The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 115 Nyaris ketahuan.



Hari sudah gelap dan Grace masih belum kembali, Alfred merasa ada hal buruk yang terjadi hingga Grace tidak kunjung kembali.


"Mereka semakin menyebalkan saja. Terutama para tetua serta penguasa daratan agung, walau pun penguasa 2 daratan lain menentang mereka karena memberontak pada ku, mereka tidak peduli sama sekali. Jika saja aku tahu di mana Elena mereka sembunyikan maka aku akan menghancurkan Daratan Agung, sial! Jolycia juga, berani sekali dia mengkhianati ku sampai bertunangan dengan putra pengkhianat," batin Alfred.


*****


Brak!


Yoluta mengeluarkan semua buku tentang kekuatan gelap, buku dari level dasar hingga level tinggi untuk Elena pelajari.


"Apa level ku akan naik jika belajar semua isi buku ini?" tanya Elena, sudah lama ia tidak membaca buku.


"Cukup mengejutkan. Dikehidupan sebelumnya level ku memang tidak naik juga sampai tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan Ernest atau Sonia," batin Elena.


"Pada dasarnya level anda tidak naik itu karena kekuatan elemen angin memang bukan kekuatan murni, jika anda mempelajari kekuatan ahli ramuan atau kegelapan maka anda bisa menaikan level dengan cepat," jelas Yoluta.


"Tapi kenapa bisa aku menjadi seorang pemanggil? bukankah ibu atau ayah bukan seorang pemanggil?" 


"Anda salah. Tuan Alden adalah seorang pemanggil, sebagai penguasa atau raja para monster beliau akan bertarung dengan para monster? kekuatan beliau memang sudah cukup hebat sampai tidak perlu memanggil siapa pun lagi. Tapi, jika terdesak beliau akan memanggil kami."


"Terdesak? apa orang kuat akan terdesak juga?"


"Ya, saat beliau perlu handuk dan air hangat untuk cuci muka kami akan dipanggil, saat beliau tiba-tiba lapar diruang kerja, atau saat beliau ingin dijemput dengan kereta kuda."


"Sampah. Tapi Yoluta itu monster jenis apa?"


"Kraken, saya bertemu beliau di laut ratusan tahun lalu," jawab Yoluta dengan bangga.


"Baiklah. Aku akan belajar dulu, tolong jangan biarkan siapa pun masuk ke mari," ucap Elena, Yoluta mengangguk kemudian ia keluar dari perpustakaan.


"Yosh. Ayah, kau ada di sini kan? aku belajar merasakan aura mu dari Damian, jadi muncullah jika iya," ucap Elena. Tidak lama Elena tenggelam dalam ruang dimensi Alden.


Elena terkejut karena bukan hanya dia, kursi meja serta buku-buku itu pun masuk ke dalam ruang dimensi Alden. Sementara Alden duduk diujung ruang dimensi, ia tidak mau mendekati Elena.


"Maafkan aku," teriak Elena, suaranya memenuhi ruangan itu. "Kemarin itu aku terlalu terkejut sampai berkata kasar, aku tidak akan mengatakan jika itu hal yang wajar karena sebagai anak yang berkata kasar pada ayah untuk alasan apa pun itu tetap salah."


Alden diam saja, ia tidak bergeming dari tempatnya.


Elena pun duduk dilantai dan berkata pada Alden, "Aku punya ayah yang luar biasa baiknya, dalam keluarga kami dia orang paling hebat apalagi kami semua sayang padanya. Jika anak punya ayah yang seperti itu lalu ada orang lain berkata, aku ayah mu atau dia itu ayah mu maka seorang anak akan bereaksi seperti apa? tentu saja reaksinya ada bermacam-macam, tapi yang pasti dunia seakan runtuh karena hal itu. Aku masih merasa sakit, tidak percaya, dan hancur."


"Tapi, sekarang tidak terlalu aku pikirkan lagi sebab ada seseorang lebih kuat dari ku padahal kami ada di posisi yang sama. Apa sudah terlambat bagi ku untuk mengenal ayah sekarang?" tanya Elena. Alden perlahan berdiri lalu ia berlari mendekati Elena dan memberikan Elena pelukan.


"Sudah sudah sudah." Elena mengusap punggung Alden, tidak lama ia melepaskan pelukan Alden lalu mengambil semua buku yang tadi Yoluta berikan padanya, ia meletakan buku itu di depan Alden.


"Ajarkan aku ini," pinta Elena.


"Untuk apa? kau lebih baik hidup sebagai manusia, kau harus baha …."


"Bagaimana bisa aku bahagia, jika orang yang membuat aku kehilangan segalanya masih hidup dan membuat masalah tanpa akhir, aku ingin dia membayar semua yang dia berikan."


"Apa kau yakin? saat kekuatan mu bangkit maka kau akan menjadi setengah monster."


"Baiklah, ayo mulai." Alden mengajarkan semua cara melatih kekuatan gelap, ia mempercepat penjelasan sebelum ruang dimensinya menghilang. Elena mendengarnya dengan baik, lalu setelah ruang dimensi Alden menghilang ia memperagakan semua yang ia dengar dan pahami.


Sudah 6 bulan berlalu Elena berlatih dalam perpustakaan, orang-orang datang tidak berani masuk. Yoluta mengantarkan makanan hanya sampai di depan pintu saja, mereka tidak mau mengganggu Elena.


*****


Di sisi lain Liliana merasa sangat terpukul karena Elena tidak kunjung kembali, Liana sendiri tidak tahu di mana keberadaan Elena selama beberapa bulan terakhir.


Kelulusan murid bagian dalam di percepat oleh penguasa menara, setelah hari itu Liana bersama Elios dan Leon tinggal di kediaman Abraham. Sejak mereka tiba 5 bulan lalu Liliana tidak pernah terlihat bahagia, kerinduannya akan Elena terlalu besar.


Elios sudah mencari Elena kebanyak tempat yang pernah Elena datangi. Namun tidak ada jejak Elena sama sekali, satu-satu tempat yang belum ia datangi adalah dunia bawah walau pun bagi Elios mustahil Elena berada di sana.


"Aku sudah kirim surat pada mu, Elena tidak ada di sini. Apa yang membuat berpikir Elena itu ada di sini? kau tidak lupa kan kalau kau bersikeras tidak akan memberi tahu Elena tentang kita, dasar." Kesal Damian, sudah pasti kesalnya itu bohong.


"Tidak perlu marah, aku hanya bertanya. Elena menghilang sudah cukup lama, ini rasanya sama sekali tidak masuk akal," balas Elios menopang dagunya dengan tangan diatas meja.


"Damian." Hans datang bersama Rafael membawa beberapa kotak senjata yang telah mereka lengkapi dengan kekuatan kematian, khusus untuk para kesatria monster. Persiapan perang melawan Alfred.


"Apa ini?" tanya Elios menatap tajam Hans. Ia berdiri lalu mendekati Hans, ia memeriksa semua kotak yang di bawa oleh mereka. "Senjata? untuk apa?"


"Peranglah, untuk perang. Jangan bilang anda lupa akan hal itu," jawab Rafael. Ia tidak tahu jika rencana perang itu bersifat rahasia.


"Kalian mau perang dengan siapa?" tanya Elios lagi.


"Tentu saja, raja para dewa. Kalau bukan dia siapa lagi?"


"Lebih baik lupakan saja, ini bukan saat yang tepat untuk hal itu."


"Kita tidak bisa menunda lagi, kita harus bergerak sebelum dia bergerak."


"Bukankah dia tidak menunjukan pergerakan beberapa bulan terakhir?"


"Dia hanya menunggu Grace kembali untuk memulai perang, kekuatan Grace sangat penting. Tapi semua baik-baik saja, karena Grace sudah menjadi tahanan raja iblis saat ini."


"Aku tidak percaya kalian sekonyol ini. Elena menghilang, kita harus mencarinya dulu sebelum memulai perang lagi pula perang bukan mainan anak-anak. Jangan gegabah."


"Elena menghilang?" Rafael menatap wajah Damian kebingungan, Damian memberi kode untuk diam.


"Ya. Kerusakan di menara agung juga kematian tetua agung mungkin mengguncang Elena sampai dia menghilang, aku paham perasaannya. Pria itu memang sudah kelewatan, perang akan terjadi dan itu sudah pasti hanya saja bukan sekarang saatnya. Bersabarlah." Elios menepuk pundak Rafael kemudian ia berpamitan dan pergi dari dunia bawah.


"Nyaris ketahuan," batin Damian seraya bernafas lega.


*****


Bersambung


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘