The Second Chance To Change Destiny.

The Second Chance To Change Destiny.
Bab 83 Bukan putri Rani.



Dewi ramuan akhirnya sampai di taman yang akan membawanya menuju desa para peri, dari taman itu ia berjalan kaki masuk ke dalam taman sambil memegang dadanya sebab jantungnya terus berdetak kencang menantikan seperti apa putri dari Rani.


"Wo-woah." Elena tidak berhenti terkagum melihat desa para peri, ada banyak jenis peri di dalam desa ini. 


Peri biasa bertubuh kecil sedangkan peri petarung bertubuh besar layaknya manusia. Tapi peri petarung tidak bisa terbang layaknya peri biasa, sedangkan peri biasa terbang ke sana ke mari di dekat kepala Elena dan Brunhilde.


"Selamat datang," sapa para penduduk desa peri petarung, di sana rumah mereka seperti rumah manusia pada umumnya.


"Aman. Makanannya tidak akan berukuran kecil," bisik Elena pada Brunhilde.


"Anda masih memikirkan itu?" tanya Brunhilde.


"Tentu saja, urusan perut itu harus diutamakan. Kalian harus mengerti kenikmatan dari sebuah makanan," jawab Elena menunjukan betapa petingnya makanan bagi dirinya memalui ekspersi wajahnya.


Teng teng teng ….


Lonceng desa berbunyi menandakan adanya tamu penting yang datang, Elena dan Brunhilde penasaran siapa tamu itu. Bunyi lonceng itu seolah menyihir semua peri untuk bergegas pergi ke pintu masuk desa, termasuk Elena dan Brunhilde.


"Itu …." Brunhilde terkejut melihat siapa yang datang.


"Salam untuk anda Dewi Ramuan, Teodora." Brunhilde bersama semua peri meletakan tangan kanan mereka di dada kiri lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Teodora. Kecuali, Elena karena tidak mengenal Teodora ia tetap berdiri tegak.


"Salam juga untuk … ka-kau …." Teodora tidak melanjutkan ucapannya, ia meneteskan air mata melihat Elena.


"Beri jalan!" teriak Toedora, para peri yang menghalangi jalannya langsung menepi. Teodora pun berlari dan menerjang Elena dengan pelukan hangat.


"Eh! apa anda baik-baik saja?" tanya Elena mengusap punggung Teodora saat pelukan dewi itu semakin erat.


"Aku yakin kau pasti putri Rani." Teodora melepaskan pelukannya lalu menyentuh kedua pipi Elena, "Wajah kalian sangat mirip, aku tahu hanya dalam sekali melihatnya."


"Aku tidak …."


"Tidak tidak tidak." Teodora menjauh sedikit dari Elena seraya mengusap air matanya, "Rani adalah avatar ku. Dia pernah berkata akan memberikan kekuatan avatarnya pada anaknya, saat itu dia sedang mengandung lalu dia meninggal membuat ku sangat sedih sampai mengurung diri dari dunia luar. Hari ini aku melihat kristal avatar ku bercahaya, aku pikir Rani masih hidup ternyata setelah aku lacak asal kekuatan avatar itu berasal dari mu. Kau pasti putrinya."


"Tidak, anda salah. Aku putri dari keluarga Abraham, gadis yang di cintai oleh angin. Elena Abraham," ucap Elena membuat Teodora mengernyitkan alisnya.


"Tidak mungkin aku salah. Kau putri Rani, aku yakin itu. Rani … pasti Rani." Teodora terlihat sangat sedih. Nafasnya menjadi sesak, ia perlahan mulai menjauh dari Elena.


"Dewi." Brunhilde mendekatinya, melihat Brunhilde Toedora langsung memeluknya dan kembali menangis.


"Apa mungkin Rani yang itu?"


"Aku rasa iya. Rani saat itu juga punya kekuatan penyembuh."


"Rani juga sangat nakal. Dia membodohi banyak orang bahkan makannya banyak."


"Jika dia ingat-ingat, mereka sangat mirip."


Para peri berbisik-bisik di samping Elena, mendengar itu Elena mulai merasa ada yang aneh. Ia penasaran siapa wanita bernama Rani.


*****


"Tuan, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Jolycia.


"Mengunjungi mu. Kenapa kau hanya di dalam kamar? bukan kah kau harusnya ada di pesta teh, ingat kau harus mempererat hubungan dengan para dewi lain agar mereka bisa menerima mu sebagai ratu mereka. Aku tidak mau menunda pernikahan kita lebih lama lagi."


"Apa anda benar-benar yakin akan menikahi saya? terlepas dari saya adalah putri wanita bernama Rani itu."


"Kau tidak punya hak untuk bertanya. Dan sebut nama Rani dengan benar, dia adalah ibu mu tunjukan rasa sopan mu."


"Apa anda tidak merasa bersalah pada ibu saya? anda mencintainya. Tapi dia menikah dengan pria lain, lalu anda malah ingin menikahi putrinya. Bukan kah anda seharusnya merasa malu pada ibu saya. Jika dia tahu dia pasti terluka."


Plak!


Alfred menampar Jolycia dengan keras sampai wanita malang itu tersungkur di lantai, "Kau, berani sekali kau padaku. Posisi mu sekarang adalah menjadi pengganti Rani, Rani tidak bisa aku miliki karena ayah mu. Seharusnya kau merasa terhormat karena aku menikahi mu, wanita yang di dalam tubuhnya terdapat darah kotor seperti dari penguasa monster. Lagi pula aku yakin Rani tidak akan marah, dia justru akan berterima kasih pada ku."


"Ini tidak benar. Ini bukan cinta namanya, jika anda mencintai ibu maka anda harus setia pada ibu. Tidak bisa anda menggantikan posisinya dengan wanita mana pun."


"Pelayan. Ambilkan cambuk," perintah Alfred tidak lama pelayan masuk sambil membawa cambuk.


Alfred mengambil cambuk itu lalu mencambuk Jolycia, "Beraninya kau pada ku. Karena aku terlalu memanjakan mu, mulut mu jadi tidak tahu sopan santun. Dasar anak monster!"


"Berapa lama lagi aku harus menahan ini. Elena datanglah secepatnya," batin Jolycia.


Sementara itu di sisi lain Elena mendadak bersin di hadapan semua orang, sekarang mereka sedang duduk dan makan bersama.


"Anda, berbaliklah jika mau bersin. Itu tidak sopan," ucap Brunhilde karena Elena bersin tepat di depan meja makan.


"Maafkan aku," balas Elena.


"Maafkan aku, nona. Aku pikir kau adalah putri Rani, sebenarnya aku sudah lama menunggu dia bahkan sangat merindukan dia. Mungkin saja kekuatan avatar ku itu tidak sengaja muncul pada mu, karena memang bakat alami dari dalam diri mu dan Rani melepaskan kekuatan avatar itu darinya setelah ia tiada dan muncul pada tubuh orang genius seperti mu. Tapi wajah kalian yang mirip cukup mengejutkan, setelah perang ratusan tahun lalu aku tidak tahu apa pun tentang kejadian di luar kediaman ku. Aku akan bertanya kepada para dewa di mana anak Rani, mungkin saja ada yang tahu," jelas Teodora.


"Tidak masalah. Semoga anda bisa bertemu dengan anak dari teman anda itu, yang berwajah mirip di dunia ada banyak jadi mungkin hanya kebetulan. Aku yakin aku bukan putri dari Rani itu karena foto saat aku masih bayi banyak di kediaman kami, dan kata ibu ku dia memang melahirkan aku bersama saudara ku," jawab Elena.


"Jadi, kenapa bisa kau ada di sini?"


"Sebenarnya aku di kirim dari menara ke mari melalui portal, aku adalah bintang agung pada posis kedua dan kami sedang melakukan ujian."


"Mana mungkin. Tidak ada portal yang bisa membawa mu ke desa para peri. Selain orang yang berasal dari dunia atas, orang lain tidak bisa masuk ke sini. Kecuali, jika salah satu peri membukakan pintu portal untuknya," jelas kepala desa para peri.


"Hah? apa aku tersesat lagi? kenapa ini selalu terjadi padaku." Elena frustrasi karena ini sudah yang ke sekian kalinya ia tersesat ke tempat-tempat aneh.


"Tenang saja. Kami akan mengirim mu pulang, tidak perlu cemas," ucap kepala desa peri membuat Elena bahagia. Ia berniat kembali ke menara setelah makan.


"Aku tahu dia memang putri Rani. Tapi kenapa bisa dia berada di kediaman Abraham? aku seperti harus menemui Damian," batin Toedora.


******


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘