Ghaisan.


"Jadi kenapa anda mengatakan jangan memulai perang saat raja kalian sendiri menginginkannya?" tanya Elena dalam keadaan tetap menunduk diatas meja


"Karena kami tidak menginginkan perang. Ada banyak dewa yang mengalami trauma besar karena perang terakhir, apalagi alasan perang itu hanya karena sebuah penghinaan yang entah benar atau tidak. Aku tidak masalah jika harus mengibarkan bendera perang. Akan tetapi bagaimana dengan yang lain? walau pun dewa mereka tidak punya hak meminta atau menolak perintah raja kami. Saya sendiri diancam untuk membawa Valkyrie dalam perang, saya tidak berdaya untuk menolak karena sebagai kakak saya harus melindungi mereka, sayangnya tidak sebagai dewa perang. Anda hanya dendam pada raja kami bukan? maka anda hanya perlu melawan raja kami tanpa melibatkan mereka yang tidak bersalah."


"Saya sudah mengumpulkan bukti keburukan raja kami. Namun bukti ini masih belum cukup untuk menjatuhkannya, dia berada di posisi yang tidak akan jatuh semudah itu apalagi banyak manusia yang percaya padanya untuk menyakinkan mereka kita perlu lebih banyak bukti," lanjut Ghaisan.


"Sebenarnya aku juga bersama yang lain telah mengumpulkan banyak bukti, dan kita bisa saja menggabungkan bukti kita untuk melawannya, tapi seperti katamu tadi ini masih belum cukup kuat," jawab Elena.


Tiba-tiba dari luar Brunhilde menerobos masuk bersama Yoluta, ia tertangkap basah saat menguping dari luar.


"Nona, ada tamu lain lagi. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu," ucap Yoluta.


"Maafkan saya, kakak, nona. Tapi aku ingin bertemu nona, jika apa yang kakak katakan benar, maka akan saya dukung. Saya juga tidak mau melawan nona, setelah kehilangan kedua orang kami bagaimana kami bisa kehilangan nona juga. Tolong terima lah usul kakak saya, saya mohon," pinta Brunhilde.


Elena tidak menjawab ia langsung berdiri kemudian berjalan mendekati Brunhilde. Elena sampai memukul pelan kepala Brunhilde seraya berkata, "Jika sudah datang kenapa tidak masuk? kau seharusnya masuk saja, dasar Brunhilde bodoh."


"Habisnya saya takut mengganggu, saya merasa tegang sekali di luar karena nona lama sekali untuk menjawab ucapan kakak. Sampai akhirnya saya diajak masuk oleh wanita tadi," jawab Brunhilde.


"Mari ikut aku." Elena mengajak Brunhilde duduk di dekatnya. Dengan kehadiran sang adik, Ghaisan mulai unjuk kehebatannya dalam menjelaskan semua rencana yang telah ia susun.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘