The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 89 Kalian akan tinggal bersama ku.



Hari ini sama seperti biasanya Elios bangun sebelum matahari terbit untuk latihan pagi, setelah itu ia mandi lalu berganti pakaian dengan pakaian kesatria.


"Hari ini kau lebih nekad rupanya," ucap Elios sambil mengancing kemejanya.


Teodora yang sedari tadi berdiam diri dibalik jendela kamar Elios pun masuk, ia menatap Elios dengan tatapan penuh kecurigaan.


"Apa kau ingin melahap ku dengan tatapan mu itu?" tanya Elios yang mulai menyisir rambutnya.


"Aku tidak akan melepaskan kau dari pengawasan ku, aku tahu kau sudah mengetahui banyak hal tentang Elena," jawab Teodora.


"Kau ingin aku mengatakan apa yang ingin kau dengar. Tapi sayangnya hal itu tidak aku ketahui, aku mengikuti Elena untuk tujuan lain."


"Jangan berbohong! kau ingin menyembunyikan hal itu sampai kapan? Damian dan yang lainnya juga sudah tahu, hanya saja yang lain masih belum percaya karena kurangnya bukti."


"Maka aku pun sama dengan mereka. Aku juga tidak tahu, sekali pun aku tahu aku tetap tidak akan percaya semudah itu. Apalagi buktinya tidak ada, lagi pula memikirkan bagaimana Elena dan anak palsu Rani itu bisa tertukar aku tidak mau karena itu merepotkan."


"Kau ini … dasar keras kepala! apa untungnya bagi mu menyembunyikan itu semua dari ku, aku sudah tahu dia anak Rani karena dia memiliki kekuatan avatar ku. Tidak mungkin Rani memberikan kekuatan avatar itu pada orang lain, dan mengingkari ucapannya. Bukti terbesarnya bukan hanya itu, wajah Elena dan Rani sama persis."


"Kalau begitu kau percaya saja untuk diri mu sendiri jika Elena adalah anak Rani, tidak perlu meminta aku mengatakannya. Siapa saja yang mengatakan itu apa bedanya. Kau hanya ingin aku membenarkan ucapan mu saja, dasar egois."


"Aku tidak egois. Aku hanya merindukan dia, kau tahu 530 tahun lamanya aku menunggu dan terus menunggu sambil berharap Rani datang pada ku. Setelah tahu tentang Elena aku merasa bahagia, lalu kenapa kau tidak mau mengerti? aku hanya ingin berhenti berharap setelah sekian lama."


"Sayangnya aku tidak bisa membantu mu, Teodora. Ada beberapa alasan kenapa aku harus di samping Elena, contohnya seperti balas dendam."


"Kalau begitu pada siapa?"


"Siapa lagi jika bukan Euros. Dia salah satu dewa yang berani membuang ku dari dunia atas, dan dia ingin menjadikan Elena sebagai avatarnya. Sayang sekali, itu tidak akan pernah terjadi selama masih ada aku."


"Itu tidak benar. Aku tahu saat Rani melahirkan kau juga ada bersamanya kan?"


Bugh!


Lantai di bawah kaki Rani berbunyi seperti di tendang dari bawah, Rani mengerutkan dahinya lalu menyentuh lantai itu.


Plak!


Elios memukul tangan Teodora saat ia hampir menyentuh lantai itu, "Karena kau berisik, orang di lantai bawah jadi marah. Jangan sentuh karena tangannya pasti masih menempel pada lantai, jika kau sentuh dia akan berpikir aku menantangnya."


"Maafkan aku." Teodora pun berdiri kembali.


Elios menarik Teodora lalu mendorongnya keluar melalui jendela, "Pergilah! jangan ganggu aku karena sampai kapan pun, kau tidak akan mendengar apa pun keluar dari mulut ku tentang apa yang ingin kau dengar."


"Aku akan buat kau mengatakan hal itu nanti," tantang Teodora dan lekas berlalu dari kamar Elios.


Setelah itu Elios menutup jendela kamarnya rapat-rapat, lalu ia meletakan tangannya di lantai seraya berkata, "Ruang dimensi, terbukalah."


Cahaya ungu keluar dari tangan Elios dan menyebar ke seluruh ruangan, seketika kamar Elios berubah menjadi kamar tahanan. Di sana terbaring seorang pria dan wanita.


"Astaga, aku lupa menambah dosis racunnya kemarin. Kau ini kuat sekali rupanya, sampai bisa menembus ruang dimensi ku," ucap Elios membuka tutup botol racun lalu meminumkannya kepada pria yang berbaring di atas ranjang.


"Maafkan aku, racun ini hanya akan melumpuhkan tubuhnya saja. Untuk Amelia." Elios menatap Amelia yang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang lain, "Dia terjebak dalam ilusi mimpi, dalam mimpi itu ia seolah menjalani kehidupan seperti biasa. Dia tidak terluka bahkan sangat bahagia. Aku tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari ini."


"Apa kau musuh Elena? kenapa kau berdebat dengan wanita tadi tentang Elena?" 


"Tidak, Elena adalah keponakan ku. Aku melakukan ini pada kalian karena kebenaran tentang siapa Elena sebenarnya tidak bisa terbongkar sekarang, atau para dewa tidak akan melepaskan Elena begitu saja. Siapa saja yang tahu tidak akan percaya karena bukti tentang siapa Elena masih belum banyak, dan jika kau mengatakan Elena putri Rani maka bukti akan semakin besar. Sampai waktu yang tepat tiba aku akan mengurung kalian berdua di sini."


5 Tahun lalu ….


Elios sedang menjalankan misi pertamanya sebagai kesatria junior, ia menaklukan banyak bandit pada salah satu bukit.


"Bau naga?" batin Elios merasakan keberadaan Aizen dan Amelia, karena penasaran siapa naga itu Elios pun pergi mencarinya.


"Kalian, naga dari mana?" tanya Elios menemukan Aizen dan Amelia yang sedang beristirahat di pinggir sungai.


"Siapa kau? kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Aizen bersiap menyerang.


"Aku Elios, kalau kalian? siapa?" 


"Aku mantan kaisar naga, Aizen. Dan dia tunangan ku, Amelia. Kami dalam perjalanan pergi mengunjungi kerabat kami di dunia bawah."


"Naga di dunia bawah hanya Damian dan Casey, apa mereka berdua yang kalian maksud?"


"Tidak, hanya Damian saja. Dia adalah saudara ku."


"Aku adalah sahabat tuan mereka, apa aku boleh tahu alasan kalian ke sana? karena bagian dari dunia atas tetap tidak bisa di percaya begitu saja."


"Apa kau sahabat penguasa monster? tujuan kami menemui Damian menyangkut tuannya, maafkan aku karena tidak tahu kau adalah orang yang penting."


"Sayang sekali, aku tidak mau di katakan sahabat pria menyebalkan itu. Aku adalah sahabat Rani."


"Benarkah? aku dari dulu sangat mengagumi Rani, dan ingin melayaninya hanya saja itu tidak bisa tercapai. Kebetulan kau sahabat Rani, maka kau harus tahu tentang kabar baik dari ku. Aku berhasil menemukan putri Rani, namanya Elena. Mereka sangat mirip," ucap Aizen sangat antusias, dia tidak tahu ucapan itu akan membuatnya dikurung selama 5 tahun oleh Elios.


"Wah, kabar yang sangat baik." Elios berjalan mendekati Amelia, lalu ia menggunakan kekuatan petirnya untuk membuat Amelia pingsan.


"Apa yang kau lakukan?" Aizen marah besar dan berniat menyerang Elios. Namun Elios mencegahnya, dan menjadikan Amelia sebagai tameng serangan.


"Mau menyerang ku? apa kau yakin?" tindak Elios membuat Aizen tidak berani bergerak. Elios memberikan botol berisi racun pada Aizen lalu meminta Aizen meminumnya, Aizen tidak mau. Namun ia takut Elios melakukan hal berbahaya pada Amelia, jadi ia meminum semua racun itu dan hanya dalam sekejab ia terbaring di tanah, sampai tidak punya sedikit pun tenaga  untuk bergerak.


"Baiklah, kalian berdua akan tinggal dengan ku." Elios tersenyum pada Aizen yang perlahan menutup matanya.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘