The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 64 Tiada hari tanpa rencana.



Alma menghirup udara segar di tengah padang rumput, setelah mengelabui Raja Iblis dan Blake akhirnya Alma bisa keluar dari dunia bawah untuk mencari Elena.


Portal dari Kerajaan iblis membawa Alma ke tengah hutan tengkorak, hutan ini adalah hutan terlarang bagi manusia karena banyaknya monster dengan kekuatan iblis dalam hutan ini. Manusia yang masuk ke sini tidak akan bisa keluar jika dirinya tidak cukup kuat.


"Salam nona, saya adalah Aurel putri dari ras lamia. Monster ular putih, saya akan membantu anda menemukan apa yang anda cari," ucap Aurel, dia sudah menunggu Alma datang sejak 3 hari yang lalu.


"Baiklah. Kalau begitu bawa Alma ke kediaman mu, Alma butuh mandi sebelum berpergian," jawab Alma. Aurel dengan senang hati membawa Alma ke dalam gua tempat dia tinggal.


*****


Ernest kembali ke ibukota begitu menerima surat dari Riko jika Sonia jatuh dari tangga. Ia kembali menggunakan portal teleportasi dengan bantuan ketua guild, karena bantuan igu ia bisa tiba lebih cepat di rumah sakit.


Saat Ernest sampai di sana dia tidak langsung masuk ke dalam ruangan tempat Sonia terbaring, ia hanya melihat Sonia yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi dari celah pintu.


"Duke, anda baik?" tanya Riko menyentuh pundak Ernest.


Ernest menepis tangan Riko dari pundaknya, "Aku percaya kau akan menjaganya dengan baik. Lalu kenapa ini bisa terjadi? bagaimama Sonia bisa menghadapi sakitnya kehilangan anak yang bahkan belum sempat melihat dunia. Dia pasti sangat terluka."


"Sebenarnya saat itu saya tidak ada di kediaman. Saya sedang mengurus surat izin keluar kekaisaran dengan kapal terbang, takutnya nona tidak kuat jika lewat laut. Saya juga baru saja tiba beberapa saat lalu di sini, kata pelayan saat kejadian itu nyonya besar memegang tangan nona. Tapi entah kenapa nyonya besar melepaskan tangan nona sampai nona jatuh, bukan hanya satu pelayan saja ada banyak pelayan berkata demikian," jelas Riko membuat Ernest yakin ini semua memang rencana sang ibu.


Ia pun bergegas menemui sang ibu yang sedang berada di ruang peracikan ramuan, para ahli ramuan sedang meracik ramuan untuk menghilangkan rasa sakit pada perut Sonia. Sebelumnya mereka sudah mengeluarkan janin dalam perut Sonia dengan kekuatan mereka agar rasa sakitnya tidak terasa, pendarahan sudah mereka tangani. Bahkan luka robek pada kepala Sonia juga sudah sembuh seolah tidak pernah terluka. Itu semua mereka lakukan atas perintah Jovanka.


"Ibunda," panggil Ernest dari pintu masuk, Jovanka pun langsung keluar untuk menemui putranya.


"Ada apa? kau sudah menemui Sonia?" tanya Jovanka. Tapi tidak di jawab, Ernest tidak mau bicara dengan Jovanka sayangnya ia harus bicara.


"Apa yang terjadi semua sudah aku dengar dari pelayan. Saat itu terjadi ibu memegang tangan Sonia sayangnya ibu lepaskan genggaman ibu, apa ibu sengaja? dari awal ibu tahu kabar ini, ibu tidak suka. Apa yang terjadi adalah bagian dari rencana ibu kan?" Ernest mengeluarkan semua kecurigaan dalam hatinya.


"Ibu akui ibu tidak suka saat tahu dia hamil. Tapi rasa tidak suka ibu bukan pada anak itu, melainkan wanita yang mengandungnya. Wanita itu akan menggunakan anaknya sebagai alat untuk mengendalikan mu. Dan perlu ibu ingatkan satu hal pada mu, ibu tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan pada ibu."


"Lalu  apa ibu akan katakan pada ku jika Sonia sengaja melepaskan tangan ibu. Kalau iya kenapa? dia yang akan terluka, dia juga akan merasakan sakit. Jadi apa untungnya dia melakukan itu?"


"Kenapa kau tidak percaya pada ibu? anak itu adalah cucu ku, darah daging putra ku. Aku mana tega melenyapkan dia sekali pun dia adalah anak haram, ibu memegang tangannya sangat erat dan dia melepaskan diri. Kenapa dan untuk apa ibu tidak tahu bahkan tidak mau tahu."


Jovanka tidak mau mengatakan apa pun lagi, ia tahu saat ini hati Ernest sangat terluka. Jovankan bukannya berpikir untuk memenangkan hati Ernest, ia malah berpikir untuk mencari ide agar keputusan Ernest tentang mengirimnya pergi akan berubah.


Ernest merasa apa yang dia katakan pada sang ibu tidaklah salah, selama ini ia selalu patuh. Namun untuk masalah ini tidak lagi, ia tidak akan percaya pada ibu atau pun patuh padanya. 


Ceklek!


Ernest masuk ke dalam ruang rawat Sonia, tatapan keduanya bertemu sayangnya Sonia langsung mengalihkan pandangan.


Ernest mendekat ke ranjang dan berlutut, "Maafkan aku karena datang terlambat."


"Aku tidak marah atau menyalahkan mu. Mau bagaimana lagi kau pergi karena aku yang ingin, jadi ini semua salah ku. Hanya saja aku berpikir, apa sumpah mu pada ku atas nama anak kita itu palsu sampai kita harus kehilangan dia."


"Apa? kenapa kau mengatakan hal seperti itu?"


"Aku bisa apa. Saat jatuh itu seharusnya aku bisa selamat karena ibu memegang tangan ku. Tapi entah kenapa pegangannya  menjadi longgar lalu aku jatuh, aku berpikir aku jatuh mungkin saja karena dalam sumpah mu ada keraguan sampai itu terjadi. Aku bahagia karena hanya dalam waktu dekat aku akan punya anak, anak dari pria yang ku cintai untuk sesaat itu semua terasa sangat indah."


"Sonia. Aku bersumpah atas nama ku dari awal aku tahu kabar ini sampai sekarang tidak keraguan dalam hati ku untuk anak kita, percayalah."


"Sumpah yang begitu mudah untuk di ucapkan aku tidak percaya lagi. Selama ini semua yang aku lakukan selalu saja untuk mu demi kau, sekarang tidak lagi. Ernest aku mau mengakhiri hubungan kita, berurusan dengan ibu atau kau sama saja. Aku tidak kuat lagi."


Ernest berdiri seraya merangkul Sonia dari samping, "Jangan lagi. Aku tidak mau. Kita akan hidup bahagia setelah menikah, masalah ibu jangan kau pikirkan lagi karena ibu akan ku kirim ke Kota Pengasingan. Ku mohon jangan tinggalkan aku."


"Aku membuat rencana ini untuk melepaskan diri dari Ernest. Tapi sepertinya rencana ku akan berubah, jika aku menjadi duchess lalu mengendalikan Ernest maka aku sudah sepenuhnya menang dari Elena. Menjadi murid menara tidak terlalu bagus karena persaingan di sana lumayan ketat, jadi lupakan saja tentang itu. Aku tidak akan menduga kematian bayi itu bisa membawa keberuntungan sangat besar, kelak aku akan menjadi ratu sosialita yang siapa saja harus segan pada ku. Elena akan pergi lagi ke menara sampai butuh waktu lama untuk keluar dari sana, untuk itu aku akan menjatuhkan posisi keluarganya. Dan lihat bagaimana dia bisa mempertahankan posisinya sebagai tunangan pangeran," batin Sonia menyusun kembali rencana masa depannya.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘