
Pesta teh Vanessa di adakan dengan sangat meriah, ada juga para nyonya bangsawan hadir sambil membawa anak mereka atau calon menantunya. Sama halnya dengan Liliana karena ia membawa Qinthia.
"Selamat datang Marchioness Abraham." Vanessa kedatangan Liliana dengan pelukan hangat. Melihat itu Jovanka tidak senang.
"Aku sangat ingin bertemu dengan anda," ucap Vanessa membuat Liliana kebingungan.
Pasalnya Liliana jarang bertemu dengan Vanessa bahkan mereka tidak pernah bicara selain bertegur sapa untuk formalitas. Namun ia tidak tau kenapa Vanessa sangat senang dengan kedatangnnya, Qinthia sendiri mengangkat pundaknya saat Liliana memberi isyarat.
"Selamat siang Permaisyuri Vanessa, lama tidak bertemu," sapa Jovanka, ia berusaha menyadarkan Liliana jika dirinya dan Vanessa juga sangat dekat.
"Lama tidak bertemu duchess. Silakan duduk di mana saja," balas Vanessa bersikap dingin.
"Ayo Qinthia, Marchioness Abraham. Kita duduk bersama." Vanessa mengajak kedua wanita itu duduk di sisinya.
"Sejak kapan permaisyuri dekat dengan Liliana?" batin Jovanka.
"Baiklah karena semua nyonya bangsawan sudah hadir maka mari kita mulai pesta tehnya. Aku secara khusus menghidangkan teh herbal buatan putra ku, kalian tahu kan bakatnya sebagai ahli ramuan sangat sempurna jadi silakan menikmati sepuasnya. Ia ingin semua nyonya mencicipi teh buatannya," ucap Vanessa membuka pesta tehnya.
"Teh ini sangat enak. Rasanya sangat menyegarkan, aku merasa seperti hidup kembali," puji nyonya bangsawan 1.
"Harus aku akui bibi. Teh buatan Kak Luca memang yang terbaik, bibi beruntung memiliki dia sebagai putra," puji Qinthia juga.
"Kau ini." Vanessa mencubit gemas pipi Qinthia, "Lalu bagaimana dengan pernikahan mu?"
"Hahahahah. Adik ipar kau jangan menggodanya atau dia akan meledak, Aaron ingin menikah secepatnya. Tapi Qinthia masih belum memberikan jawaban, aku senang Aaron menghormati Qinthia dan tidak memaksa putri ku untuk memberi keputusan," jawab Lydia.
"Tidak seperti itu. Aaron pernah mendesak jawaban dari Qinthia. Tapi Qinthia adalah wanita yang tegas, maka dia menegaskan untuk memberikan waktu lebih banyak dalam hubungan mereka. Aaron hanya mematuhi Qinthia karena dia itu paling takut dengan Qinthia," sela Liliana.
"Wah. Mereka pasangan yang serasi, pernikahan karena cinta memang selalu indah. Kita harus menjadikan kisah mereka sebagai contoh."
"Saya setuju. Putraku yang suka bermain wanita menjadi pediam lalu masuk ke istana sebagai pejabat administrasi keuangan, itu semua berkat Tuan muda Aaron."
"Tapi sayang sekali banyak wanita muda yang patah hati, mereka menjadi sangat sedih saat melihat ternyata tunangan Tuan muda Aaron adalah wanita yang sangat cantik."
Para nyonya bangsawan mulai memuji hubungan Aaron dan Qinthia, dulu hubungan Ernest dengan Elena selalu menjadi topik panas dalam setiap pesta teh. Namun sekarang semuanya berubah, Jovanka bahkan tidak dianggap dalam pesta teh ini, bahkan Vanessa bersikap dingin padanya padahal dulu mereka berdua sangat dekat.
"Kalian jangan membicarakan pernikahan itu sekarang," timpal Jovanka membuat suasana menjadi buruk.
"Eh! apa kalian masih belum tahu?" Jovanka pura-pura terkejut, "Aku dengar Nona Elena Abraham melarikan diri dari rumah, jadi bagaimana bisa pernikahan dimulai saat ada anggota keluarga yang hilang."
"Bagaimana ini? kenapa dia tau hal itu padahal kabar itu sengaja dirahasiakan? apa jangan-jangan …." batin Liliana merasa curiga dengan Jovanka.
"Apa itu benar?" tanya Vanessa pada Liliana. Ia sendiri tidak percaya wanita yang dicintai oleh Louis tidak ada di ibu kota, ia sampai merasa alasan Louis semakin berulah itu karena dia ingin menyusul Elena yang melarikan diri.
Seketika situasi langsung terbalik kini Liliana yang mendapatkan tatapan tidak menyenangkan, semua nyonya bangsawan ingin mendengar kebenaran dari kabar tersebut. Jovanka menyeringai pada Liliana, Liliana semakin yakin jika Jovanka meletakan mata-mata di kediamannya.
"Saya rasa ini tidak perlu saya rahasiakan lagi. Ya ampun padahal ini masalah keluarga yang tidak disebar luaskan, entah dari mana Duchess Ransom dengar tentang ini atau memang ada yang informan duchess di kediaman kami," ucap Liliana. Namun diabaikan oleh Jovanka, nyonya bangsawan tidak peduli bagaimana kabar itu tersebar karena mereka ingin penjelasan yang lain.
"Sebenarnya sejak kejadian di perjamuan persahabatan 4 tahun lalu, putri ku mengalami gangguan kesehatan jiwa. Ia sangat terpukul apalagi setelah saat itu Tuan muda Ernest selalu mencari alasan untuk menyangkal dari perbuatannya, kalian juga pasti sudah dengar tentang ancaman itu. Jika ada yang berani menikahi atau bertunangan dengan Elena maka akan berurusan dengan Kediaman Duke Ransom," ungkap Liliana untuk menyerang balik Jovanka.
"Jangan bicara omong kosong. Kenapa anda menggunakan kejadian lama sebagai alasan sikap buruk putri mu? putra ku tidak melakukan apa yang kau katakan, bahkan berpikir melakukan itu saja dia tidak pernah. Ernes sangat setia dan kejadian itu hanya salah paham saja, justru Elena berlebihan dalam menanggapinya," sanggah Jovanka.
"Tidak. Aku sudah mendengar kabar ancaman itu," sela Vanessa berbohong.
"Oleh karena itu, putri saya yang baru saja kembali dari akademik menjadi frustasi lagi. Dia sempat sakit karena ancaman Ernest itu, karena merasa sayang dengan kondisinya kami sekeluarga memutuskan untuk meminta dia berpetualang ke mana saja dia ingin untuk menata kembali hati serta jiwanya. Awalnya dia menolak hanya karena kami mendesak, akhirnya dia setuju untuk pergi. Sebelum dia kembali kami akan mempersiapkan pernikahannya keluar negeri," jelas Vanessa mendapatkan simpati dari semua nyonya bangsawan, mereka mulai menunjukan aura permusuhan dengan Jovanka.
"Kenapa harus keluar negeri? tuan muda bangsawan di kekaisaran kita sangat banyak. Untuk apa pergi ke tempat yang jauh?" tanya Vanessa pada Liliana, ia akan memulai topik utama pesta teh ini.
"Benar sekali. Kita keluarga sekarang jadi jangan pikirkan itu lagi, kami akan membantu mencarikan pria yang cocok untuk Elena. Lebih baik dari pria sebelumnya," sindir Lydia melirik Jovanka.
"Adik ipar ku benar. Jika tuan bangsawan takut dengan ancaman yang entah benar atau tidak itu, bukan berarti Elena harus ke luar negeri. Dia masih bisa menikah dengan putra ku Louis Ashraf, dia adalah pria yang baik dan sangat penyayang. Aku yakin dia akan membahagiakan Elena," saran Vanessa membuat banyak nyonya bangsawan tersenyum bahagia, mereka setuju.
"Ap-apa ini? bagaimana mungkin posisi Elena bisa berada diatas Ernest? ini tidak bisa. Apa pun yang terjadi Elena tidak bisa bahagia jika tidak dengan putra ku," batin Jovanka meremas cangkir tehnya.
"Saya akan membicarakan ini dengan keluarga besar kami. Terima kasih permaisyuri atas saran pertunangan ini." Liliana dengan senang hati ingin menerimanya. Tapi keputusan harus di ambil banyak orang, demi Elena.
Vanessa akhirnya merasa lega karena dia masih tidak percaya jika membuat pertunangan antara mereka akan semudah ini, secara tidak langsung ia berterima kasih pada ancaman yang keluar dari mulut Ernest. Dengan begini ia hanya perlu meminta pendapatan kaisar serta Louis, Vanessa juga akan menjadikan pertunangan ini sebagai syarat agar Louis tidak melepaskan diri posisinya.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘