
Jika orang lain pergi berburu hewan untuk dipanggang. Namun sekarang Elena bersama Liana, Carlos dan Louis pergi berburu monster untuk di bunuh.
Mereka menerima surat jika di hutan sebelah utara yang letaknya di luar ibu kota mendadak muncul 3 gua aneh, sudah banyak pemburu pergi ke sana dan tidak pernah kembali.
Sesampainya di hutan itu Elena bersama yang lain berpencar menjadi 2 tim, ia bersama Louis pergi ke arah selatan sementara Carlos dan Liana pergi ke arah barat. Tidak ada yang tahu pasti lokasi gua itu jadi mereka harus berpencar.
Setelah berkuda kurang lebih 20 menit akhirnya Elena dan Louis menemukan satu gua, di sana ada pasukan goblin bersenjata. Keduanya tidak tahu akan sebanyak apa gobli di dalam gua jika di luar saja sudah sangat banyak.
"Memanggil." Elena memanggil semua familiarnya untuk menyerang, Louis juga sudah siap dengan pedang petir di tangannya tidak lupa Louis memakaikan Elena perisai untuk menahan serangan tingkat tinggi dari kekuatannya sebagai ahli ramuan. Sebagai balasannya Elena meminta Louis menunggangi Salamander, sementara ingin dirinya duduk di pundak Hydra. Akan tetapi Louis menolak, ia lebih ingin bersama Hydra karena ia cemburu melihat Elena duduk di pundak seorang pria tampan.
Serangan dashyat dari Elena dan Louis membuat para goblin kewalahan sampai yang lainnya berlari ke dalam gua, tentu saja Elena bersama Louis mengejar mereka dan menyerang tanpa ampun. Mereka merusak bagian dalam gua hingga getaran akibat serangan mereka sampai ke bagian gua paling dalam tempat pemimpin goblin itu bersarang.
Penyerangan dashyat juga terjadi di sisi Carlos dan Liana, di sana mereka juga jauh lebih unggul dari para goblin.
*****
"Alma bosan," ucap Alma duduk menopang dagunya di atas meja. Ia ingin segera mencari Elena sayangnya ia tidak bisa merasakan keberadaan kekuatan gelap di mana pun.
"Aurel, Alma mau belanja ke kota. Ayo tunjukan jalan," ajak Alma pada Aurel.
Hutan tengkorak berjarak 3 hari perjalanan dari ibu kota, dan berkat Alma yang memiliki sihir teleportasi sampai bisa berpindah-pindah tempat dalam sekejab. Mereka berdua sampai di pasar ibu kota dalam waktu 5 menit saja.
Alma tidak terlalu suka dunia manusia, dia benci dengan bau manusia apalagi jika ada kerumunan manusia di sekitarnya. Hanya saja setelah melihat banyak barang-barang bagus, dan makanan enak di pasar itu Alma jadi tidak bisa tidak jalan-jalan walau pun dikelilingi banyak manusia.
"Alma mencium bau asin yang enak." Alma mengikut bau enak yang berasal dari kios yang menjual macam-macam asinan termasuk asinan cumi.
"Berikan ini satu bung … aduh!" Alma meringis kesakitan saat ada yang menabraknya.
"Berdirilah yang benar nona, jalan pasar ini milik semua orang bukan hanya diri mu saja," tegur Sonia yang kesal tanpa rasa bersalah padahal dialah yang berjalan tidak benar.
"Bodoh. Kau yang menabrak Alma lalu kenapa kau yang marah? Alma tidak suka pada mu, ayo minta maaf!" perintah Alma yang tidak mau mengalah.
"Sial! berani sekali kau bersikap sombong pada ku, apa kau tahu aku siapa? aku bisa membuat mu kembali menyisakan nama saja ke rumah mu, ku peringatkan kau jangan coba-coba mencari masalah dengan ku."
"Orang yang berani mengancam Alma hanya punya satu pilihan, yaitu mati. Alma tidak mau merusak hari bahagia ini jadi cepat minta maaf atau kau akan berakhir menjadi abu," ancam Alma mengeluarkan aura kekuatan gelapnya untuk menekan Sonia.
"Kekuatan besar macam apa ini?" batin Sonia merasa sesak.
"Wanita ini adalah gadis beracun yang di penuhi banyak kebencian. Alma suka dia," batin Alma melepaskan tekanannya.
Ia meraih tangan Sonia dan berkata, "Jadilah teman Alma. Alma akan membantu mu melakukan apa pun, percayalah manusia."
"Aku sebenarnya tidak percaya namanya teman karena aku punya seorang teman yang mengkhianati ku, dia berusaha merebut calon suami ku. Aku benar-benar sudah hancur karena dia," jawab Sonia meneteskan air mata palsu, "Aku pergi dari rumah dengan perasaan kesal sampai melampiaskannya pada mu, maafkan aku."
"Benarkah? kalau begitu bagaimana jika kita balas dendam pada teman mu yang jahat itu? Alma tidak suka teman pengkhianat, Alma akan menjadi teman yang baik untuk mu. Kau mau kan?" tanya Alma, Sonia mengangguk lalu ia menceritakan semua kebenciannya tentang Elena pada Alma.
"Kau tidak bisa melawannya karena dia seorang pemanggil sekaligus bangsawan. Maka Alma akan mengajari mu cara menjadi kuat lalu kita akan membalas teman mu itu, dengan begitu hidup Alma tidak membosankan lagi. Ayo pergi ke rumah Alma," ajak Alma. Walau pun sedikit curiga dengan itu Sonia tetap menurut, saat ini ia butuh tempat bersembunyi agar Ernest tidak mudah menemukannya.
Sonia melarikan diri pertama karena tidak di ajak pulang oleh Sarah, kedua agar Ernest mencari sampai lupa tentang Elena. Ia akan kembali setelah membuat racun dengan kekuatan Alma.
"Manusia bekerja sama dengan iblis. Sepertinya manusia itu akan sangat kuat, kalau begitu aku harus ganti avatar," batin dewi racun mengawasi Sonia.
*****
Disisi lain pada waktu yang sama Louis berjuang melawan pemimpin goblin, sedangkan Elena mencari harta yang bisa mereka bawa pulang karena harta ini mungkin hasil curian para goblin.
"Kotak apa ini?" batin Elena menemukan kotak kecil yang di tengahnya ada permata safir.
"Kerasnya." Elena berusaha sekuat tenaga membuka kotak tersebut.
"Ish, sakit." Jari Elena tergores pada pinggiran kotak yang kasar sampai berdarah, darah itu tidak sengaja menetes pada permatanya hingga membuat cahaya berwarna biru muncul dan menelan Elena.
"Elena," teriak Louis saat cahaya itu menelan Elena.
Louis ingin menolong Elena. Namun waktunya tidak tepat karena pemimpin goblin ini tidak memberinya kesempatan untuk pergi, semuanya semakin sulit saat familiar Elena semuanya menghilang.
"Sial!" Louis tidak bisa menggunakan kekuatannya dalam gua ini, sebab jika petir menyambar maka gua ini bisa saja hancur. Sementara dirinya masih harus menyelamatkan Elena yang di bawah pergi oleh cahaya asing itu.
Bugh!
Akhirnya pemimpin para goblin itu tumbang, Louis hanya memiliki sedikit sisa tenaga di dalam di tubuhnya. Tapi ia tidak punya waktu untuk istirahat, ia pergi ke tempat Elena tadi lalu memeriksa jika ada jejak yang tertinggal di sana. Sayangnya selain tetesan darah Elena di tanah, ia tidak menemukan jejak apa pun lagi. Louis tidak tahu jika Elena sempat memegang kotak permata safir itu sebelum menghilang, ia malah langsung bergegas keluar dari dalam gua untuk mengirim sinyal lokasi pada Carlos dan Liana.
Melihat sinyal kembang api itu Carlos dan Liana yang sudah selesai dengan pembantaian langsung terbang menggunakan kekuatan angin Carlos menuju lokasi sinyal itu berasal, mereka terkejut karena pengirim sinyai itu ternyata adalah Louis.
*****
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘