The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 72 Kau harus bertindak sepertinya.



Roan dan Aric mengatakan pada Aizen detik-detik hilangnya Elena, mereka mengaku salah karena telah membawa Elena berkeliling tanpa izin dari Aizen. Namun Aizen menenangkan mereka, ia mengatakan ini bukan salah mereka karena memang sudah waktunya Elena kembali.


"Apa kau tidak sedih?" tanya Amelia pada Aizen, Aizen hanya menggeleng.


"Tapi kenapa? setelah sekian lama kau menanggung semua kerinduan itu, kau tidak sedih berpisah dengannya padahal baru saja bertemu," lanjut Amelia. Aizen tersenyum karena Amelia malah bersedih untuknya.


"Tunggu setelah formalitas pelepasan masa pemerintah ku selesai, kita akan pergi menemui nona kecil itu. Kau mau kan?" tanya Aizen membuat raut wajah Amelia kembali berseri.


"Tapi, kenapa nona kecil itu menghilang?" 


"Sepertinya dia di bawa oleh batu safir malam ke tempat ini. Kau tau batu safir malam di gunakan oleh ras elf ratusan tahun lalu jika mereka ingin pergi keluar desa, dan jika mereka tertangkap oleh manusia mereka cukup mengingat rumah mereka. Lalu saat matahari tenggelam kekuatan batu safir malam akan hilang, kemudian batu itu akan membawa siapa saja orang yang menggunakan kekuatannya untuk pergi ke suatu tempat akan kembali ke tempatnya semula. Hal yang sama terjadi pada nona kecil itu."


"Bukankah ras elf sulit di temukan. Lalu bagaimana batu safir malam bisa ada di tangan nona kecil itu?"


"Entahlah. Dia adalah keturunan Rani, wanita yang sulit di tebak."


"Aku sangat menantikan pertemuan kita dengannya," ucap Amelia memeluk Aizen dari samping.


*****


Bugh!


Elena tersandung pada kotak batu safir malam saat cahaya itu mengeluarkannya. Ia terkejut karena di bawa kembali ke dalam gua tempat dia dan Louis berburu.


"Aku akan membawa barang ini," batin Elena menyimpan kotak itu pada saku bajunya.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki berlari masuk ke dalam gua, lalu muncullah Louis dengan wajah pucat dan mata yang memerah.


"Ada apa dengan wajah mu? apa kau … eh!" Elena tidak sempat menghindar karena mendadak Louis langsung memeluknya.


"Syukurlah syukurlah kau kembali, aku sangat takut. Rasanya sangat menakutkan, tolong jangan pergi tanpa mengatakan apa pun," bisik Louis sesenggukan. Elena merasa air mata Louis telah membasahi pundaknya.


"Kenapa kau masih ada di sini? apa kau menunggu?" tanya Elena penasaran.


"Bagaimana aku bisa pergi saat kau menghilang tepat di depan mata ku sementara aku tidak bisa melakukan apa pun, aku merasa sangat buruk setelah kau menghilang. Padahal kau berada sangat dekat dengan ku. Tapi aku tidak bisa menjaga mu dengan baik, dulu atau sekarang aku selalu gagal. Aku pria yang gagal," jawab Louis meracau tidak jelas, Elena ingin memarahinya dan mengatakan ini bukan salahnya. Tapi Elena tidak bisa, pria yang sekarang ada dalam pelukannya sedang bersedih karena salahnya.


"Bagaimana jika aku tidak kembali selama puluhan tahun, apa kau akan tetap menunggu?" 


"Bodoh! tentu saja itu sudah pasti. Aku sudah menunggu mu selama 3 kehidupan, maka menunggu selama puluhan tahun tidaklah sulit. Aku akan terus menunggu karena pria lemah seperti ku hanya bisa menunggu," batin Louis, ia ingin sekali berkata seperti itu.


"Sudah sudah kendalikan diri mu." Elena menepuk pundak Louis karena isak tangisnya semakin menjadi.


Setelah ia puas menangis Elena mengajaknya pulang, mereka keluar dari hutan sambil berpegangan tangan karena Louis tidak bisa melihat dengan jelas. Setelah menangis cukup lama  sampai matanya membengkak dan sulit untuk di buka.


Kembalinya Elena ke Kediaman Abraham menghilangkan rasa khawatir Liliana, dan membuat Carlos serta Austin merasa lega sebab malam ini mereka tidak akan tidur di luar. Louis juga akan menginap di Kediaman Abraham, Elena takut ia kembali dalam keadaan seperti itu.


"Buka mulut mu," pinta Elena. Ia menyuapi Louis untuk makan malam.


"Aku tidak bisa melihat sendoknya. Di mana sendoknya?" tanya Louis, semuanya terlihat buram.


"Aku tidak enak pada mu, biar aku makan sendiri saja. Kau pasti lelah sekarang."


"Louis, kau mau makan dengan patuh atau aku harus menggunakan kekerasan pada mu. Katakan!"


"Hahaha. Maaf merepotkan Elena." Louis seketika merinding mendengar ancaman Elena, ia lebih memilih makan dengan tenang.


*****


Raja para dewa yakni Alfred memandang rendah tahanan yang di bawa oleh Grace ke kediamannya, ia sangat kesal karena wanita ini sama sekali tidak mirip Rani.


"Apa ini?" Alfred mencengkram dagu wanita itu lalu melepaskannya dengan kasar, "Ini wajah kotor dari penguasa monster itu. 


"Anda siapa? kenapa wajah saya kotor?" tanya wanita itu pada Alfred.


"Pelayan," panggil Alfred, para pelayan pun datang. "Bawa wanita ini pergi ke kamarnya. Bersihkan dia, dia sangat kotor."


"Baik." Para pelayan itu menarik wanita tanpa nama itu pergi ke kamarnya.


Sedangkan Alfred kembali ke ruang pribadinya, ia berusaha mengendalikan amarahnya setelah melihat putri penguasa monster dan Rani.


"Wajahnya tidak mirip Rani, sifat polosnya yang lebih mirip dengan kebodohan itu juga tidak mirip Rani, senyumannya tidak mirip Rani, tidak ada jejak Rani dari anak itu. Kenapa kau meninggalkan permata terakhir seburuk itu untuk ku? jawab aku Rani!" teriak Alfred menatap lukisan besar wajah Rani.


"Hahahaha." Alfred tertawa lalu ia mengelus wajah Rani dalam lukisan itu, "Tidak Rani, aku tidak marah pada mu jangan tersinggung dengan ucapan ku. Aku akan mendidik anak itu agar dia menjadi sama seperti mu, aku lupa walau pun tidak mirip. Tapi darah mu mengalir dalam tubuhnya, jika anak itu menikah dengan ku maka aku yakin putri kami yang akan lahir nanti pasti mirip dengan mu."


"Rani benar. Entah wanita iti mirip dengannya atau tidak, dia tetaah putri Rani. Pasti ada sosok Rani yang tersembunyi dalam diri anak itu. Ah … aku sangat menantikannya," batin Alfred tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Saat hari mulai gelap Alfred menunggu wanita itu di ruang makan, ia datang mengenakan pakaian yang indah dengan wajah cantik berbalut sedikit riasan wajah. Melihat wajahnya amarah Alfred kembali memuncak.


"Apa ini?" tanya Alfred pada wanita itu, karena dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan Alfred, wanita itu hanya diam saja.


Karena tidak ada jawaban Alfred berdiri dari tempat duduknya, ia membasahi sapu tangannya dengan air kemudian dia berjalan mendekati wanita itu.


"Rani tidak pernah memakai riasan, wajahnya cantik alami. Tapi kau sebagai putrinya malah bertindak seperti wanita licik dengan memakai riasan, kelak jangan pakai riasan lagi," bentak Alfred. Ia membersihkan riasan di wajah wanita itu dengan sapu tangannya yang sudah ia basahi dengan air.


Wanita itu ketakutan sampai meneteskan air mata, bukan ini yang dia harapkan setelah keluar dari penjara dewa angin. Ia ingin menikmati hidup dengan melihat dunia luar.


Setelah wajah wanita itu bersih barulah Alfred merasa puas, "Jadilah Rani dengan baik. Rani adalah gadis sederhana, dia tidak memakai pakaian mewah, atau pun riasan wajah. Kau harus seperti itu karena kau adalah putrinya, paham kan?"


Wanita itu mengangguk dengan patuh, barulah setelah itu mereka bisa makan malam dengan tenang. Alfred tidak marah lagi bahkan ia terlihat sangat bahagia.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘